REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nama Ilhan Omar kembali berada di pusat perhatian politik Amerika Serikat. Kali ini bukan karena pidatonya di Kongres atau perseteruannya dengan Presiden Donald Trump, melainkan setelah agen federal menggeledah rumahnya di Washington, D.C., hanya sekitar tiga pekan menjelang pemilu sela Amerika Serikat.
Unit Investigasi Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security Investigations/HSI) menjalankan surat perintah penggeledahan yang mendapat otorisasi pengadilan pada Senin (12/10/2026). Departemen Kehakiman AS menyatakan operasi tersebut merupakan bagian dari penyelidikan kriminal federal yang sedang berlangsung, tetapi belum mengumumkan secara terbuka dugaan pelanggaran yang menjadi dasar penyelidikan.
CBS News dan sejumlah media di Amerika, mengutip sumber-sumber yang mengetahui penyelidikan, melaporkan kasus tersebut berpusat pada dokumen imigrasi Omar. Dokumen yang diperiksa disebut berasal dari masa Omar masih anak-anak dan mencakup berkas yang diisi mendiang ayahnya.
Pemerintah AS belum mempublikasikan secara rinci objek penyelidikan maupun bukti yang digunakan untuk memperoleh surat perintah penggeledahan.
Sampai kini belum ada dakwaan pidana yang diumumkan terhadap Omar. Penggeledahan rumah juga tidak dengan sendirinya berarti anggota Kongres tersebut telah terbukti melakukan pelanggaran hukum.
Waktu operasi membuat kasus itu langsung mendapat perhatian politik. Pemilu sela Amerika Serikat akan berlangsung pada 3 November 2026, hanya 22 hari setelah penggeledahan rumah Omar.
Politisi Partai Demokrat tersebut kembali maju untuk mempertahankan kursinya dari Distrik Kongres ke-5 Minnesota. Dalam pemilihan pendahuluan pada Agustus, Omar memperoleh 80,7 persen suara.
Dalam pemilu November, Omar menghadapi kandidat Partai Republik John Nagel dan kandidat independen DeVelle L. Jackson. Distrik 5 Minnesota, yang mencakup Minneapolis dan sejumlah kawasan sekitarnya, selama ini dikenal sebagai basis kuat Partai Demokrat di negara bagian tersebut.
Di tengah sorotan penyelidikan federal itu, perjalanan hidup Ilhan Omar kembali menarik perhatian. Ia bukan lahir dari keluarga elite politik Amerika dan bukan pula tumbuh dalam lingkungan kekuasaan Washington.
Ilhan Abdullahi Omar lahir di Mogadishu, Somalia, pada 4 Oktober 1982. Ibunya meninggal ketika Omar masih berusia dua tahun dan ia kemudian dibesarkan oleh ayah serta kakeknya.
Ketika perang saudara Somalia pecah, Omar yang masih berusia sekitar delapan tahun meninggalkan negaranya bersama keluarga. Mereka kemudian tinggal sekitar empat tahun di kamp pengungsi di Kenya.
Pada 1995, keluarganya mendapat kesempatan datang ke Amerika Serikat. Mereka sempat tinggal di Virginia sebelum kemudian menetap di Minneapolis, Minnesota.
Omar menjadi warga negara Amerika Serikat melalui proses naturalisasi pada 2000 ketika berusia 17 tahun. Pengalaman sebagai pengungsi kemudian menjadi salah satu unsur yang membentuk identitas publik dan agenda politiknya.
Hubungan Omar dengan politik Amerika justru bermula melalui pengalaman yang sederhana. Ketika masih remaja, ia kerap menemani kakeknya menghadiri pertemuan Democratic-Farmer-Labor Party, afiliasi Partai Demokrat di Minnesota.

31 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·