REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tragedi kemanusiaan di Gaza tidak hanya mengguncang Palestina. Genosida yang gagal dihentikan oleh kekuatan-kekuatan dunia juga membangkitkan kesadaran politik generasi muda di berbagai negara, terutama untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah dan institusi yang mereka nilai membiarkan ketidakadilan.
Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, menilai, penderitaan rakyat Palestina telah menjadi salah satu pemantik kebangkitan gerakan anak muda di berbagai belahan dunia.
“Saya kira ada kaitan antara apa yang terjadi di Palestina, terutama di Gaza, dan bangkitnya anak muda,” kata Albanese dalam wawancara selepas diskusi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurut dia, anak muda di berbagai negara, terutama Amerika Serikat, Eropa, dan Australia, menjadi kelompok yang paling awal menuntut pertanggungjawaban atas apa yang terjadi di Palestina. Mereka tidak hanya menggelar demonstrasi, tetapi juga menggugat keterlibatan institusi pendidikan dalam hubungan dengan Israel.
Albanese menyoroti aksi mahasiswa yang mendesak universitas mereka memutus hubungan akademik maupun kerja sama yang dinilai berkontribusi terhadap pendudukan Israel dan sistem apartheid terhadap rakyat Palestina.
Bagi generasi muda tersebut, kata dia, tragedi Gaza bukan sekadar peristiwa yang kelak dipelajari melalui buku sejarah. Mereka menyaksikan penderitaan warga sipil secara langsung melalui informasi dan gambar yang tersebar luas, lalu merasa perlu mengambil sikap.
“Bagi anak-anak muda ini, genosida ini adalah memori yang sedang dibentuk,” ujar Albanese.
Ia membandingkan sikap generasi muda saat ini dengan generasinya sendiri, yang menurut dia gagal bertindak secara memadai ketika genosida terjadi di Rwanda dan bekas Yugoslavia.
Albanese menilai, generasi muda sekarang merasa memiliki kemampuan untuk mendorong perubahan, termasuk dengan menekan institusi agar menghentikan hubungan yang dianggap melanggengkan ketidakadilan.
Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) yang memperjuangkan tekanan ekonomi terhadap Israel, menurut dia, turut memberikan kerangka bagi aksi tersebut. Gerakan yang telah berlangsung selama sekitar dua dekade itu mendorong masyarakat menggunakan keputusan konsumsi, investasi, dan hubungan kelembagaan sebagai instrumen tekanan politik.
Dari kampus hingga jalanan Eropa
Gelombang solidaritas terhadap Palestina terlihat jelas di kampus-kampus Amerika Serikat dan Eropa sejak perang Gaza meletus pada Oktober 2023. Pada 2024, mahasiswa di sejumlah universitas Amerika Serikat mendirikan tenda-tenda solidaritas dan menuntut kampus mengungkap serta memutus hubungan investasi maupun kerja sama yang berkaitan dengan Israel.
Aksi serupa menyebar ke berbagai kampus di Eropa dan Australia. Tuntutan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan penghentian serangan di Gaza, tetapi juga transparansi investasi universitas, pemutusan hubungan akademik tertentu, dan pertanggungjawaban institusi.
Namun, gelombang protes anak muda belakangan tidak hanya berkaitan dengan Palestina. Di sejumlah negara Eropa, persoalan ekonomi dan sosial turut mendorong generasi muda turun ke jalan.
Pada 17 Oktober 2026, demonstrasi besar berlangsung di Prancis, Belgia, Italia, dan Portugal. Di Prancis, Kementerian Dalam Negeri melaporkan lebih dari 550 ribu orang mengikuti demonstrasi. Aksi tersebut dipicu berbagai persoalan, termasuk kenaikan biaya hidup dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah.
Di Portugal, demonstran menyoroti upah rendah, mahalnya tempat tinggal, dan kesulitan mengakses hunian di kota-kota besar. Sementara di Belgia, aksi mahasiswa juga berkaitan dengan kenaikan biaya pendidikan. Di Italia, demonstrasi turut mengangkat persoalan ekonomi dan kenaikan harga.
Al Jazeera melaporkan, rangkaian demonstrasi di negara-negara tersebut berlangsung secara terpisah dan tidak berada di bawah satu komando gerakan. Meski demikian, sejumlah tuntutan mereka memperlihatkan kesamaan: biaya hidup yang semakin berat, pendidikan yang kurang mendapat dukungan, dan ketidakpastian masa depan setelah lulus sekolah atau kuliah.
Perkembangan itu sejalan dengan pandangan Albanese bahwa kebangkitan anak muda tidak semata-mata digerakkan oleh satu isu. Palestina, menurut dia, dapat menjadi pemantik kesadaran yang lebih luas terhadap ketidakadilan yang juga mereka alami di negara masing-masing.
“Jika Palestina telah membangunkan mereka, saya kira mereka juga bangkit melawan ketidakadilan yang mereka sendiri menjadi korbannya,” ujar dia.
Albanese menilai, anak muda di berbagai negara kini menghadapi ketidakpastian hidup dan semakin terbatasnya kesempatan. Kondisi tersebut bahkan dirasakan di negara-negara Global North yang selama ini dipandang lebih makmur dan memiliki tingkat kesejahteraan tinggi.
Situasi itu, menurut dia, mempertemukan perjuangan untuk hak asasi manusia dengan tuntutan atas kehidupan yang lebih adil.
“Inilah mengapa kita melihat adanya kesatuan perjuangan, kesatuan gerakan hak asasi manusia, dan kesatuan masyarakat,” katanya.
Meski demikian, Albanese mengingatkan adanya kecenderungan lain yang mengkhawatirkan, yakni menguatnya pola penindasan terhadap gerakan-gerakan tersebut.
“Namun, kita juga melihat kesatuan dalam represi. Ini sangat menakutkan,” ujar dia.
Gaza dan pelajaran tentang keteguhan
Albanese juga menggarisbawahi keteguhan rakyat Palestina dalam menghadapi pendudukan, pengusiran, dan kehancuran akibat perang. Menurut dia, pengalaman panjang rakyat Palestina memperlihatkan bagaimana sebuah bangsa tetap mempertahankan keberadaan dan haknya meski menghadapi tekanan yang luar biasa.
Ia menilai, solidaritas internasional seharusnya tidak berhenti pada pernyataan dukungan. Anak muda dapat mengambil peran dengan menuntut pertanggungjawaban, mendorong perubahan kebijakan, dan meninjau kembali hubungan institusi maupun aktivitas ekonomi yang berpotensi menopang pelanggaran hak asasi manusia.
Bagi Albanese, perubahan tidak cukup hanya mengandalkan tindakan satu negara atau satu kelompok. Gerakan lintas negara diperlukan untuk mendorong pertanggungjawaban sekaligus mengakhiri hubungan yang dianggap melanggengkan ketidakadilan.
Kebangkitan generasi muda, dalam pandangannya, memperlihatkan bahwa Palestina telah menjadi bagian dari percakapan global mengenai hak asasi manusia. Perjuangan tersebut sekaligus berkelindan dengan tuntutan anak muda terhadap kehidupan yang lebih aman, setara, dan memiliki masa depan.

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·