Di Sidang PBB, Raja Yordania Sebut Israel 'Ancaman Regional'

1 jam yang lalu 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Raja Yordania Abdullah II menyebut Israel sebagai "ancaman regional" yang bertindak dengan "tingkat impunitas yang menakutkan".

Pernyataan itu disampaikan saat isu Palestina menjadi fokus utama pidatonya dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Amerika Serikat (AS), Selasa (22/9).

Pada hari pembukaan acara tersebut, Abdullah mengatakan dunia saat ini menghadapi "momen unik dalam sejarah" karena perubahan berlangsung dengan skala dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setiap hari membawa krisis lain, tragedi lain, keadaan darurat lain yang menuntut perhatian kita. Setiap generasi percaya bahwa tantangan yang mereka hadapi tidak tertandingi; mungkin bagi kita itu benar," kata Abdullah, seperti dilaporkan Arab News.

Menurut Abdullah, perhatian telah menjadi aset penting di seluruh dunia karena menentukan "konflik mana yang menerima diplomasi berkelanjutan dan mana yang memudar dari agenda, apakah gencatan senjata bertahan setelah kamera pergi... dan apakah penderitaan kemanusiaan tetap tak tertahankan atau menjadi hal yang biasa."

Abdullah kemudian menyoroti berbagai konflik berkepanjangan di Timur Tengah, termasuk di Lebanon, Yaman, Sudan, dan Iran.

"Jika ada yang ragu bahwa krisis di wilayah kita hanya akan tetap di sana, lihat saja tagihan energi dan bahan makanan keluarga biasa dari Mumbai hingga Madrid hingga Minnesota," katanya.

"Perang Iran telah menunjukkan betapa cepatnya ketidakstabilan dapat mengganggu perdagangan, investasi, dan kehidupan di luar wilayah ini," lanjutnya.

Namun, Abdullah mengatakan Gaza tetap menjadi salah satu persoalan utama yang harus mendapat perhatian dunia.

"Selama beberapa dekade, saya telah berdiri di hadapan majelis ini dan memperingatkan bahaya membiarkan konflik Palestina-Israel tidak terselesaikan," katanya.

Abdullah menilai komunitas internasional selama ini lebih memilih "mengelola" konflik Palestina-Israel daripada menyelesaikannya. Ia mempertanyakan nilai hukum internasional jika aturan tersebut dapat diabaikan selama puluhan tahun.

"Jika hukum internasional dapat diabaikan selama beberapa dekade, lalu apa sebenarnya nilai hukum itu? Dan bagaimana kita dapat menegakkannya jika kita bahkan tidak mau mengecam pelanggarannya?" kata Abdullah.

Ia juga menyoroti jumlah korban Palestina di Gaza. Menurutnya, dalam 300 hari pertama periode yang disebut sebagai gencatan senjata, setidaknya 300 anak Palestina tewas.

Abdullah mengutuk Israel karena "mengubah aturan main" serta terus melancarkan serangan dan menghancurkan infrastruktur sipil di Gaza. Ia juga menuding Israel menolak menarik pasukannya dari wilayah tersebut.

Menurut Abdullah, kondisi itu membuat warga Palestina hanya dapat tinggal di wilayah yang mencakup sekitar sepertiga luas Gaza.

Ia meminta para pengamat tidak lagi melihat kebijakan Israel sebagai sekadar "tindakan militer sementara" atau "konsekuensi perang".

"Akuntabilitas dimulai ketika kita menyebut segala sesuatu apa adanya: sebuah upaya untuk menghapus kehidupan Palestina dan memaksakan realitas teritorial baru di Gaza," ujarnya.

Abdullah kemudian memperingatkan kondisi di Tepi Barat. Menurutnya, perkembangan di wilayah tersebut jauh lebih berbahaya daripada sekadar peningkatan ketegangan.

"Sementara perhatian dunia tertuju pada Gaza, sesuatu yang luar biasa berbahaya sedang terjadi di Tepi Barat," katanya.

"Sebagian orang mungkin berpikir kita pernah melihat ini sebelumnya: pemukiman, kekerasan, penggusuran, hal yang sama terus berulang. Tetapi sebenarnya tidak, dan ini bukan sekadar peningkatan ketegangan," lanjutnya.

"Ini adalah perubahan mendasar. Apa yang dulunya merupakan proses yang perlahan kini telah meledak menjadi sesuatu yang jauh lebih agresif," tambahnya.

Abdullah menyoroti meningkatnya serangan pemukim terhadap warga Palestina serta penghancuran tanah dan properti milik mereka. Ia menuduh Israel berusaha memperkuat kendali atas Tepi Barat yang diduduki, memperluas permukiman, dan mengusir warga Palestina.

"Tentara Israel hanya berdiri menyaksikan para pemukim menyerang warga Palestina, sering kali melindungi para penyerang atau bergabung dengan mereka," kata Abdullah.

[Gambas:Video CNN]

Ia juga menuduh pasukan Israel menghalangi ambulans untuk mencapai korban luka dan menargetkan jurnalis internasional yang meliput kondisi di wilayah tersebut.

"Dan ketika tentara hanya menonton, membiarkan, dan terkadang bahkan ikut serta dalam kekerasan terhadap warga sipil, ini bukan lagi tentang 'segelintir perusuh'," ujarnya.

Menurut Abdullah, aktivitas Israel di Tepi Barat harus dipahami sebagai kebijakan pengusiran paksa. Ia mendesak masyarakat internasional melihat Gaza dan Tepi Barat sebagai bagian dari satu kesatuan bangsa Palestina.

Ia mengatakan Gaza telah "dihancurkan", sedangkan Tepi Barat "secara de facto dianeksasi". Menurutnya, kondisi tersebut membuat pembentukan negara Palestina yang layak semakin sulit.

Lanjut ke sebelah...

Baca Artikel Selengkapnya