Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup naik mengikuti penguatan bursa saham kawasan Asia dan global.
IHSG ditutup menguat 107,46 poin atau 1,68 persen ke posisi 6.501,59. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 11,27 poin atau 1,80 persen ke posisi 638,27.
"Bursa regional Asia menguat sejalan dengan penguatan bursa Wall Street, dimana pelaku pasar tampaknya mengesampingkan hasil rilis risalah The Fed yang mana banyak para pejabat The Fed mulai mendukung kenaikan tingkat suku bunga pada pertemuan bulan lalu," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Dari mancanegara, Nico mengatakan pelaku pasar cenderung fokus setelah turunnya imbal hasil obligasi pemerintahan Amerika Serikat (AS), yang mendorong pelaku pasar meningkatkan ke aset berisiko.
Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS menyusul pengumuman dari Departemen Keuangan AS yang meningkatkan pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang menjadi sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi mulai 9 September 2026, dari sebelumnya sebesar 2 miliar dolar AS.
"Rencana kebijakan ini meredakan kekhawatiran atas kenaikan biaya pinjaman yang telah sangat membebani pasar ekuitas global," ujar Nico.
Baca juga: BEI siap turunkan batas minimum harga saham jadi Rp1
Dari kawasan Asia, pelaku pasar fokus terhadap keputusan moneter Bank Sentral China, yang mempertahankan suku bunga acuan pinjamannya tidak berubah pada level terendah sepanjang masa.
Suku bunga pinjaman utama (LPR) satu tahun dipertahankan di level 3,0 persen, sementara LPR lima tahun tetap di level 3,5 persen.
Keputusan tersebut menyusul janji bank sentral untuk mempertahankan sikap moneter akomodatif, sementara ekspektasi terhadap langkah-langkah stimulus lebih lanjut diperkuat oleh data ekonomi Juli 2026 yang lemah dan seruan Perdana Menteri China, Li Qiang untuk mempercepat pergeseran menuju pendorong pertumbuhan baru.
Pelaku pasar saat ini menunggu pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional di Beijing pada 25-28 Agustus 2026, untuk sinyal kebijakan lebih lanjut.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·