Kiai Muhammad Afifuddin Dimyathi, yang akrab dikenal dengan Gus Awis, merupakan salah satu ulama Indonesia kontemporer yang memiliki perhatian besar terhadap kajian tafsir Al-Qur’an.
Ia tumbuh dari lingkungan pesantren yang kuat, sebuah ruang keilmuan yang membentuk kedalaman pandangan, keluasan bacaan, sekaligus ketekunan dalam merawat tradisi intelektual Islam.
Kiai Muhammad Afifudin Dimyathi lahir di Jombang, 7 Mei 1979. Ayahnya adalah KH. Ahmad Dimyathi, pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum pada periode 2009-2016 sekaligus Mursyid Tariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah. Ibunya, Nyai Hj. Muflihah, adalah putri KH. Ahmad Marzuki Zahid, pengasuh Pondok Pesantren Langitan pada periode 1971-2000.
Pendidikan formal beliau dimulai dari MIN Rejoso pada tahun 1991, dilanjutkan ke MTs PK Darul Ulum pada tahun 1994, dan MA Keagamaan Negeri Jember pada tahun 1997. Setelah itu, beliau memperdalam hafalan Al-Qur’an di Sunan Pandanaran, Yogyakarta, hingga tahun 1998.
Perjalanan intelektualnya kemudian berlanjut ke Al-Azhar, Kairo, pada jenjang S1 di Fakultas Ushuluddin bidang Tafsir pada tahun 1998-2002. Setelah itu, beliau melanjutkan studi S2 di Khartoum International Institute for Arabic Language pada tahun 2002-2004, dan menempuh jenjang S3 di Neelain University.
Sekembalinya ke Indonesia, Kiai Afifuddin mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Beliau mengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya, Pascasarjana UIN Sunan Ampel, serta UIN Maulana Malik Ibrahim.
Pergulatan panjang dengan ilmu pengetahuan melahirkan banyak karya, sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab, antara lain: Al-Muḥadarah fi Ilm al-ljtima, Mawarid Al-Bayan fi 'Ulum al-Quran, Şafa' Al-Lisan fi I'rab al-Quran, Al-Syamil fi Balaghah Al-Quran, Jadawil Al-Fusul fi Ilm Al-Usul, Jam'al 'Abir fi Kutub al-Tafsir, dan Mukhtaşar Al-Lațif fi Ulum Al-Hadits Al-Syarif.
Dalam perjalanan intelektualnya, Kiai Afifuddin Dimyathi dikenal sebagai ulama yang mampu memadukan kekuatan tradisi keilmuan klasik pesantren dengan pendekatan analitis terhadap persoalan keislaman kontemporer. Ia tidak hanya membaca kitab-kitab tafsir klasik sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadikannya sebagai bekal untuk memahami dinamika umat Islam masa kini.
Salah satu perhatian Gus Awis tampak dalam respons beliau terhadap isu restorative justice atau keadilan restoratif. Keadilan restoratif merupakan pendekatan dalam penyelesaian perkara pidana melalui keterlibatan banyak pihak, seperti pelaku dan keluarganya, korban dan keluarganya, serta kelompok masyarakat terkait.
Pendekatan ini memiliki tujuan baik yang ingin dicapai bagi korban tindak pidana, bukan semata-mata bertumpu pada kebaikan dan kepentingan pelaku tindak pidana. (Prof. Dr. Hafrida, S.H., M.H. & Dr. Usman, S.H., M.H, Keadilan Restoratif Justice dalam sistem Peradilan Pidana, 2024, h. 1)
Dalam konteks ini, Gus Awis melalui jurnalnya mereinterpretasikan konsep ishlah dan diyat sebagai dasar teologis keadilan restorasi Islam, perdamaian, dan keadilan dalam Surah Al-Baqarah ayat 178-179. (Muhamad Afifuddin Dimyathi, "Tafsir Tarbawi of Restorative Justice in Quranic Jinayat Verses; Nahdlatul Ulama Perspective," Jurnal Nazhruna, Vol. 9, 2026).
Dari sini, dapat dilihat bahwa Kiai Afifuddin Dimyathi menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an secara utuh. Al-Qur’an tidak dapat dibaca secara parsial atau dilepaskan dari keseluruhan pesan wahyu.
Karena itu, pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an perlu dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan hubungan antarayat, latar turunnya ayat, serta tujuan umum syariat. Metode semacam ini menunjukkan adanya pengaruh kuat dari tradisi tafsir klasik sebagaimana berkembang dalam karya-karya ulama besar.
Salah satu karya penting beliau adalah Tafsir Hidayat Al-Quran fi Tafsir Al-Quran bi Al-Qur'an. Penamaan karya ini dipilih sebagai bentuk tabarruk kepada KH. Muhammad Mufid Mas'ud. Kitab tafsir ini menafsirkan Al-Qur’an secara lengkap 30 juz dalam empat jilid.
Coraknya bersifat bayani, dengan memanfaatkan hadits, atsar sahabat, pendapat tabi’in, kaidah bahasa Arab, serta ijtihad. (Istiwa dalam Tafsir Indonesia; Nun, Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir di Nusantara, 2025).
Dalam bangunan metodologi tafsirnya, Gus Awis juga menekankan bahwa hadits mesti ditempatkan sebagai penjelas terhadap ayat Al-Qur’an. Dalam kitabnya, beliau menyebutkan:
ولقد اهتم علماء الحديث لإبراز منزلة السنة المطهرة من القرآن الكريم. فبينوا أنها بمنزلته من حيث أنها وحي، ومن حيث أنها مصدر تشريعي يجب العمل بما فيها، وأنها تلي القرآن الكريم في المرتبة من حيث الاعتبار لأنها مبينة له
Artinya: “Para ulama hadis telah memberikan perhatian besar untuk menampakkan kedudukan Sunnah yang suci terhadap Al-Qur’an al-Karim. Mereka menjelaskan bahwa Sunnah memiliki kedudukan seperti Al-Qur’an dari sisi bahwa ia merupakan wahyu, dan dari sisi bahwa ia adalah sumber hukum syariat yang wajib diamalkan kandungannya. Selain itu, Sunnah berada setelah Al-Qur’an dalam urutan kedudukan dan kehormatan karena Sunnah berfungsi sebagai penjelas bagi Al-Qur’an.” (Majmaul Bahrain, fi Ahadis At Tafsir Min Sahihaini, [Kairo, Lisan Arabi, 2016], h. 7).
Dari pemahaman tersebut, Gus Awis kemudian menulis kitab tersendiri yang berkaitan dengan hadis-hadis tafsir. Kitab ini menjadi rujukan penting dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an melalui hadis-hadis yang sahih. Beliau menjelaskan:
ومن هنا، رأينا من الأوفق أن نفرد أحاديث التفسير الصحيحة في كتاب واحد، نجمع فيه ما تيسر لنا من المرويات الصحيحة من الصحيحين لتيسير الطلاب ودارسي القرآن في الرجوع إليها عند تفسير آيات القرآن وفهمها. ولما كان الهدف الرئيسي في هذا الكتاب هو تيسير الطلاب ودارسي القرآن فمنهجنا في ذلك أننا نتتبع من صحيح البخاري وصحيح مسلم الأحاديث والآثار ما يبين تفسير الآية أو يعين على فهمها
Artinya: “Dari sini, kami memandang lebih tepat untuk mengkhususkan hadis-hadis tafsir yang sahih dalam satu kitab tersendiri, yang kami kumpulkan di dalamnya riwayat-riwayat sahih yang mudah kami peroleh dari Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, agar memudahkan para pelajar dan pengkaji Al-Qur’an dalam merujuknya ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dan memahami maknanya." (Majmaul Bahrain, hlm. 6).
Perhatian Gus Awis terhadap Al-Qur’an tidak hanya tampak pada aspek riwayat dan metodologi, tetapi juga pada keindahan susunan bahasanya. Dalam kitab Ilmu Tafsir, Usul wa Manahijuhu, beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an adalah samudra ilmu yang tidak pernah habis untuk dikaji. Beliau menulis:
فالقرآن الكريم بحر لا يدرك غوره، ولا تنفد دُرَرُه، ولا تنقضي عجائبه، ولا تنتهي معارفه ولا تستقصى علومه كلما قرأه المسلم وتدبره ازداد شوقا إليه
Artinya: “Al-Qur'an adalah lautan yang tak terduga kedalamannya, tidak habis mutiaranya, tidak habis keajaibannya, tak habis ilmunya, dan tidak habis pengetahuannya. Setiap kali seorang Muslim membacanya dan merenungkannya, kerinduannya kepadanya semakin bertambah.”
Dari sini, Kiai Afifuddin menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menafsirkan Al-Qur’an. Menurutnya, seorang mufasir harus memiliki perangkat keilmuan yang lengkap, seperti ilmu bahasa Arab, Usul Fiqih, ilmu Hadits, dan pemahaman terhadap tradisi tafsir para ulama terdahulu. Tanpa landasan tersebut, penafsiran berpotensi keluar dari maksud syariat.
Karya tafsir beliau juga tidak dapat dipisahkan dari perhatian terhadap sejarah. Dalam kitab Mawarid Al-Bayan fi Ulumil Quran, (Kairo, Maktabah Lisanul Arabiy, 2020, hlm. 177), beliau menjelaskan tentang Kaum ‘Ad dan Iram:
والصحيح في تفسير الآية: أن المراد بعاد، إرم ذات العماد، قبيلة عاد المشهورة، التي كانت تسكن الأحقاف شمالي حضرموت، وهي عاد الأولى
Artinya: “Penafsiran yang benar dari ayat ini adalah bahwa 'Ad mengacu pada Iram al-Zaat al-Imad, yaitu suku 'Ad yang terkenal yang mendiami Al-Ahqaf di utara Hadramaut, yaitu 'Ad Al-Ula.”
Dalam kaitannya dengan sejarah, Gus Awis juga menegaskan pentingnya mempelajari sejarah tafsir. Sejarah tafsir tidak hanya berfungsi sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai cermin untuk memahami perkembangan pemikiran Islam dari masa ke masa. Beliau menyebutkan:
من الأهمية بمكان الاهتمام بتاريخ التفسير والحفاظ عليه، ونقله إلى الأجيال نقلا صحيحا، بحيث يكون نبراسا وهاديا للدارسين في تعاملهم بتفسير كتاب الله وذلك لأن التاريخ مرآة، يعكس ماضيه ويترجم حاضره ويستلهم من خلاله مستقبله
Artinya: “Sangat penting untuk memberi perhatian terhadap sejarah tafsir, menjaganya, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya dengan penyampaian yang benar, agar ia menjadi pelita dan petunjuk bagi para pelajar dalam berinteraksi dengan tafsir Kitab Allah. Hal itu karena sejarah merupakan cermin yang merefleksikan masa lalunya, menerjemahkan masa kini, dan darinya dapat diambil inspirasi untuk masa depan.” (Ilmu at-Tafsir, Usuluhu wa Manahijuhu, [Kairo: Darus Salih, 2018], hlm. 19).
Lebih dari itu, Gus Awis menjelaskan bahwa sejarah tafsir juga membantu kita mengetahui para mufasir yang hidup sezaman, mencatat peristiwa dan perkembangan yang melingkupi penafsiran Al-Qur’an, serta memahami tahapan-tahapan perubahan dalam manhaj, metode, dan gaya penafsiran.
Melalui pandangan tersebut, tampak bahwa Gus Awis tidak sekadar menghadirkan tafsir sebagai kajian teks, tetapi juga sebagai jalan untuk memahami kehidupan. Ia menegaskan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan pendekatan yang tetap berakar pada tradisi, namun mampu menjawab tantangan zaman. Konsekuensinya, petunjuk-petunjuk Al-Qur’an senantiasa hidup dan relevan dalam setiap ruang dan waktu.
Pada akhirnya, Kiai Afifuddin Dimyathi atau Gus Awis telah memberikan semangat baru bagi generasi muda muslim hari ini. Ia mengajarkan bahwa mengikuti perkembangan zaman tidak harus berarti meninggalkan warisan para guru. Justru dengan ilmu, adab, dan kesungguhan, warisan itu dapat dijaga, dikembangkan, dan dihidupkan kembali untuk menjawab kebutuhan umat.
Azmi Abubakar, Penyuluh Agama Islam Asal Aceh.

1 jam yang lalu
2





English (US) ·
Indonesian (ID) ·