REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan perang Rusia-Ukraina berisiko meluas hingga menyeret wilayah NATO ketika insiden drone, dugaan sabotase, dan aktivitas hibrida semakin sering dilaporkan di sejumlah negara Eropa. Di tengah meningkatnya kekhawatiran tersebut, Erdogan meminta negara-negara NATO menahan diri agar ketegangan tidak berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas dengan Rusia.
"Kami tidak mengabaikan risiko perang Rusia-Ukraina meluas ke kawasan yang lebih besar," kata Erdogan dalam wawancara eksklusif dengan Newsweek.
Menurut Erdogan, tuduhan mengenai sabotase dan aktivitas hibrida di berbagai wilayah Eropa semakin menambah kerentanan situasi keamanan. Namun, ia mengingatkan setiap tuduhan harus diperiksa berdasarkan bukti yang kuat sebelum negara-negara mengambil tindakan yang dapat memperburuk ketegangan.
"Dalam proses ini, kita perlu bertindak dengan menahan diri, menilai berbagai tuduhan berdasarkan bukti yang kuat, dan menghindari langkah-langkah yang dapat semakin meningkatkan ketegangan," ujar Erdogan.
"Prioritas Türkiye adalah mencegah perang berubah menjadi konflik yang menyeret negara-negara lain."
Peringatan Erdogan muncul ketika kekhawatiran mengenai kemungkinan merembetnya perang Ukraina ke negara-negara NATO meningkat. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara Eropa melaporkan insiden drone, sabotase, pembakaran, dan gangguan terhadap fasilitas strategis.
The Washington Post melaporkan pada 24 September, NATO menyatakan aliansi memiliki kemampuan dan rencana untuk menghadapi insiden sabotase maupun drone. Peringatan itu muncul bersamaan dengan penilaian intelijen Denmark bahwa Rusia diperkirakan meningkatkan aktivitas hibrida terhadap Barat.
Kekhawatiran NATO tidak berhenti pada operasi di bawah ambang perang terbuka. Penilaian intelijen Denmark juga menyebut terdapat risiko yang masih rendah tetapi meningkat bahwa Moskow dapat melancarkan serangan militer terbatas terhadap satu atau beberapa negara NATO yang berbatasan dengan Rusia.
Namun, NATO juga berusaha menghindari kepanikan. Para pejabat aliansi menekankan perlunya merespons berbagai insiden secara terukur sembari memperkuat kemampuan pertahanan dan pertukaran intelijen.
Drone Mulai Menembus Wilayah NATO
Ancaman itu memperoleh dimensi baru setelah sebuah drone memasuki wilayah udara Lithuania pada pertengahan September. Associated Press melaporkan jet tempur NATO menembak jatuh drone tersebut, menjadi peristiwa pertama sebuah drone ditembak jatuh di wilayah udara Lithuania.
Pihak berwenang Lithuania pada awalnya tidak memastikan asal maupun tujuan drone tersebut karena penyelidikan masih dilakukan. Namun, dua pejabat senior mengatakan perangkat itu diduga membawa bahan peledak.
Sejumlah pejabat NATO kemudian menyebut drone tersebut kemungkinan memasuki Lithuania dari Belarus, sekutu dekat Rusia. Insiden itu memperkuat kekhawatiran mengenai kerentanan wilayah timur NATO terhadap limpahan perang Ukraina maupun kemungkinan operasi hibrida.
Polandia juga meningkatkan kewaspadaan. Perdana Menteri Donald Tusk memperingatkan Rusia dapat menggunakan drone atau rudal untuk melakukan serangan hibrida terhadap negara-negara Eropa yang mendukung Ukraina, kemudian menggambarkan serangan tersebut sebagai sebuah kecelakaan.
Menurut laporan Associated Press yang dimuat The Washington Post, Tusk menilai skenario semacam itu dapat digunakan untuk menguji kesediaan negara-negara NATO membantu anggota aliansi yang wilayahnya terkena serangan.
Tusk mengatakan terdapat risiko nyata drone atau proyektil lainnya memasuki wilayah satu atau beberapa negara di sayap timur NATO dan menyebabkan kerusakan. Ia juga mengingatkan perkembangan drone bertenaga jet membuat perangkat tersebut semakin sulit dideteksi dan dicegat.

2 hari yang lalu
38






English (US) ·
Indonesian (ID) ·