REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 55 persen warga Amerika Serikat menilai kondisi keuangan mereka memburuk, menurut jajak pendapat terbaru Gallup. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak lembaga tersebut mulai melakukan survei serupa pada 2001.
Survei yang dilakukan pada 1–15 April terhadap 1.001 responden dewasa itu menunjukkan bahwa tingkat optimisme konsumen saat ini bahkan lebih rendah dibandingkan periode pandemi COVID-19 pada 2020 maupun Resesi Besar 2008.
Kenaikan harga energi, terutama bensin, menjadi salah satu pemicu utama tekanan tersebut. Sejak meningkatnya ketegangan di Iran pada Februari, harga bahan bakar terus naik dan memperburuk beban masyarakat.
Namun, Gallup menegaskan bahwa kekhawatiran warga tidak hanya dipicu oleh faktor jangka pendek. Masalah keterjangkauan telah berkembang selama bertahun-tahun, mencakup biaya kesehatan, pendidikan, perumahan, hingga transportasi.
“Secara keseluruhan, kekhawatiran tentang keterjangkauan mendominasi tahun ini, mencakup inflasi, energi, perumahan, dan biaya perawatan kesehatan, serta biaya kuliah, transportasi, dan perawatan anak,” tulis Gallup dalam laporannya.
Survei tersebut juga menemukan bahwa sekitar 55 persen responden mengalami kesulitan keuangan akibat kenaikan harga konsumen. Sebanyak 13 persen secara khusus menyebut lonjakan harga minyak dan gas sebagai kekhawatiran utama, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Ekonom senior NerdWallet, Elizabeth Renter, mengatakan kenaikan harga kebutuhan pokok sulit dihindari oleh masyarakat.
“Warga Amerika sangat merasakan kenaikan harga ini karena kita sering berinteraksi dengan kebutuhan tersebut, dan sebagian besar memang tidak bisa ditunda,” ujarnya kepada CBS News. “Ditambah ketidakpastian mengenai berapa lama inflasi ini akan berlangsung, wajar jika prospek konsumen menjadi suram.”
Data dari AAA menunjukkan harga bensin rata-rata nasional mencapai 4,18 dolar AS per galon, naik 7 sen dalam satu malam dan menjadi level tertinggi sejak konflik Iran memanas.
Di sisi lain, kekhawatiran jangka panjang juga meningkat. Sekitar 62 persen responden mengaku takut tidak memiliki cukup dana untuk pensiun, naik tiga poin persentase dari tahun sebelumnya.
Laporan Allianz Center for the Future of Retirement memperkuat temuan tersebut. Dalam studi terbaru 2026, sebanyak 67 persen warga Amerika menyatakan lebih takut kehabisan uang dibandingkan meninggal dunia, meningkat 10 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, tekanan keuangan jangka pendek juga semakin terasa. Sekitar 28 persen responden khawatir tidak mampu memenuhi pembayaran minimum kartu kredit, meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Renter menilai kondisi ini mencerminkan tekanan yang semakin luas terhadap rumah tangga.

3 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·