Direktur CIA Datangi Kuba Bawa Pesan Rahasia dari Trump

20 jam yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), John Ratcliffe, melakukan kunjungan tingkat tinggi ke Kuba pada Kamis dan bertemu langsung dengan sejumlah pejabat penting negara tersebut di Havana. Pertemuan itu menjadi sorotan karena berlangsung di tengah hubungan panjang penuh ketegangan antara Washington dan Havana sejak era Perang Dingin.

Menurut pejabat CIA yang dikutip NBC News dan Associated Press (AP), Ratcliffe bertemu dengan Raul Guillermo Rodriguez Castro, cucu mantan pemimpin Kuba Raul Castro, Menteri Dalam Negeri Kuba Lazaro Alvarez Casas, serta kepala dinas intelijen Kuba.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai isu sensitif mulai dari kerja sama intelijen, keamanan kawasan, hingga kondisi ekonomi Kuba yang tengah mengalami tekanan berat.

Pejabat CIA mengatakan Ratcliffe datang untuk “menyampaikan secara langsung pesan Presiden Donald Trump bahwa Amerika Serikat siap terlibat secara serius dalam isu ekonomi dan keamanan, tetapi hanya jika Kuba melakukan perubahan mendasar.”

Pernyataan itu menunjukkan Washington mulai membuka kemungkinan pendekatan baru terhadap Kuba, meski tetap memberikan tekanan politik kepada pemerintahan komunis di negara Karibia tersebut.

Pemerintah Kuba sendiri mengonfirmasi bahwa pertemuan berlangsung atas permintaan Amerika Serikat. Dalam pernyataan resminya, Havana menyebut dialog itu terjadi “di tengah kompleksitas hubungan bilateral” antara kedua negara.

Hubungan AS dan Kuba selama puluhan tahun dikenal sangat tegang. Sejak Revolusi Kuba 1959 dan naiknya Fidel Castro, Washington memberlakukan embargo ekonomi, pembatasan perdagangan, serta berbagai sanksi yang masih berlangsung hingga sekarang. Kuba juga lama dianggap sebagai rival ideologis Amerika di kawasan Amerika Latin.

Namun situasi belakangan semakin rumit karena Kuba sedang menghadapi krisis ekonomi dan energi yang serius. Jaringan listrik nasional beberapa kali mengalami keruntuhan, pemadaman meluas terjadi di banyak wilayah, sementara pasokan bahan bakar semakin terbatas.

Pemerintah Kuba menilai tekanan ekonomi itu diperparah oleh kebijakan Amerika Serikat yang membatasi akses energi dan perdagangan. Dampaknya terasa langsung bagi masyarakat, mulai dari jam kerja yang dipangkas hingga makanan yang membusuk akibat listrik mati berkepanjangan.

sumber : Xinhua

Baca Artikel Selengkapnya