Eks Menhan Ukraina Pecatan Zelensky Desak Pemilu di Tengah Perang

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Menteri Pertahanan Ukraina pecatan Presiden Volodymyr Zelensky, Mykhailo Fedorov, mendesak pemerintah segera mencari cara untuk menggelar pemilihan umum meski perang dengan Rusia masih berlangsung.

Seruan itu disampaikan Fedorov pada Selasa (18/8), beberapa pekan setelah dirinya dicopot dari jabatan Menteri Pertahanan Ukraina oleh Zelensky. Ia menilai proses demokrasi tidak boleh terus tertunda akibat perang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Demokrasi tidak bisa disandera oleh Rusia," kata Fedorov dalam video yang diunggah ke YouTube.

Menurutnya, Ukraina perlu menemukan "mekanisme yang legal, aman, dan realistis agar proses demokrasi dapat kembali berjalan di tengah perang yang berkepanjangan".

Ukraina memberlakukan darurat militer setelah Rusia melancarkan invasi pada Februari 2022. Kondisi tersebut membuat pemilihan umum tidak dapat digelar.

Fedorov mengakui penyelenggaraan pemilu di tengah perang bukan perkara mudah. Pemerintah harus memastikan tentara, warga yang tinggal di dekat garis depan, serta jutaan warga Ukraina yang berada di luar negeri tetap dapat menggunakan hak pilih mereka.

"Ini rumit. Tetapi kerumitan bukan berarti ketidakmungkinan," ujar Fedorov.

Fedorov sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertahanan sejak Januari. Selama masa jabatannya, ia berupaya mendorong reformasi militer yang menghadapi sejumlah persoalan, termasuk dugaan korupsi, kekurangan peralatan, masalah ketidakhadiran, perlakuan terhadap wajib militer, dan program mobilisasi yang tidak populer.

Pencopotan Fedorov pada Juli lalu memicu aksi protes selama beberapa pekan. Kondisi tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Meski menyerukan pemilu, Fedorov tidak menyebut rencana politiknya dalam video tersebut. Ia sebelumnya beberapa kali mengatakan hanya akan kembali ke pemerintahan jika menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

Zelenskyy kemudian menunjuk Yevgeniy Khmara, seorang pejabat intelijen dengan profil politik rendah, sebagai Menteri Pertahanan sementara sambil menunggu persetujuan parlemen.

Sementara itu, aksi demonstrasi untuk mendukung Fedorov dijadwalkan berlangsung di depan gedung parlemen pada Rabu (19/8), menurut mantan penasihat sekaligus pendukungnya, Sergiy Sternenko.

(bac)

placeholder

Baca Artikel Selengkapnya