Ekonom nilai stimulus kuartal IV efektif jadi bantalan daya beli

6 jam yang lalu 14

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai stimulus fiskal yang akan digelontorkan pemerintah pada kuartal IV 2026 efektif menjadi bantalan daya beli masyarakat.

"Stimulus fiskal kuartal IV akan cukup efektif untuk menahan pelemahan konsumsi rumah tangga, tetapi lebih tepat dilihat sebagai bantalan daya beli daripada pendorong pertumbuhan yang besar," kata Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Menurut Josua, inflasi pada September 2026 yang berada pada level 3,28 persen lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga pangan dan faktor pasokan.

Pihaknya juga menyoroti tekanan inflasi terutama datang dari harga pangan, energi, pelemahan rupiah, risiko El Nino, serta kenaikan biaya bahan baku impor.

Dalam kondisi seperti itu, kata Josua, desain stimulus kuartal IV relatif tepat sasaran karena langsung menyentuh dua komponen yang paling menentukan konsumsi kelompok bawah dan menengah bawah.

Pemerintah menyiapkan bantuan beras 10 kilogram per bulan selama Oktober-Desember bagi sekitar 33,24 juta keluarga desil 1-4 dengan anggaran Rp17,5 triliun, serta bantuan subsidi upah (BSU) Rp300 ribu per bulan selama tiga bulan kepada 13,3 juta pekerja dengan anggaran hampir Rp12 triliun.

"Bantuan pangan bekerja dengan mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pokok sehingga pendapatan dapat dialihkan ke kebutuhan lain, sedangkan bantuan upah langsung meningkatkan pendapatan yang dapat dibelanjakan," jelas Josua.

Meski demikian, ia memperkirakan stimulus lebih berperan menjaga konsumsi agar tidak melemah ketimbang mendorong lonjakan konsumsi.

Efektivitasnya juga bergantung pada perkembangan harga. Jika harga pangan, energi, dan transportasi terus meningkat, Rizal berpendapat tambahan pendapatan masyarakat berisiko habis untuk membayar barang yang sama dengan harga lebih tinggi.

Dari sisi pasokan, kenaikan daya beli juga perlu diimbangi kecukupan produksi dan distribusi pangan agar tidak kembali memicu tekanan harga.

Kecepatan pencairan juga dinilai turut menjadi faktor penting. Jika bantuan tersalurkan sejak Oktober atau awal November, dampaknya terhadap konsumsi akhir tahun diperkirakan lebih besar, termasuk menjelang Natal dan Tahun Baru.

Sebaliknya, keterlambatan pencairan hingga akhir Desember dapat membuat dampak stimulus terhadap pertumbuhan kuartal IV lebih terbatas.

Oleh sebab itu, Josua menilai ukuran keberhasilan kebijakan ini bukan semata berapa triliun rupiah yang tersalurkan, tetapi apakah konsumsi riil kelompok penerima tetap terjaga tanpa menimbulkan tekanan harga tambahan yang berarti.

"Dengan inflasi inti yang masih terkendali, ruang untuk stimulus yang terarah seperti ini masih ada; tantangannya adalah memastikan penyaluran cepat dan pasokan pangan cukup agar stimulus tidak habis hanya untuk membayar kenaikan harga," tuturnya.

Baca juga: Ekonom nilai desain stimulus ekonomi kuartal IV tepat sasaran

Baca juga: Pemerintah gulirkan sejumlah stimulus ekonomi untuk kuartal IV 2026

Baca juga: Indef: Stimulus tahap II berpotensi beri efek pengganda bagi ekonomi

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya