Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat berpotensi bergerak melemah seiring dengan aksi profit taking (ambil untung) pelaku pasar menjelang akhir pekan.
IHSG dibuka melemah 23,95 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.211,31. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 2,99 poin atau 0,36 persen ke posisi 834,90.
"Kombinasi risiko fiskal, sensitivitas terhadap headline rating, serta arus dana terkait rebalancing membuat pasar domestik lebih rentan terhadap profit-taking dibanding kawasan," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Dari dalam negeri, Liza menjelaskan pasar domestik masih tertekan oleh peringatan S&P Global Ratings yang menyoroti kenaikan beban bunga utang pemerintah yang "sangat mungkin" telah melampaui ambang 15 persen dari pendapatan negara, dan meningkatkan risiko aksi rating negatif.
Kekhawatiran pasar muncul bersamaan defisit APBN Januari 2026 yang tercatat Rp54,6 triliun, yang memicu kehati-hatian investor meskipun pemerintah berhasil menghimpun Rp50,8 triliun dari penerbitan global bonds dalam denominasi Euro dan Yuan offshore, dengan bid-to-cover 3,4 kali dan yield 4-5 persen, yang mencerminkan permintaan tetap solid.
Selain itu, Liza melanjutkan tekanan juga diperberat oleh faktor teknikal rebalancing MSCI yang berlaku efektif setelah penutupan 27 Februari 2026, dengan saham INDF keluar dari MSCI Global Standard dan masuk ke MSCI Small Cap, sementara saham ACES dan CLEO keluar dari Small Cap.
Adapun, review MSCI berikutnya dijadwalkan diumumkan 12 Mei 2026 dan efektif pada 1 Juni 2026.
Dari mancanegara, pasar global bergerak dalam kombinasi sentimen ketidakpastian kecerdasan buatan (AI), pergeseran ekspektasi suku bunga, dan risiko geopolitik, serta tarif.
Narasi AI kembali mencuat dengan pasar mempertanyakan kemampuan belanja modal (capex) besar di sektor AI dalam menghasilkan return sesuai ekspektasi, sementara standar kejutan positif bagi Nvidia dinilai sangat tinggi setelah kenaikan lebih dari 1.400 persen sejak Oktober 2022.
Dari sisi kebijakan moneter, Futures sepenuhnya telah mem-price-in pemangkasan 25 bps oleh bank sentral AS The Fed pada September 2026.
Dengan inflasi inti PCE AS sebesar 3 persen, jeda kebijakan moneter dinilai masuk akal, sementara calon Chairman The Fed Kevin Warsh belum tentu bersikap dovish.
Sementara itu, ketidakpastian kebijakan perdagangan turut membayangi pasar, setelah Mahkamah Agung (MA) AS mengubah kerangka hukum tarif. Di sisi lain, pemerintah AS tetap mengejar potensi tarif baru hingga 15 persen melalui jalur hukum alternatif.
Pada saat sama, pembicaraan teknis lanjutan AS dan Iran dijadwalkan di Vienna, Austria, pada pekan depan, dengan Presiden AS Donald Trump memperingatkan konsekuensi jika tidak ada kemajuan berarti.
Bursa saham AS di Wall Street mayoritas melemah pada Kamis (26/2/2026) kemarin, diantaranya Indeks S&P 500 melemah 0,54 persen ke 6.908,86, indeks Nasdaq melemah 1,16 persen ke 25.034,37, dan indeks Dow Jones menguat 0,03 persen ke 49.499,20.
Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain, indeks Nikkei melemah 226,39 poin atau 0,39 persen ke level 58.527,00, indeks Shanghai melemah 0,82 poin atau 0,02 persen ke 4.145,81, dan indeks Hang Seng menguat 69,98 poin atau 0,27 persen ke 26.451,00, dan indeks Straits Times melemah 2,04 poin atau 0,04 persen ke 4.962,34.
Baca juga: IHSG dibuka melemah 23,95 poin Jumat ini
Baca juga: BEI target investor syariah aktif bertambah 50.000 SID pada 2026
Baca juga: IHSG ditutup melemah seiring kekhawatiran kebijakan tarif AS
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·