IHSG diproyeksi konsolidasi, investor waspadai penutupan kuartal III

55 menit yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak konsolidasi pada perdagangan Rabu, seiring investor yang mewaspadai meningkatnya fluktuasi menjelang penutupan kuartal III 2026.

IHSG pada Rabu pagi, dibuka melemah 3,65 poin atau 0,06 persen ke posisi 6.118,04. Diikuti penurunan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 sebesar 1,32 poin atau 0,22 persen ke posisi 606,84.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim dalam analisanya di Jakarta, Rabu, menilai pelemahan IHSG dapat mereda seiring dengan berkurangnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Indeks juga sempat pulih dari level terendah hariannya dan membentuk long lower shadow.

“IHSG membentuk long lower shadow namun karena masih ditutup di area negatif sehingga belum menunjukkan konfirmasi reversal. Beberapa indikator lain juga belum menunjukkan terjadinya reversal,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan cenderung berkonsolidasi pada kisaran 6.050-6.200.

Investor juga perlu mewaspadai peningkatan fluktuasi karena perdagangan Rabu bertepatan dengan penutupan kuartal III 2026.

Dari sisi fundamental domestik, Ratna menjelaskan DPR telah menetapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 menjadi Undang-Undang pada Selasa (29/9).

APBN 2027 mempertahankan defisit fiskal sebesar Rp671,16 triliun atau setara 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara itu, target pendapatan negara dalam kesepakatan pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR ditetapkan sebesar Rp3.435,10 triliun, naik dari usulan awal sebesar Rp3.426,03 triliun.

Target belanja negara juga meningkat menjadi Rp4.106,26 triliun dari usulan awal sebesar Rp4.097,19 triliun.

“Postur APBN 2027 tersebut menunjukkan ekspansi fiskal yang relatif terjaga. Untuk kenaikan belanja terutama berasal dari belanja K/L, sedangkan transfer ke daerah dan target keseimbangan primer relatif tidak berubah,” jelas Ratna.

Ratna menambahkan, kebijakan fiskal itu diharapkan memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik, terutama melalui konsumsi dan investasi.

Meski demikian, ruang fiskal dan kebutuhan pembiayaan tetap perlu diperhatikan mengingat defisit APBN masih berada pada level 2,4 persen terhadap PDB.

Sejumlah alokasi utama dalam APBN 2027 antara lain anggaran pendidikan sebesar Rp824 triliun, perlindungan sosial Rp539,7 triliun, kesehatan Rp244,9 triliun, serta ketahanan pangan nasional Rp195,3 triliun.

Baca juga: BEI: Harga saham Rp1 tak berkontribusi signifikan ke koreksi IHSG

Baca juga: Waskita Beton lakukan langkah strategis penuhi sisa kewajiban CFADS

Baca juga: BEI sempurnakan ketentuan papan pemantauan khusus

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya