Gadis 8 Tahun Palestina Dibunuh Israel di Hari Pertamanya Sekolah

3 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JALUR GAZA -- Seorang anak perempuan Palestina berusia delapan tahun—yang usianya telah dikonfirmasi oleh Rumah Sakit al-Shifa—meninggal bersama ayahnya dalam serangan Israel di Kota Gaza pada Ahad.  Ia terbunuh hanya beberapa jam setelah mengikuti hari pertama tahun ajaran baru.

Seperti dilansir MEE, Wafaa Yousef Nabil Akila dan ayahnya, Youssef Nabil Rabah Akila, sedang berada di dalam kendaraan di wilayah barat Kota Gaza ketika sebuah pesawat nirawak (drone) Israel menyerang mobil mereka di dekat persimpangan Hamid.

"Serangan tersebut juga melukai enam warga Palestina lainnya,"demikian menurut keterangan petugas medis di Rumah Sakit al-Shifa.

Foto-foto yang dibagikan sebelum serangan memperlihatkan Wafaa tersenyum mengenakan seragam sekolah berwarna biru dan mengacungkan jempol pada hari pertama ia kembali bersekolah.

Rekaman video yang diterbitkan oleh Drop Site News memperlihatkan sejumlah pria di lokasi kejadian sedang memegang helai rambut anak tersebut.

"Hanya ini yang tersisa, wahai dunia," ujar seorang pria dalam rekaman itu. "Gencatan senjata macam apa yang kalian bicarakan?"

"Tidak ada gencatan senjata," kata pria lainnya. "Setiap hari terjadi pembantaian. Setiap hari ada pembunuhan. Setiap hari anak-anak tewas."

"Cukup sudah pembiaran ini."

Banyak orang di dunia maya bereaksi dengan kemarahan atas serangan-serangan tersebut. Mereka memandang gencatan senjata yang digadang-gadang itu tidak pernah benar-benar berlaku di Gaza dan warga sipil terus berjatuhan.

Militer Israel awalnya menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan seorang anggota Hamas dan bahwa mereka sedang meninjau hasilnya.

Pada Senin, mereka mengidentifikasi Youssef Akila sebagai komandan kompi di pasukan elite Nukhba milik Hamas serta menuduhnya merencanakan serangan terhadap tentara dan warga sipil Israel.

Militer tidak menyertakan bukti yang dapat diakses publik untuk mendukung klaim-klaim tersebut dalam pengumuman mereka.

Kembali bersekolah di Gaza

Kematian Wafaa memicu kemarahan di dunia maya. Warga Palestina membandingkan pemandangan yang lazim terlihat—anak-anak kembali ke ruang kelas di awal tahun ajaran—dengan kenyataan terus berlanjutnya pembunuhan anak-anak di Gaza.

Kegiatan sekolah formal di Gaza dijadwalkan akan dimulai kembali pada akhir September, meskipun beberapa sekolah dan pusat pendidikan alternatif telah dibuka lebih awal.

Sebagian besar infrastruktur pendidikan di Gaza telah hancur atau rusak akibat tindakan militer Israel. Kondisi itu memaksa ribuan anak Palestina untuk belajar di dalam tenda, ruang kelas darurat, maupun bangunan yang juga difungsikan sebagai tempat pengungsian.

Bagi Wafaa, momen kembali bersekolah itu hanya berlangsung selama beberapa jam.

Baca Artikel Selengkapnya