Gubernur BI: Jaga rupiah ibarat seni saat pilih instrumen kebijakan

1 jam yang lalu 2
Kapan kita fokus pada satu tools yang saat ini ataupun instrumen yang satu, dan kapan kita fokus kepada langkah-langkah yang lain ataupun instrumen yang lain

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memandang upaya menjaga stabilitas rupiah merupakan sebuah seni dalam menentukan instrumen kebijakan yang digunakan sesuai kondisi pasar.

“Kapan kita fokus pada satu tools yang saat ini ataupun instrumen yang satu, dan kapan kita fokus kepada langkah-langkah yang lain ataupun instrumen yang lain,” kata Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa.

Destry menjelaskan, mandat BI tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga menciptakan iklim ekonomi yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.

Akan tetapi, kata dia, stabilitas juga menjadi pegangan utama karena iklim ekonomi yang kondusif tidak mungkin tercipta tanpa adanya stabilitas.

Untuk menjaga stabilitas tersebut, BI mempertimbangkan nilai fundamental rupiah sebagai salah satu acuan.

Namun, Destry mengingatkan bahwa pergerakan rupiah juga dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk sentimen pasar.

Dalam kondisi ketika pergerakan rupiah menyimpang dari fundamental akibat sentimen yang muncul secara tiba-tiba, BI melakukan intervensi untuk menyeimbangkan pergerakan nilai tukar agar tetap mencerminkan kondisi fundamentalnya.

Destry menambahkan, intervensi merupakan salah satu instrumen BI dalam menjaga stabilitas rupiah, di samping kebijakan suku bunga, penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta pengembangan insentif biaya lindung nilai (hedging) yang lebih terarah (targeted).

Berbagai instrumen tersebut dikombinasikan dan penggunaannya disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi. Oleh karena itu, BI tidak hanya mengandalkan satu instrumen dalam menjaga stabilitas rupiah.

“Jadi, kalau ditanya apakah BI akan terus menggunakan intervensi? Ya kita pasti juga akan tetap ada untuk menjaga stabilitas di pasar, baik itu melalui spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), atau Deliverable Forward (NDF). Dan sejauh ini kami masih melihat hasilnya cukup efektif,” kata Destry.

Berdasarkan catatan BI, nilai tukar rupiah sempat menguat hingga pertengahan September 2026, namun pada 2 November 2026 melemah -0,11 persen menjadi Rp18.145 per dolar AS dibandingkan dengan level pada akhir Oktober 2026.

BI menyampaikan bahwa pelemahan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter AS, serta sentimen investor global terhadap aset negara berkembang.

Aliran investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 mencatat net outflows sebesar 0,08 miliar dolar AS, terutama disebabkan outflows pada saham.

Pada awal triwulan IV 2026 (hingga 23 Oktober 2026), arus modal asing membaik dengan mencatat net inflows sebesar 0,04 miliar dolar AS, terutama didukung investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Dengan perkembangan tersebut, aliran investasi portofolio asing tercatat net inflows sebesar 13,23 miliar dolar AS sejak Januari hingga 23 Oktober 2026.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap kuat sebesar 146,3 miliar dolar AS.

Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Baca juga: BI: Inflow asing sejak awal 2026 hingga 23 Oktober 13,23 miliar dolar

Baca juga: BI: Berlanjutnya surplus neraca dagang di September topang eksternal

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya