Ekonom: Intervensi agresif BI tahan nilai tukar tak jauh dari Rp17.000

1 bulan yang lalu 13
Seharusnya bisa dijaga di bawah Rp17.000, asalkan intervensinya memang intervensi yang agresif,

Jakarta (ANTARA) - Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memandang nilai tukar rupiah masih berpotensi untuk melemah namun pergerakannya diperkirakan tidak bergerak jauh di atas Rp17.000 per dolar AS, asalkan Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi agresif.

Sebagaimana diketahui, pergerakan rupiah belakangan ini dipengaruhi oleh belum meredanya tensi geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel.

“Seharusnya bisa dijaga di bawah Rp17.000, asalkan intervensinya memang intervensi yang agresif,” kata Myrdal saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Ia menambahkan bahwa bank sentral Indonesia juga perlu mempertimbangkan kesinambungan cadangan devisa saat melakukan intervensi di pasar valas, meskipun secara umum kondisi cadangan devisa dinilai masih cukup kuat untuk meredam tekanan pada rupiah.

Menurutnya, potensi arus keluar modal asing dari pasar saham relatif terbatas. Sementara itu, kepemilikan investor asing di pasar surat utang negara dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga dinilai masih dalam level yang dapat dikelola.

Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap cadangan devisa untuk intervensi di pasar valas diperkirakan relatif terbatas.

Meski demikian, Myrdal mengingatkan bahwa cadangan devisa tetap bergantung pada arus masuk devisa dari sektor riil, terutama melalui ekspor dan investasi asing langsung (FDI).

Oleh sebab itu, pemerintah dinilai perlu mencermati perkembangan kinerja ekspor ke berbagai negara tujuan utama seperti kawasan ASEAN, negara-negara Asia, hingga Amerika Serikat untuk memastikan arus devisa tetap terjaga.

“Kalau kita lihat dari potensi outflow di pasar saham ataupun di pasar surat utara negara, harusnya cadangan devisa kita aman, asalkan kita masih tetap mendapatkan flow dari sisi ekspor ataupun juga dari sisi FDI,” kata Myrdal.

Untuk diketahui, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar 151,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS), menurun dibandingkan posisi pada akhir Januari 2026 sebesar 154,6 miliar dolar AS.

BI mencatat, perkembangan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Kondisi ini terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons bank sentral Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.

Meski menurun, BI memastikan, posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank sentral juga menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Nilai tukar rupiah di pasar spot sempat menyentuh level Rp17.010 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi, sebelum kembali menguat ke kisaran Rp16.900-an pada siang hari.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya