Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid menargetkan seluruh program di bidang yang dipimpinnya mulai berjalan paling lambat awal 2027.
Ia disebut bertanggung jawab membawahi dua lembaga, yakni Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) dan Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN). Program tersebut diarahkan untuk membuat NU lebih dikenal dan relevan bagi generasi muda, terutama Gen Z dan Gen Alpha.
Gus Ipang mengatakan masa persiapan akan dipadatkan agar program dapat segera dijalankan.
“Target terdekat adalah paling lambat awal tahun seluruh program sudah mulai berjalan. Dalam kurun waktu satu bulan ini, kami fokus menyusun roadmap, memetakan masalah, serta menyusun tim kerja. Kami menyiapkan sumber daya manusia dan finansial agar sebelum awal tahun program dapat berjalan dengan cepat. Kami juga menginventarisir pihak-pihak maupun korporasi yang siap berkontribusi,” kata Gus Ipang kepada NU Online, Rabu (7/10/2026).
Tiga Tujuan Program Kerja
Gus Ipang menjelaskan, seluruh program di bidangnya berpijak pada tiga tujuan utama. Pertama, membuat masyarakat mengenal, memahami, dan memercayai NU.
Kedua, sebagai organisasi Islam, NU berperan membantu masyarakat mengenal Allah dan ajaran Islam. Ketiga, mendorong sumber daya manusia santri dan pesantren agar naik kelas secara signifikan.
Ia menegaskan pendekatan dakwah tidak dapat dilakukan secara seragam, tetapi perlu disesuaikan dengan kelompok yang dituju, termasuk penggunaan bahasa dan istilah.
“Pendekatan dakwah bergantung pada target audiens. Jika targetnya Gen Z, kita harus berbicara dengan bahasa Gen Z. Mungkin istilahnya bukan dakwah, melainkan menebar kebaikan. Substansinya adalah kebaikan,” ujarnya.
Untuk menjangkau generasi muda, Gus Ipang menyebut salah satu caranya adalah melakukan pendekatan langsung dengan melibatkan sejumlah figur publik yang dekat dengan anak muda.
Ia mengaku telah mengajak beberapa tokoh untuk terlibat, meski bentuk keterlibatan masing-masing belum disampaikan. Menurutnya, pendekatan tersebut perlu dilakukan dengan cara yang berbeda dari pola yang selama ini dijalankan NU.
Ia mengatakan NU Online akan diposisikan sebagai medium atau jembatan yang menghubungkan program-program tersebut dengan masyarakat luas.
“Saya sudah mengajak beberapa rekan untuk terlibat, seperti Habib Jafar Husein, Atta Halilintar, Putra Siregar, Raffi Ahmad, Willy Salim, hingga Wirda Mansur. Caranya harus out of the box dan keluar dari pakem linier NU selama ini,” katanya.
Dakwah Berangkat dari Kebutuhan Audiens
Kepada anak muda dan pegiat media yang ingin berdakwah, Gus Ipang berpesan agar menebar kebaikan sebanyak mungkin dengan berbagai cara.
Ia meminta mereka membuat masyarakat tertarik dan dekat dengan NU melalui cara-cara yang disukai masyarakat. Menurutnya, perubahan zaman menuntut pegiat dakwah untuk menyesuaikan pendekatan, termasuk menggeser titik berangkat pesan dari apa yang ingin disampaikan menjadi apa yang dibutuhkan audiens.
“Kita harus berbicara bukan lagi tentang diri kita sendiri, melainkan tentang mereka dan permasalahan (problem) yang mereka hadapi, lalu di situlah kita menyuntikkan nilai-nilai dan ilmu yang kita miliki,” tuturnya.
Naikkan Kelas Santri dan Pesantren
Selain komunikasi dan pendekatan kepada generasi muda, Gus Ipang menilai kemampuan lulusan pesantren perlu diperluas agar mampu bersaing dengan lulusan sekolah umum.
Menurutnya, bekal ibadah telah melekat pada diri santri sehingga penguatan perlu diarahkan pada kemampuan lain di luar aspek tersebut.
Ia mengakui hal ini menjadi salah satu tantangan terberat dalam upaya menaikkan kelas santri dan pesantren. Meski demikian, ia optimistis target tersebut dapat dicapai dalam waktu lima tahun.
“Tantangan kita ke depan adalah bagaimana para santri paham ilmu akhirat sekaligus ilmu dunia. Soal ibadah itu sudah given dan melekat. Namun para santri juga harus adaptif dengan AI, paham agrobisnis, menjadi wirausahawan, penulis andal, hingga menguasai bisnis kuliner,” katanya.
Ia menegaskan lulusan pesantren tidak boleh dibatasi pada satu peran saja.
“Lulusan pesantren jangan hanya memiliki kemampuan sebagai juru doa saja, tetapi harus lebih dari itu. Ini tantangan terberat agar santri bisa bersaing dengan sekolah umum, dan saya rasa dalam 5 tahun ke depan hal ini bisa kita capai,” ucapnya.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, Gus Ipang mengaku mulai menghubungi jejaring yang dimilikinya. Ia mengatakan sejumlah perusahaan teknologi telah menyatakan ketertarikan untuk bekerja sama dengan PBNU.
“Saya sudah mulai mengontak network saya, tinggal dipetakan sasaran (goals), program, agenda berkala, serta timeline-nya,” pungkasnya.

1 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·