REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pakta pertahanan yang mempertemukan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan mulai bergerak dari kesepakatan politik menuju mekanisme militer yang lebih nyata. Pertemuan darurat Komite Politik-Strategis dan Pertahanan Pakta Makkah di Riyadh pada Ahad, 5 Oktober 2026, menyepakati langkah menuju pelaksanaan komitmen pertahanan kolektif, termasuk penyediaan kekuatan dan kemampuan militer yang telah disepakati untuk dapat dikerahkan dengan cepat ke Arab Saudi.
Pernyataan bersama ketiga negara menyebut langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesiapan, integrasi militer, dan kemampuan bersama menghadapi ancaman. Letnan Jenderal Purnawirawan Nauman Mahmood dari Pakistan juga ditunjuk sebagai sekretaris jenderal pertama aliansi untuk masa jabatan tiga tahun.
Perkembangan itu membuat pertanyaan mengenai kekuatan sesungguhnya dari Pakta Makkah menjadi semakin relevan. Jika kemampuan tiga negara digabungkan, aliansi ini mempertemukan tiga jenis kekuatan yang berbeda, yakni industri pertahanan dan teknologi drone Turki, militer profesional serta kemampuan nuklir Pakistan, dan kemampuan finansial serta infrastruktur pertahanan Arab Saudi.
Associated Press menggambarkan kombinasi tersebut sebagai pertemuan antara Arab Saudi yang kaya minyak, Pakistan sebagai kekuatan nuklir, dan Turki yang memiliki salah satu angkatan bersenjata terbesar di NATO serta industri pertahanan yang berkembang pesat. Perjanjian yang ditandatangani di Makkah pada 7 Agustus 2026 menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu anggota dipandang sebagai serangan terhadap ketiganya.
Namun, besarnya kekuatan di atas kertas tidak serta-merta berarti ketiga angkatan bersenjata telah berubah menjadi satu tentara dengan satu rantai komando. Efektivitas Pakta Makkah akan sangat bergantung pada sejauh mana Riyadh, Ankara, dan Islamabad mampu mengintegrasikan sistem komando, logistik, pertahanan udara, intelijen, doktrin, serta aturan pengerahan pasukan mereka.
Hampir 1,4 Juta Personel
Al Jazeera, dengan mengacu pada Global Firepower Index 2026, memperkirakan ketiga negara memiliki hampir 1,4 juta personel militer aktif jika digabungkan. Pakistan menyumbang sekitar 660 ribu personel, Turki sekitar 481 ribu, dan Arab Saudi sekitar 247 ribu.
Angka tersebut menempatkan Pakta Makkah sebagai kekuatan militer yang secara kuantitatif sangat besar. Namun, data Global Firepower merupakan estimasi berbasis sumber terbuka dan metodologinya tidak identik dengan inventaris resmi masing-masing angkatan bersenjata, sehingga angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran skala daripada hitungan operasional pasti.
Untuk kekuatan udara, ketiganya diperkirakan mengoperasikan sekitar 3.415 pesawat militer dari berbagai jenis. Angka itu mencakup pesawat tempur, helikopter, pesawat angkut, dan pesawat latih, bukan hanya pesawat tempur garis depan.
Di darat, estimasi yang sama menunjukkan tiga negara memiliki sekitar 6.046 tank serta lebih dari 179 ribu kendaraan lapis baja. Sementara di laut, kombinasi armada Turki, Pakistan, dan Saudi diperkirakan mencapai lebih dari 340 aset, termasuk fregat, korvet, dan kapal selam.
Dengan kata lain, kekuatan Pakta Makkah tidak hanya terletak pada jumlah personelnya. Tiga negara memiliki kemampuan yang dapat saling melengkapi di udara, darat, dan laut, meski kemampuan sebenarnya dalam operasi gabungan masih harus dibuktikan.

50 menit yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·