Jakarta, NU Online
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu`ti mengungkapkan persoalan literasi masih menjadi tantangan besar dunia. Ia mengungkapkan data UNESCO yang menyebutkan empat dari 10 siswa di dunia belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca pada akhir jenjang sekolah dasar (SD).
"Angka ini bukan statistik belaka, ini adalah pengingat bagi kita bahwa masih banyak saudara kita belum mendapatkan akses terhadap hak dasar mereka (hak memahami dan berkembang)," ujarnya dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 yang ditayangkan secara daring melalui YouTube Kemendikdasmen, Selasa (8/9/2026).
Mu'ti mengatakan, peringatan Hari Aksara Internasional pada masa kini tidak lagi hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis.
"Literasi hari ini memiliki makna makin luas, tidak lagi hanya kemampuan membaca dan menulis. Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi digital dan AI, masyarakat dituntut mampu memahami informasi secara kritis," kata Mendikdasmen.
Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), teknologi digital, krisis lingkungan, serta perubahan sosial kemampuan ini harus dimiliki masyarakat.
"Literasi hari ini adalah tentang kemampuan memahami dunia, realitas sosial, lingkungan dan ekonomi serta melakukan tindakan untuk dunia lebih baik lagi," tuturnya.
Sementara itu, Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan tantangan literasi saat ini semakin luas. Menurutnya, masyarakat harus mampu memilah informasi yang benar dan menghindari informasi yang menyesatkan.
"Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan membaca kehidupan. Kita harus mampu membaca informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bijak,” kata Tatang.
Ia menilai keberhasilan literasi tidak cukup dilihat dari kemampuan seseorang membaca dan menulis. Literasi harus memberikan dampak nyata terhadap kemandirian, kepercayaan diri, dan kualitas kehidupan masyarakat.
"Mari jadikan September 2026 sebagai momentum, dari membaca menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli. Kemudian dari peduli menjadi bergerak, dan dari gerakan itulah lahir kesejahteraan,”ajaknya.

18 jam yang lalu
7



English (US) ·
Indonesian (ID) ·