Indef: Kenaikan belanja negara sebaiknya ke sektor pengungkit ekonomi

3 jam yang lalu 1
Seandainya masih bisa diubah, kenaikan target belanja tersebut sebaiknya ke sektor- sektor pengungkit ekonomi di daerah

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto menilai kenaikan target belanja negara sebesar Rp9,1 triliun dalam postur sementara Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 sebaiknya diarahkan pada sektor-sektor pengungkit ekonomi di daerah.

"Seandainya masih bisa diubah, kenaikan target belanja tersebut sebaiknya ke sektor- sektor pengungkit ekonomi di daerah (UMKM, industri, pariwisata, infrastruktur). Ini ditujukan agar efek pengganda ke perekonomian dari Rp9,1 triliun triliun lebih besar," ujar Eko saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, untuk menjadi stabilisator perekonomian, porsi belanja yang berdampak ke upaya membangkitkan ekonomi harus lebih dominan. Bagi Indonesia yang diperlukan saat ini adalah belanja yang dapat menciptakan lapangan kerja, melalui insentif industri manufaktur (menampung tenaga kerja formal), penguatan dan insentif UMKM (menampung tenaga kerja lulusan pendidikan dasar-menengah), serta infrastruktur konektivitas.

"Kenaikan ini kemungkinan lebih ditujukan untuk mengakomodasi usulan belanja dari Kementerian dan Lembaga, sehingga sifatnya lebih ke belanja yang langsung menjadi bagian dari konsumsi pemerintah," katanya.

Sebagai informasi, dalam rapat kerja pembahasan postur sementara RAPBN 2027 antara pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, target belanja negara dinaikkan dari sebelumnya Rp4.097,2 triliun menjadi Rp4.106,3 triliun, sehingga terdapat peningkatan sebesar Rp9,1 triliun.

Peningkatan target belanja negara tersebut hanya terjadi pada pos anggaran belanja pemerintah pusat dalam hal ini kementerian/lembaga (K/L), di mana belanja pemerintah pusat ditingkatkan dari sebelumnya Rp3.362,2 triliun menjadi Rp3.371,3. dengan belanja K/L dari sebelumnya Rp1.504,7 triliun menjadi Rp1.513,8 triliun.

Selain target belanja negara, proyeksi pendapatan negara dan hibah juga ditingkatkan sebesar Rp9,1 triliun dari sebelumnya Rp3.426 triliun menjadi Rp3.435,1 triliun.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 dapat mencapai 6 persen secara tahunan (year on year/yoy), sebagaimana dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2027.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan, target pertumbuhan ini lebih tinggi dari target APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen.

Pada 2027, pemerintah menargetkan belanja negara mencapai sebesar Rp4.097,2 triliun, naik dari Rp3.842,7 triliun pada APBN 2026. Di sisi lain, pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp3.426 triliun, naik dari Rp3.153,6 triliun pada APBN 2026.

Pembiayaan direncanakan sebesar Rp671,2 triliun dengan defisit sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menurun dari rencana pembiayaan pada APBN 2026 yang sebesar Rp689,1 triliun dengan defisit 2,68 persen PDB.

Baca juga: Menkeu: Kenaikan target belanja tidak termasuk tambahan anggaran K/L

Baca juga: Pemerintah dan DPR sepakati asumsi makro RAPBN 2027

Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya