Disindir soal Ikhwan, El-Sayed Skakmat Penanya dengan Konstitusi AS

41 menit yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Calon senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, menghadapi pertanyaan tajam mengenai Ikhwanul Muslimin saat berkampanye di Kota Caro, Michigan, Sabtu (17/10/2026). Namun, pertanyaan yang semula meminta dirinya mengecam organisasi Islamis tersebut justru berkembang menjadi perdebatan mengenai kebebasan beragama, kesetiaan kepada konstitusi, dan prasangka terhadap warga Muslim dalam politik Amerika.

Insiden itu berlangsung di wilayah konservatif yang menjadi basis kuat Partai Republik. Seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai Tommy menyela kegiatan kampanye dan meminta El-Sayed menyatakan penolakannya terhadap Ikhwanul Muslimin, gerakan Islamis yang didirikan di Mesir pada 1928.

El-Sayed langsung menyatakan penolakannya. Namun, ia mempertanyakan alasan penanya menganggap dirinya perlu secara khusus membuktikan sikap terhadap organisasi tersebut.

“Tentu. Ya, tentu saja,” jawab El-Sayed ketika diminta mengecam Ikhwanul Muslimin.

“Mengapa Anda mengajukan pertanyaan itu?” lanjutnya.

“Karena mereka adalah kelompok teroris,” jawab Tommy.

El-Sayed kemudian mempertanyakan asumsi yang mendasari pertanyaan tersebut. Ia menilai identitasnya sebagai Muslim tidak semestinya menjadi alasan untuk mencurigai kesetiaannya kepada Amerika Serikat.

“Tetapi apa yang sebenarnya ingin Anda insinuasikan? Apakah Anda berasumsi bahwa saya tidak akan mengecam mereka?” tanyanya.

“Ya, karena saya belum pernah mendengar Anda menyatakan penolakan terhadap mereka,” jawab Tommy.

Pertukaran tersebut menjadi perhatian luas setelah rekamannya beredar di media sosial. The Washington Post dalam laporan Ahad (18/10/2026) menyebut respons El-Sayed menuai pujian dari pendukungnya, tetapi juga kritik dari lawan politik yang menilai jawabannya tidak memadai.

Mengingatkan Pengalaman John F Kennedy

Alih-alih memperpanjang perdebatan mengenai Ikhwanul Muslimin, El-Sayed mengarahkan pembicaraan kepada prinsip konstitusional yang menjadi fondasi kehidupan bernegara di Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa kesetiaannya sebagai calon pejabat publik ditujukan kepada Konstitusi AS, bukan kepada organisasi keagamaan atau gerakan politik tertentu.

“Saya akan bersumpah untuk menjunjung Konstitusi Amerika Serikat. Dan konstitusi itu menjamin hak kita semua untuk menjalankan agama apa pun yang kita inginkan, atau bahkan untuk tidak beragama sama sekali,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disambut sorak-sorai peserta kampanye. El-Sayed kemudian mengingatkan publik pada pengalaman John F Kennedy, presiden Katolik pertama Amerika Serikat, yang pernah menghadapi keraguan mengenai hubungan antara keyakinan agamanya dan kesetiaan kepada negara.

Ketika berkampanye dalam pemilihan presiden 1960, Kennedy menghadapi kekhawatiran sebagian pemilih bahwa seorang presiden Katolik akan lebih tunduk kepada otoritas Vatikan daripada konstitusi Amerika. Kennedy menegaskan bahwa keyakinan pribadinya tidak akan menentukan pelaksanaan tanggung jawab kenegaraan.

El-Sayed menggunakan perbandingan tersebut untuk menjelaskan posisinya sebagai kandidat Muslim. Ia menolak anggapan bahwa agama seseorang dengan sendirinya menentukan orientasi politik atau loyalitas kebangsaannya.

“Saya tidak mencalonkan diri untuk menjadi senator Muslim. Saya mencalonkan diri sebagai anggota Senat Amerika Serikat, dan kebetulan saya seorang Muslim,” katanya.

Baca Artikel Selengkapnya