Dihantam Sanksi dan Serangan Ukraina, Pendapatan Minyak Rusia Justru Melonjak

22 menit yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tekanan sanksi Barat belum menghentikan aliran minyak Rusia ke pasar dunia. Ketika harga minyak global melonjak akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah, nilai ekspor minyak mentah Rusia melalui jalur laut justru meningkat tajam.

Bloomberg melaporkan nilai bruto minyak mentah yang dikapalkan dari pelabuhan Rusia mencapai sekitar 2,75 miliar dolar AS pada pekan yang berakhir 27 September 2026. Kenaikan itu ditopang kombinasi harga minyak yang lebih tinggi dan peningkatan volume pengiriman.

Dalam periode empat pekan hingga 27 September, ekspor minyak mentah Rusia rata-rata mencapai sekitar 3,71 juta barel per hari, tertinggi sejak awal Agustus. Sementara rata-rata nilai ekspornya meningkat menjadi sekitar 2,39 miliar dolar AS per pekan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Rusia masih mampu memperoleh manfaat besar dari pasar energi global, meskipun sejak 2022 Amerika Serikat dan sekutunya berupaya membatasi pendapatan Moskow dari sektor minyak.

Nilai 2,75 miliar dolar AS tersebut merupakan estimasi nilai bruto minyak yang dikirim dari pelabuhan Rusia. Angka itu bukan jumlah penerimaan pajak yang langsung masuk ke kas pemerintah Rusia.

Harga Minyak Jadi Penopang

Kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang menopang pendapatan ekspor Rusia. Pasar energi global mengalami tekanan setelah konflik di kawasan Iran mengganggu arus pengiriman melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Gangguan terhadap pengiriman dari kawasan Teluk membuat pasar mencari pasokan alternatif sekaligus mendorong harga minyak internasional lebih tinggi.

Kondisi tersebut menguntungkan negara produsen yang memiliki jalur ekspor di luar Hormuz, termasuk Rusia. Minyak Rusia yang selama beberapa tahun dijual dengan diskon terhadap harga acuan global ikut memperoleh keuntungan ketika harga pasar melonjak.

Harga minyak Urals dari pelabuhan Rusia bagian barat dilaporkan sempat menembus 110 dolar AS per barel pada September. Sementara minyak ESPO yang dikirim dari Rusia Timur berada pada level yang bahkan lebih tinggi.

Harga tersebut jauh melampaui asumsi yang sebelumnya digunakan pemerintah Rusia dalam menyusun anggaran negara. Kenaikan harga memberi Moskow ruang pendapatan yang lebih besar ketika belanja negara, termasuk pertahanan, tetap tinggi.

Sanksi Belum Hentikan Ekspor

Negara-negara Barat telah berusaha membatasi pendapatan minyak Rusia sejak akhir 2022. G7, Uni Eropa, dan sejumlah negara mitra menerapkan pembatasan harga terhadap minyak Rusia yang dikirim melalui laut.

Uni Eropa juga melarang sebagian besar impor minyak mentah Rusia melalui laut sejak Desember 2022, disusul pembatasan terhadap produk minyak olahan pada Februari 2023.

Langkah tersebut dirancang untuk mengurangi pendapatan Rusia tanpa sepenuhnya menghentikan minyak negara itu masuk ke pasar internasional. Penghentian total dikhawatirkan dapat memicu kelangkaan dan lonjakan harga minyak dunia.

Rusia merespons tekanan itu dengan mengubah arah perdagangan. Pasar Eropa yang sebelumnya menjadi salah satu tujuan utama digantikan oleh China, India, dan sejumlah negara Asia.

Perubahan tersebut membuat peta perdagangan minyak Rusia bergeser secara drastis. Sebagian besar minyak mentah yang dikirim melalui laut kini bergerak menuju pasar Asia.

Rusia juga semakin bergantung pada armada kapal dan jaringan perdagangan di luar sistem jasa maritim Barat. Sejumlah kapal yang digunakan dalam perdagangan tersebut kerap disebut sebagai bagian dari shadow fleet atau armada bayangan.

Baca Artikel Selengkapnya