Harga Minyak Langsung Turun Usai Pakistan Umumkan AS-Iran Capai Kesepakatan Damai

2 jam yang lalu 3

Foto udara menunjukkan sebuah kapal tanker di depot bahan bakar Aral di kilang minyak Ruhr Oel milik BP Gelsenkirchen GmbH di Gelsenkirchen, Jerman, 17 Maret 2026. Karena meningkatnya konflik di Timur Tengah, harga minyak mentah Brent, patokan internasional, melonjak melewati 100 dolar AS per barel.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Harga minyak turun pada awal pembukaan perdagangan di Asia pada Senin (15/6/2026), setelah Pakistan selaku mediator mengumumkan akhir dari perang Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kemudian segera disusul dibukanya Selat Hormuz oleh iran dan AS mencabut blokade maritim. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan acara penandatanganan MoU akan digelar pada Jumat (19/6/2026) di Genewa, Swiss.

Minyak brent, yang menjadi tolok ukur standar minyak global diperdagangkan 3,8 persen lebih rendah di angka 84,02 dolar AS per barel, sementara minyak yang diperdagangkan AS turun 4,1 persen ke angka 81,40 dolar AS per barel.

Tak lama setelah pengumumkan oleh PM Pakistan, Presiden AS Donald Trump lewat akun Truth Social juga mengatakan bahwa "minyak akan mengalir". Trump menjamin Selat Hormuz akan segera dibuka dan blokade maritim AS akan dicabut.

Pasar energi global mengalami volatilitas pada beberapa bulan terakhir selama konflik antara AS dan Iran. Harga minyak dunia kerap melonjak sebagai respons atas perkembangan perang kedua negara. Sebelum perang pecah pada 28 Februari, harga minyak brent berada di angka 70 dolar AS per barel dan pernah meroket hingga 120 dolar AS per barel pada masa perang.

Baca Artikel Selengkapnya