Ekonom: Pelemahan rupiah terkait persoalan kepercayaan investor

10 jam yang lalu 11
Sekarang pertanyaannya adalah sama nggak (kondisi ekonomi) 1998 dengan 2026? My answer is no. Kenapa? Yang membedakan paling besar 98 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan RI periode 2013-2014 sekaligus ekonom senior Chatib Basri menilai pelemahan rupiah terkait pula dengan persoalan kepercayaan investor terhadap fiskal Indonesia.

“Soal kita itu adalah soal confidence di fiskal,” katanya dalam agenda Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa.

Dalam kesempatan tersebut, Chatib memaparkan analisis data kausalitas yang dilakukan antara pergerakan rupiah dengan risiko fiskal diukur melalui Credit Default Swap (CDS), yaitu biaya asuransi terhadap risiko gagal bayar obligasi negara.

Hasil pengujian data menunjukkan sebesar 23 persen dari variasi yang menyebabkan pelemahan rupiah dapat dijelaskan secara langsung oleh pergerakan CDS. Sebaliknya, fluktuasi rupiah hanya mampu menerangkan 2,3 persen dari pergerakan CDS.

Data juga menunjukkan nilai CDS Indonesia sudah mulai memburuk sejak Januari 2026 sebelum pecahnya perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel), yakni ketika Moody’s mengubah outlook dan muncul kekhawatiran pasar mengenai defisit anggaran yang mendekati 3 persen.

Baca juga: Prabowo panggil Luhut dan Chatib Basri ke Istana pada Selasa sore

Baca juga: Prabowo diskusi bahas isu terkini dengan jurnalis dan para ahli

Hal ini membuktikan bahwa faktor utama pelemahan rupiah tak hanya dampak dari perang global, melainkan bersumber dari perhatian investor terhadap kredibilitas fiskal domestik, sehingga tak heran jika melihat sejumlah negara lain yang juga terdampak perang, tak mengalami depresiasi mata uang sedalam Indonesia.

Mengenai dampak pelemahan kurs ke inflasi, estimasi Bank Indonesia (BI) menunjukkan setiap depresiasi Rp1 terhadap dolar AS hanya menyumbang tambahan inflasi sekitar 0,13 persen. Dengan depresiasi rupiah yang berada di kisaran 8 persen, dia mengatakan efek rembetan ke inflasi umum masih di bawah 1 persen.

Kendati demikian, dampak kenaikan harga disebut akan sangat terasa pada produk-produk berbasis impor seperti plastik dan besi.

Sektor swasta kini dihadapkan pilihan untuk meneruskan kenaikan biaya tersebut ke konsumen yang berisiko memukul daya beli, atau menyerapnya dengan menurunkan margin keuntungan yang akan membuat pertumbuhan korporasi melambat pada paruh kedua tahun ini.

“Sekarang pertanyaannya adalah sama nggak (kondisi ekonomi) 1998 dengan 2026? My answer is no. Kenapa? Yang membedakan paling besar 98 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate,” ungkap Chatib.

Saat ini, kelompok menengah ke atas dan korporasi disebut telah mengantisipasi depresiasi rupiah dengan melakukan lindung nilai (hedging) atau memindahkan aset ke dolar AS.

Persoalan akhirnya bergeser ke kelompok menengah ke bawah karena efek kenaikan bahan pangan impor membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang, sehingga memerlukan intervensi perlindungan sosial.

Secara keseluruhan, depresiasi rupiah dianggap tidak akan membawa Indonesia ke jurang resesi, bahkan dia berpendapat pertumbuhan ekonomi di level 4,5-5 persen masih tergolong sangat baik dalam standar global saat ini.

Baca juga: DEN: Pasar obligasi Indonesia aman dari efek negatif kebijakan Trump

Baca juga: DEN: Kebijakan deportasi Trump berpotensi pengaruhi ekonomi RI

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya