JAKARTA -- Mantan Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), Jenderal (Purn) David Petraeus, memperingatkan militer Amerika Serikat dan negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) belum melakukan perubahan mendasar yang diperlukan untuk menghadapi peperangan modern yang semakin didominasi pesawat nirawak atau drone. Menurutnya, perang Rusia-Ukraina telah memperlihatkan perubahan revolusioner dalam cara bertempur, tetapi angkatan bersenjata Barat masih terlalu lambat menyesuaikan doktrin, organisasi, dan sistem persenjataannya.
Petraeus menyampaikan peringatan tersebut dalam sebuah acara American Primary Aluminum Association di Washington pada 16 Oktober 2026. Pernyataannya kembali mendapat perhatian setelah media pertahanan Amerika Serikat, Defense News, menerbitkan laporan mendalam pada Jumat (23/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Petraeus mengatakan perang di Ukraina telah menunjukkan bahwa penggunaan drone dan sistem persenjataan tanpa awak bukan lagi sekadar pelengkap kekuatan tempur konvensional. Teknologi itu kini menjadi unsur utama dalam pengintaian, penentuan sasaran, dan penghancuran pasukan musuh.
"Ini adalah perang sistem tanpa awak. Tank-tank tidak lagi dapat bertahan di medan perang seperti itu," kata Petraeus sebagaimana dikutip Defense News.
Mantan komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dan pasukan Amerika Serikat serta NATO di Afghanistan itu menilai perubahan di medan perang Ukraina jauh lebih mendasar daripada sekadar penggunaan teknologi persenjataan baru.
Menurut Petraeus, tidak satu pun negara NATO, termasuk Amerika Serikat, telah melaksanakan transformasi kelembagaan secara menyeluruh sebagaimana dituntut oleh perkembangan perang di Ukraina.
"Belum ada negara NATO, bahkan Amerika Serikat sekalipun, yang melakukan perubahan kelembagaan revolusioner dan mendesak sebagaimana seharusnya dilakukan berdasarkan apa yang kita lihat di Ukraina, yang merupakan masa depan peperangan," ujar Petraeus.
Ia menegaskan, Amerika Serikat memerlukan konsep peperangan baru yang menyentuh seluruh struktur angkatan bersenjata, mulai dari organisasi satuan tempur, pendidikan dan pelatihan, pengadaan persenjataan, kebijakan personel, hingga pengelolaan pangkalan militer.
Penilaian tersebut bukan berarti Amerika Serikat dan NATO tidak memiliki kemampuan drone atau sistem pertahanan antidrone. Kritik Petraeus terutama ditujukan pada belum menyeluruhnya perubahan kelembagaan yang diperlukan untuk menghadapi perang ketika sistem tanpa awak digunakan dalam jumlah sangat besar.
Ukraina dan Rusia Kerahkan Ribuan Drone Setiap Hari
Menurut Petraeus, skala penggunaan drone dalam perang Rusia-Ukraina masih sering diremehkan kalangan militer Barat.
Ia memperkirakan kedua pihak masing-masing menggunakan sekitar 10 ribu drone setiap hari. Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan sistem tanpa awak dalam pertempuran modern, meskipun merupakan estimasi Petraeus dan belum dapat diperlakukan sebagai data operasional harian yang terverifikasi secara independen.
Petraeus juga mengemukakan bahwa sistem tanpa awak kini menyebabkan lebih dari 90 persen korban di pihak Rusia pada sejumlah medan pertempuran garis depan Ukraina.
Angka tersebut perlu dibaca sebagai penilaian yang disampaikan Petraeus. Persentase korban personel tidak sama dengan persentase sasaran yang diserang menggunakan drone.
Kementerian Pertahanan Ukraina sebelumnya menyampaikan bahwa drone telah digunakan dalam lebih dari 90 persen serangan terhadap sasaran musuh yang tercatat dalam sistem operasional militernya. Sasaran tersebut mencakup personel, kendaraan tempur, sistem artileri, fasilitas logistik, hingga perlengkapan peperangan elektronik Rusia.
Dalam laporan resmi pada 22 Juni 2026, Kementerian Pertahanan Ukraina menyebut satuan sistem tanpa awaknya telah mencatat lebih dari 800 ribu serangan terverifikasi terhadap sasaran Rusia sejak awal tahun. Dari operasi tersebut, Ukraina memperkirakan sekitar 167 ribu personel Rusia tewas atau mengalami luka berat.
Data itu merupakan klaim operasional pemerintah Ukraina yang belum dapat diverifikasi secara independen. Namun, besarnya jumlah serangan yang dilaporkan memperlihatkan peran sentral drone dalam strategi peperangan Ukraina.
Pesawat nirawak berukuran kecil, termasuk drone first-person view (FPV), dapat digunakan untuk mengintai pergerakan pasukan dan menyerang kendaraan atau posisi pertahanan. Drone tersebut memungkinkan satuan militer melakukan serangan presisi menggunakan persenjataan yang relatif murah dibandingkan sejumlah sistem senjata konvensional.
Di sisi lain, penggunaan drone secara masif membuat pergerakan kendaraan lapis baja dan konsentrasi pasukan semakin berisiko terdeteksi.
Petraeus menilai perkembangan ini mengubah peran sejumlah perlengkapan militer konvensional yang selama puluhan tahun menjadi andalan angkatan bersenjata modern.
Tank, kendaraan tempur lapis baja, dan unsur artileri yang bergerak di wilayah terbuka menghadapi ancaman pengintaian terus-menerus serta serangan drone dari berbagai arah.
Kendati demikian, tingginya kerentanan kendaraan lapis baja di Ukraina tidak berarti tank telah kehilangan seluruh fungsi militernya. Efektivitas kendaraan tersebut semakin bergantung pada perlindungan antidrone, peperangan elektronik, penyamaran, dan koordinasi dengan unsur tempur lainnya.
Ukraina Bangun Sistem Perang Baru
Petraeus menilai keunggulan paling penting Ukraina bukan semata-mata jumlah drone yang diproduksi, melainkan kemampuan mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam sistem komando dan pengendalian pertempuran.
Dalam wawancara dengan CBS News pada April 2026, Petraeus menjelaskan bahwa Ukraina mengembangkan sistem operasi yang menghubungkan pengintaian, identifikasi sasaran, pengambilan keputusan, dan serangan dalam satu jaringan.
Salah satu unsur pentingnya adalah DELTA, platform manajemen pertempuran digital yang digunakan militer Ukraina untuk mengintegrasikan informasi dari berbagai sumber.
Melalui sistem tersebut, komandan dan operator dapat memperoleh gambaran situasi medan perang, mengidentifikasi posisi musuh, dan mengoordinasikan serangan dengan lebih cepat.
Petraeus menyebut kemampuan menggabungkan seluruh teknologi itulah yang menjadi salah satu keunggulan inovasi militer Ukraina.
Dalam penilaiannya, sistem pengintaian dan serangan yang terintegrasi telah meningkatkan kemampuan pasukan Ukraina mengawasi pergerakan lawan di wilayah dekat garis depan.
Perubahan tersebut juga didukung pembentukan cabang militer khusus yang menangani sistem tanpa awak.
Pada 2024, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memerintahkan pembentukan Unmanned Systems Forces sebagai bagian tersendiri dalam struktur angkatan bersenjata.
Pembentukan satuan khusus tersebut memungkinkan pengembangan kemampuan drone tidak hanya ditempatkan sebagai fungsi pendukung pasukan darat atau udara, tetapi dikelola melalui struktur organisasi tersendiri.
Petraeus menilai pendekatan Ukraina seharusnya menjadi pelajaran penting bagi negara-negara NATO.
Menurut dia, inovasi militer tidak cukup dilakukan dengan menambahkan puluhan drone ke dalam satuan tempur lama. Perubahan yang dibutuhkan dapat mencakup penggantian atau penataan ulang sejumlah satuan konvensional menjadi organisasi yang dibangun khusus untuk peperangan menggunakan sistem tanpa awak.

45 menit yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·