REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri pertahanan Turki menawarkan solusi untuk menghadapi salah satu persoalan paling mahal dalam peperangan modern. Ketika drone serang berharga puluhan ribu dolar AS dapat memaksa negara mengerahkan rudal pencegat senilai jutaan dolar AS, perusahaan pertahanan Turki, Aselsan, mengembangkan sistem yang diklaim mampu menghancurkan drone dengan biaya kurang dari 10 ribu dolar AS.
Senjata tersebut bernama Korkut, sistem pertahanan udara jarak sangat pendek yang menggunakan meriam otomatis dan amunisi pintar untuk menghancurkan sasaran di udara. Berbeda dengan sistem pertahanan berbasis rudal, Korkut mengandalkan proyektil yang dapat diprogram untuk meledak di dekat sasaran.
CEO Aselsan, Ahmet Akyol, mengatakan sistem tersebut menawarkan cara yang lebih ekonomis untuk menghadapi drone serang, termasuk pesawat nirawak kamikaze yang dikembangkan berdasarkan desain Shahed asal Iran.
Dalam wawancara dengan Financial Times yang diterbitkan pada Kamis (22/10/2026), Akyol mengungkapkan biaya penghancuran satu drone menggunakan Korkut dapat ditekan hingga kurang dari 10 ribu dolar AS.
Menurut dia, penggunaan rudal pertahanan udara secara terus-menerus untuk menghadapi drone murah bukan pilihan yang berkelanjutan secara ekonomi.
Persoalan tersebut semakin mendesak setelah perang Rusia-Ukraina dan berbagai konflik di Timur Tengah memperlihatkan penggunaan drone dalam jumlah besar. Serangan yang melibatkan puluhan hingga ratusan pesawat nirawak dapat menguras persediaan rudal pencegat, bahkan ketika sebagian besar sasaran berhasil dihancurkan.
Rudal pertahanan udara seperti Patriot PAC-3 dan pencegat IRIS-T dapat berharga ratusan ribu hingga jutaan dolar AS per unit, bergantung pada jenis dan konfigurasinya. Sebaliknya, drone serang tipe Shahed diperkirakan dapat diproduksi dengan biaya puluhan ribu dolar AS.
Perbedaan biaya itu menghadirkan dilema bagi negara yang menjadi sasaran serangan. Mereka harus melindungi infrastruktur strategis dan penduduk, tetapi pada saat bersamaan menghadapi risiko menghabiskan amunisi bernilai jauh lebih tinggi daripada senjata yang digunakan lawan.
Korkut menjadi salah satu jawaban yang ditawarkan Turki terhadap persoalan tersebut.
Meriam 35 milimeter dengan amunisi pintar
Berdasarkan spesifikasi resmi Aselsan, Korkut 150/35 menggunakan dua meriam otomatis kaliber 35 milimeter dengan kemampuan menembakkan amunisi ATOM 35 ABM.
Amunisi tersebut menggunakan teknologi airburst, yakni peluru yang diprogram meledak pada titik tertentu di udara dan menyebarkan pecahan proyektil untuk mengenai sasaran.
Teknologi ini memungkinkan sistem menghadapi drone berukuran relatif kecil tanpa harus mengandalkan hantaman langsung satu peluru terhadap badan pesawat.
Aselsan menyebut Korkut memiliki laju tembak hingga 1.100 butir per menit dengan jangkauan efektif sekitar empat kilometer. Sistem tersebut dilengkapi radar pengendali tembakan dan sensor elektro-optik untuk membantu melacak sasaran.
Satu kelompok sistem Korkut 150/35 terdiri atas tiga kendaraan bersenjata dan satu kendaraan komando-kendali. Kendaraan komando dilengkapi radar pencarian tiga dimensi yang berfungsi mendeteksi, mengidentifikasi, dan membantu menentukan prioritas ancaman.
Menurut laporan Financial Times, harga amunisi pintar 35 milimeter yang digunakan Korkut diperkirakan sekitar 1.000 dolar AS per butir.
Namun, angka tersebut tidak berarti satu peluru selalu cukup untuk menghancurkan satu drone. Jumlah amunisi yang dibutuhkan dapat berbeda berdasarkan ukuran sasaran, jarak penembakan, kecepatan terbang, serta kondisi pertempuran.
Demikian pula, klaim biaya pencegatan kurang dari 10 ribu dolar AS merupakan estimasi yang disampaikan pimpinan Aselsan, bukan biaya tetap yang berlaku dalam seluruh situasi operasional.
Biaya pengoperasian kendaraan, radar, pemeliharaan, dan personel juga harus diperhitungkan untuk mengetahui keseluruhan pengeluaran sistem pertahanan.
Kendati demikian, penggunaan meriam dengan amunisi pintar menawarkan pilihan berbeda dibandingkan ketergantungan pada rudal pencegat berharga mahal.
Sudah digunakan Ukraina
Perkembangan penting lainnya adalah penggunaan Korkut dalam perang Rusia-Ukraina.
Akyol mengatakan sistem pertahanan udara tersebut telah beroperasi di sembilan negara, termasuk Ukraina dan sejumlah negara di kawasan Teluk.
Kepada Financial Times, Angkatan Udara Ukraina mengonfirmasi bahwa salah satu unitnya telah dilengkapi Korkut. Namun, jumlah sistem yang diterima tidak diungkapkan.
Sebelumnya, Middle East Eye melaporkan bahwa Ukraina memperoleh sejumlah kecil sistem Korkut dari Turki untuk memperkuat pertahanan terhadap serangan udara Rusia.
Seorang pejabat Ukraina yang tidak disebutkan identitasnya mengatakan sistem tersebut menunjukkan hasil positif dalam menghadapi serangan Rusia, meskipun masih memerlukan sejumlah penyesuaian teknis.
Pejabat itu juga mengungkapkan kemungkinan pembelian tambahan apabila harga yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan Ukraina.
Sementara itu, Akyol mengklaim Korkut telah menghancurkan hingga ratusan drone selama penggunaannya di berbagai negara. Klaim tersebut belum disertai rincian terbuka mengenai lokasi, jumlah sasaran, dan hasil verifikasi independen.
Penggunaan Korkut di Ukraina menjadi perhatian karena negara tersebut menghadapi serangan drone Rusia dalam skala besar.
Kyiv selama ini menggunakan beragam persenjataan untuk menghadapi ancaman udara, mulai dari senapan mesin berat yang dipasang pada kendaraan hingga sistem meriam antipesawat Gepard buatan Jerman.
Ukraina juga menghadapi tantangan baru dari drone serang bermesin jet yang dapat melaju jauh lebih cepat dibandingkan drone Shahed generasi sebelumnya.
Menurut Financial Times, belum terdapat catatan publik yang memastikan Korkut berhasil menembak jatuh drone bermesin jet.
Analis industri pertahanan Wood & Company, Atınç Özkan, menilai secara teknis Korkut memiliki kemampuan untuk menghadapi sasaran udara berkecepatan tinggi. Sistem tersebut dirancang menghadapi pesawat yang terbang rendah dan rudal jelajah dengan kecepatan subsonik tinggi, sekitar 700 hingga 900 kilometer per jam.
Namun, kemampuan yang dirancang secara teknis tetap harus dibedakan dari keberhasilan operasional yang telah dibuktikan di medan perang.

1 hari yang lalu
5






English (US) ·
Indonesian (ID) ·