Kesehatan mental (mental health) merupakan isu penting yang perlu mendapat perhatian serius. Kesehatan mental berkaitan erat dengan kemampuan seseorang untuk mengenali dirinya, mengelola emosi, membangun relasi yang sehat, serta menghadapi berbagai tekanan hidup secara wajar.
Menurut Zakiah Daradjat, seorang pakar psikologi Indonesia, kesehatan mental adalah keadaan ketika hidup seseorang berada dalam keseimbangan dan keharmonisan. Pikiran, perasaan, dan perilakunya dapat berjalan dengan baik sehingga ia mampu menghadapi masalah hidup tanpa mengalami kehancuran emosional. (Febry, A. I. H. (2021), "Mengenal Zakiah Daradjat dan Pemikirannya dalam Konsep Kesehatan Mental," Al-Musyrif: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 4(1), 60-83.
Di tengah kehidupan modern, kesehatan mental menjadi semakin relevan untuk dibahas. Tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, masalah ekonomi, konflik keluarga, penggunaan media sosial yang berlebihan, serta pengalaman traumatis dapat memengaruhi kondisi batin seseorang. Tidak sedikit orang mengalami kecemasan, depresi, kehilangan semangat, gangguan tidur, bahkan dorongan untuk menyakiti diri sendiri.
Dikutip dari laman World Health Organization (WHO), pada tahun 2021 hampir 1 dari setiap 7 orang di dunia, atau sekitar 1,1 miliar orang, hidup dengan gangguan mental. Data ini menunjukkan bahwa gangguan mental bukan persoalan kecil. Ia menjadi masalah serius yang perlu dipahami dengan pendekatan yang tepat, baik secara medis, psikologis, sosial, maupun spiritual.
Secara umum, gangguan mental dapat disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, faktor biologis atau gangguan mental organik, yaitu gangguan yang tidak semata-mata muncul dari pikiran atau tekanan sosial, tetapi juga berkaitan dengan kondisi fisik. Misalnya, gangguan fungsi sel saraf otak, infeksi, kekurangan nutrisi, atau faktor biologis lainnya.
Kedua, faktor psikologis, yaitu gangguan yang bersumber dari kondisi emosional, pengalaman hidup, cara berpikir, pola asuh, tekanan sosial, atau peristiwa traumatik seperti kekerasan, perundungan, pelecehan seksual, serta pengalaman menyakitkan lainnya.
Dalam khazanah Islam, perhatian terhadap kesehatan jiwa bukanlah hal yang baru. Syekh Abu Zayd al-Balkhi, seorang ilmuwan Muslim yang dikenal sebagai ahli geografi, matematika, kedokteran, dan psikologi, telah membahas persoalan jiwa dalam karyanya Mashalihul Abdan wal Anfus. Ia menjelaskan:
والأعراض النفسانية هي مثل الغضب والغم والخوف والجزع وما أشبهها. وهذه الأعراض النفسانية هي ألزم للإنسان، وأكثر اعتراءً له من الأعراض البدنية
Artinya: “Gangguan yang merusak jiwa atau mental ialah seperti marah, sedih, takut, cemas, dan semisalnya. Gangguan mental inilah yang sering melekat dan lebih banyak dialami oleh manusia dibandingkan gangguan fisik atau sakit badan,” (Abu Zayd al-Balkhi, Mashalihul Abdan wal Anfus, [Riyadh, King Faisal Center for Research and Islamic Studies: 1429 H], jilid I, hlm. 114).
Penjelasan ini menunjukkan bahwa para ulama dan ilmuwan Muslim sejak dahulu telah memahami bahwa manusia tidak hanya dapat sakit secara fisik, tetapi juga dapat terganggu secara batin. Marah, takut, cemas, sedih, gelisah, dan tekanan batin merupakan bagian dari pengalaman manusia yang perlu dikelola dengan baik.
Kehidupan manusia memang tidak pernah lepas dari masalah. Setiap orang pasti pernah mengalami kesedihan, kemarahan, kekecewaan, ketakutan, kecemasan, atau tekanan batin lainnya. Namun, tingkat kemampuan seseorang dalam mengelola emosi tentu berbeda-beda.
Sebagian orang mudah marah, sebagian lagi lebih sabar. Ada orang yang cepat panik, ada pula yang lebih tenang. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kondisi mental, pengalaman hidup, lingkungan, pola pikir, dan watak dasar masing-masing.
Dari sini dapat dipahami bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memberi perhatian besar pada kesehatan jiwa dan ketenangan batin manusia. Islam hadir sebagai agama yang membimbing manusia agar mampu menghadapi hidup dengan iman, akal sehat, dan akhlak yang baik.
Namun, penting ditegaskan bahwa solusi keagamaan tidak boleh dipahami sebagai pengganti mutlak bagi bantuan medis atau psikologis. Jika seseorang mengalami depresi berat, dorongan bunuh diri, trauma mendalam, atau perilaku menyakiti diri sendiri, maka ia perlu segera mencari pertolongan dari tenaga profesional, keluarga, dan lingkungan yang aman.
Pendekatan spiritual justru seharusnya berjalan seiring dengan ikhtiar medis dan psikologis. Berikut ini beberapa solusi dari perspektif Islam untuk menjaga dan merawat kesehatan mental.
1. Membangun Jiwa yang Thuma’ninah dan Menguatkan Hubungan dengan Allah
Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, persaingan, dan masalah yang kompleks, manusia sering mengalami kegelisahan, kecemasan, dan kehilangan arah. Karena itu, Islam mengajarkan pentingnya membangun jiwa yang thuma’ninah, yaitu jiwa yang tenang, damai, dan tenteram.
Allah berfirman dalam surah Ar-Ra‘d ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
Ayat ini menjelaskan bahwa zikir kepada Allah dapat menjadi sumber ketenangan hati. Orang yang selalu mengingat Allah akan memiliki pegangan batin yang kokoh. Sebaliknya, hati yang jauh dari zikir, mahabbah, dan kesadaran akan kehadiran Allah lebih mudah dipenuhi kegelisahan, kecemasan, dan kekosongan batin.
Namun, zikir tidak boleh dipahami hanya sebagai ibadah lisan. Zikir juga berarti menghadirkan Allah dalam kesadaran hidup, memperbaiki niat, menata hati, dan mengembalikan segala persoalan kepada-Nya. Zikir dapat menjadi sarana penyucian diri sekaligus terapi spiritual yang menenangkan batin di tengah tekanan hidup.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menggambarkan besarnya pengaruh cinta kepada Allah terhadap ketenangan batin seseorang:
ومهما غلب عليه الحب والأنس صارت الخلوة والمناجاة قرة عينه يدفع بها جميع الهموم بل يستغرق الأنس والحب قلبه حتى لا يفهم أمور الدنيا ما لم تكرر على سمعه مرارًا مثل العاشق الولهان فإنه يكلم الناس بلسانه وأنسه في الباطن بذكر حبيبه فالمحب من لا يطمئن إلا بمحبوبه
Artinya: “Apabila rasa cinta dan kedekatan kepada Allah telah menguasai hatinya, maka khalwat dan munajat menjadi penyejuk matanya. Dengan itu, ia mampu menghilangkan berbagai kegelisahan.
Bahkan rasa cinta dan kedekatan itu memenuhi hatinya hingga ia tidak lagi memahami urusan dunia kecuali setelah diulang berkali-kali di telinganya. Ia seperti seorang pencinta yang dimabuk asmara; lisannya berbicara dengan manusia, tetapi batinnya tenggelam dalam mengingat kekasihnya.
Maka, 'Pecinta sejati adalah orang yang tidak merasa tenang kecuali bersama yang dicintainya',” (Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Ma’rifah: tt], jilid IV, hlm. 333).
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa jiwa yang thuma’ninah, hati yang dipenuhi mahabbah, dan kebiasaan mengingat Allah dapat membantu seseorang memperoleh ketenangan batin.
Sebab, manusia pada hakikatnya tidak pernah lepas dari ujian dan masalah. Akan tetapi, iman membantu seseorang melihat masalah secara lebih jernih: bahwa setiap ujian memiliki hikmah, setiap kesulitan memiliki jalan keluar, dan setiap hamba tidak pernah ditinggalkan oleh Allah.
Dengan demikian, membangun kedekatan dengan Allah menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental. Shalat, zikir, doa, membaca Al-Qur’an, munajat, dan tafakur dapat membantu seseorang memperkuat batin. Akan tetapi, ketika beban mental sudah terasa sangat berat, ikhtiar spiritual ini tetap perlu disertai dukungan dari keluarga, lingkungan, serta bantuan profesional.
2. Membangun Lingkungan dan Circle yang Positif
Selain faktor spiritual, kesehatan mental juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Dengan siapa seseorang bergaul, bagaimana ia diperlakukan, dan seperti apa suasana relasi yang ia jalani, semuanya dapat berdampak pada kondisi batinnya.
Pada masa sekarang, masyarakat sering menggunakan istilah toxic relationship untuk menyebut hubungan yang merusak secara emosional. Ada pula pembahasan mengenai gangguan kepribadian seperti Borderline Personality Disorder atau BPD, yaitu gangguan mental serius yang dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri, orang lain, serta hubungan sosialnya.
Orang yang mengalami gangguan kepribadian atau ketidakstabilan emosi sering kali menghadapi perubahan suasana hati yang ekstrem, ketakutan akan ditinggalkan, kemarahan yang sulit dikendalikan, atau pola relasi yang melelahkan.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua orang yang emosional atau sulit dihadapi harus langsung diberi label mengalami gangguan mental. Istilah psikologis sebaiknya digunakan dengan hati-hati, karena diagnosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga profesional.
Lantas, bagaimana Islam memandang persoalan lingkungan dan relasi sosial?
Di satu sisi, Islam adalah agama yang sangat menekankan kepedulian, solidaritas, dan saling menguatkan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا). وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
Artinya: “Dari Abu Musa al-Asy‘ari, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan; sebagian bagiannya menguatkan bagian yang lain.” (HR. Bukhari)
Hadits ini mengajarkan bahwa sesama mukmin seharusnya saling menopang, bukan saling melukai. Relasi yang sehat adalah relasi yang menghadirkan kekuatan, ketenangan, dan dukungan moral. Sebaliknya, relasi yang terus-menerus dipenuhi manipulasi, kekerasan, penghinaan, dan tekanan batin dapat merusak kesehatan mental seseorang.
Karena itu, berbuat baik tidak berarti membiarkan diri menjadi korban dalam hubungan yang merusak. Islam menghargai pentingnya menjaga batas diri yang sehat demi keselamatan jiwa atau hifzhun nafs. Seseorang tidak dianjurkan menjerumuskan dirinya ke dalam lingkungan yang berbahaya bagi iman, akhlak, dan kesehatan batin.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengingatkan agar seseorang selektif dalam memilih teman dekat:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
Artinya: “Dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: Seseorang itu mengikuti agama atau cara hidup teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.” (HR. Ahmad)
Hadits ini menunjukkan bahwa lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, kebiasaan, akhlak, dan kondisi batin seseorang. Teman yang baik dapat menguatkan, sementara teman yang buruk dapat melemahkan bahkan menjerumuskan.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah memberikan panduan yang sangat relevan mengenai kriteria memilih teman atau sahabat:
الثانية: حسن الخلق: فلا تصحب من ساء خلقه، وهو الذي لا يملك نفسه عند الغضب والشهوة
Artinya: “Yang kedua adalah baik akhlaknya. Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang buruk akhlaknya, yaitu orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya ketika marah dan ketika dikuasai syahwatnya.” (Imam Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, [Kairo, Maktabah Madbuli: 1993], jilid I, hlm. 65)
Dalam bahasa psikologi modern, orang yang tidak mampu mengendalikan diri saat marah atau ketika dorongan nafsunya muncul dapat dikatakan memiliki regulasi emosi yang kurang baik. Jika dibiarkan, pola seperti ini dapat melahirkan relasi yang tidak sehat, penuh tekanan, dan melelahkan secara mental.
Prinsip memilih teman yang baik dan menjaga jarak dari lingkungan yang buruk juga dirangkum dalam bait syair Syekh Zainuddin al-Ma‘bari al-Mallibari berikut:
لا تَصْحَبَنْ مَنْ كَانَ أَهلَ بَطَالَةٍ ... وتساهل في الدين ذاك هو البلا
والعُزْلَةُ الأولي إِذا فَسَدَ الزَمَن ... أَو خَافَ مِن فِتَنِ بدِينِ مُبتلى
Artinya: “Jangan sekali-kali engkau bersahabat dengan orang yang suka membuang waktu sia-sia dan orang yang meremehkan urusan agama, karena yang demikian itu adalah sumber petaka. Mengasingkan diri atau uzlah adalah pilihan yang lebih utama ketika zaman telah rusak, atau ketika seseorang takut dirinya tertimpa fitnah yang dapat merusak agamanya,” (Syekh Zainuddin al-Ma‘bari al-Mallibari, Hidayah al-Adzkiya’ ila Thoriq al-Auliya’, [Kuwait, Darud Dhiya’: 2013], jilid I, hlm. 126).
Bait tersebut memberi arahan bahwa ketika sebuah lingkungan sudah rusak, penuh konflik, manipulatif, atau mengancam kestabilan iman dan kesehatan batin, maka mengambil jarak secara proporsional dapat menjadi pilihan yang bijak.
Uzlah dalam konteks ini tidak harus dimaknai sebagai menjauh total dari masyarakat, tetapi dapat dipahami sebagai kemampuan menjaga batas, menghindari lingkungan yang merusak, dan memilih ruang sosial yang lebih sehat.
Itulah pentingnya membangun lingkungan yang positif. Relasi yang baik dapat menciptakan ketenangan, persahabatan, dan dukungan emosional.
Sebaliknya, relasi yang buruk dapat memperburuk luka batin, meningkatkan kecemasan, dan menguras energi psikologis. Karena itu, menjaga jarak aman dari hubungan yang toksik merupakan tindakan yang dapat dibenarkan, selama dilakukan dengan cara yang proporsional, tidak zalim, dan tetap menjaga akhlak.
Kesehatan mental dalam perspektif Islam tidak hanya diselesaikan melalui satu pendekatan. Islam mengajarkan pentingnya penguatan spiritual, kedekatan dengan Allah, lingkungan yang sehat, akhlak yang baik, serta kemampuan mengelola diri dan hubungan sosial.
Namun, Islam juga mengajarkan pentingnya ikhtiar. Karena itu, ketika seseorang mengalami gangguan mental yang berat, seperti depresi mendalam, trauma, dorongan bunuh diri, atau keinginan untuk menyakiti diri sendiri.
Mencari bantuan profesional bukanlah tanda lemahnya iman. Justru itu bagian dari ikhtiar menjaga jiwa, sebagaimana Islam memerintahkan manusia untuk menjaga keselamatan dirinya.
Kehidupan dunia memang tidak lepas dari ujian. Setiap manusia memiliki beban, luka, dan masalah masing-masing. Namun, iman membantu manusia tetap bertahan, bersabar, berusaha, dan berbaik sangka kepada Allah.
Sebagai penutup, Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya‘rawi pernah menjelaskan bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian dan cobaan:
وإن الحياة الدنيا اختبار وامتحان لنا لنكون شهداء على أنفسنا .. ولا نأتى مجادلين يوم القيامة .. ولكن علم الله تبارك وتعالى محيط بكل شيء
Artinya: “Sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah ujian dan cobaan bagi kita, agar kita menjadi saksi atas diri kita sendiri, sehingga pada hari kiamat nanti kita tidak datang untuk membantah. Akan tetapi, ilmu Allah Tabaraka wa Ta‘ala meliputi segala sesuatu,” (Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya‘rawi, Al-Qadha wal Qadar, [Kairo, Akhbarul Yaum, Maktabah Asy-Sya‘rawi Al-Islamiy: 2020], jilid I, hlm. 115).
Maka, menjaga kesehatan mental adalah bagian dari menjaga amanah Allah. Jiwa yang tenang, lingkungan yang sehat, dan hubungan yang kuat dengan Allah merupakan bekal penting agar manusia mampu menghadapi ujian hidup dengan lebih sabar, jernih, dan bermartabat. Wallahu a‘lam bish shawab.
Ustadz Ahmad Ivan Abid Nugroho, Penulis adalah alumni kelas menulis NU Online.

1 minggu yang lalu
10





English (US) ·
Indonesian (ID) ·