Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang penambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti pertalite dan biosolar, berkaca dari pola konsumsi masyarakat setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi.
“Tetap dilakukan perhitungan-perhitungan, khususnya untuk solar, ya. Solar subsidi. Sepertinya akan ada penambahan kuota,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman ketika dijumpai setelah Rapat Kerja Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu.
Laode menyampaikan terdapat peningkatan konsumsi BBM bersubsidi dari masyarakat. Selain itu, El Nino turut berkontribusi sebagai penyebab antrean panjang pembelian BBM bersubsidi.
Ia menjelaskan bahwa El Nino berdampak pada distribusi BBM, termasuk BBM bersubsidi, akibat sungai-sungai yang menjadi dangkal, bahkan mengering, di sejumlah wilayah, seperti yang terjadi di Kalimantan.
Imbasnya, distribusi BBM yang semula menggunakan kapal, lantas diganti menjadi distribusi melalui jalur darat menggunakan truk tangki.
“Ketibaan truknya kan nggak secepat kalau kami kirim lewat sungai. Jadi, dia (truk tangki) membutuhkan waktu. Makanya ada waktu tunggu yang harus disiapkan di SPBU-SPBU itu,” ucap Laode.
Baca juga: Kementerian ESDM sebut antrean BBM di Makassar sudah terurai
Baca juga: Menteri Bahlil: Pagu anggaran ESDM ditetapkan sebesar Rp27,37 triliun
Penambahan waktu tunggu tersebut, kata Laode, yang kemudian menyebabkan penumpukan antrean pembeli BBM.
“Ini yang kami imbau kepada masyarakat, bahwa jangan khawatir. Barangnya ada,” kata Laode.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat konsumsi pertalite naik hingga 12,92 persen pada Juli 2026, tepatnya sebulan setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis pertamax.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyampaikan rata-rata penyaluran pertalite sebelum terjadinya kenaikan harga pertamax adalah 75.795 kiloliter (kl) per hari. Akan tetapi, setelah harga pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, terjadi lonjakan rata-rata penyaluran pertalite.
Pada 10 Juni 2026, konsumsi pertalite tercatat sebanyak 82.760 kl per hari, naik 9,19 persen dengan selisih 6.965 kl per hari apabila dibandingkan dengan rata-rata penyaluran pertalite sebelum kenaikan harga pertamax.
Kemudian, pada Juli 2026, kenaikan konsumsi pertalite kembali terjadi, yakni sebanyak 85.589 kl per hari, naik 12,92 persen dengan selisih 9.794 kl per hari apabila dibandingkan dengan rata-rata penyaluran pertalite sebelum kenaikan harga pertamax.
Pada periode Agustus, ujar Wahyudi, terjadi penurunan konsumsi pertalite apabila dibandingkan dengan bulan Juli. Rata-rata penyaluran pertalite pada bulan Agustus berada di kisaran 84.368 kl per hari, lebih rendah dibandingkan dengan bulan Juli.
Baca juga: Bahlil sebut revisi RKAB Vale Indonesia jadi atensi untuk dituntaskan
Baca juga: Komisaris Pertamina Patra Niaga: Layanan BBM di Makassar mulai normal
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·