Ekonom: Stabilitas keuangan harus diikuti perbaikan ekonomi riil

1 jam yang lalu 3
Jika konsumsi rumah tangga tetap lemah, kelas menengah terus tertekan, dan pertumbuhan hanya ditopang investasi padat modal, maka ekonomi bisa terlihat stabil dari atas tetapi semakin rapuh dari bawah

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, stabilitas keuangan pada triwulan III-2026 yang terjaga sebagaimana disampaikan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), harus diikuti dengan perbaikan ekonomi riil.

Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu, mengamini penilaian KSSK terhadap kinerja sektor keuangan pada triwulan III-2026 yang terjaga stabil.

Akan tetapi, ia menyoroti, kestabilan yang terjaga itu tidak serta merta mencerminkan kesehatan ekonomi riil.

“Menurut saya, tantangan terbesar bukan menjaga stabilitas keuangan karena itu relatif masih terkendali. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan stabilitas tersebut diterjemahkan menjadi perbaikan ekonomi riil,” kata Yusuf.

Dia berpendapat, ekonomi riil menunjukkan sinyal yang lebih beragam.

Pertumbuhan kredit mencetak level yang tinggi, namun utamanya didorong oleh pembiayaan korporasi dan investasi. Sementara itu, pemulihan konsumsi rumah tangga masih berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

“Ini menunjukkan ada jarak antara kesehatan sektor keuangan dan kondisi masyarakat. Perbankan terlihat sehat, tetapi daya beli belum tentu ikut kuat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa asesmen KSSK bersifat melihat kondisi periode sebelumnya (backward looking), sehingga belum tentu menggambarkan risiko yang berkembang setelah kuartal III berakhir.

Menurut dia, tekanan di pasar keuangan mulai terlihat dari pelemahan rupiah hingga melampaui Rp18.000 per dolar AS, IHSG yang turun ke bawah level 5.000, meningkatnya biaya utang pemerintah, serta berlanjutnya arus keluar modal asing dari pasar saham.

“Artinya, kondisi yang dinilai stabil pada kuartal III belum tentu mencerminkan risiko yang sedang berkembang saat ini,” ujarnya.

Maka dari itu, ia mendorong pemerintah untuk memastikan kondisi stabilitas sistem keuangan mampu mendorong perbaikan ekonomi riil.

“Jika konsumsi rumah tangga tetap lemah, kelas menengah terus tertekan, dan pertumbuhan hanya ditopang investasi padat modal, maka ekonomi bisa terlihat stabil dari atas tetapi semakin rapuh dari bawah,” katanya.

Baca juga: KSSK sebut stabilitas keuangan Indonesia terjaga pada kuartal III 2026

Baca juga: KSSK koreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 jadi 5,4-5,5 persen

Baca juga: KSSK: Sistem keuangan TW-II tetap terjaga di tengah konflik geopolitik

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya