REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan di Myanmar berkumpul di Pusat Kebudayaan China di Yangon untuk merayakan Festival Perahu Naga, Jumat (20/6). Acara tersebut tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan tradisi Tiongkok, tetapi juga mempererat hubungan budaya antara Myanmar dan China.
Kegiatan yang dihadiri perwakilan Kedutaan Besar China di Myanmar, Asosiasi Persahabatan Myanmar-China, kalangan akademisi, serta lembaga pendidikan berbahasa Mandarin itu menghadirkan beragam pengalaman budaya tradisional. Para peserta diajak membuat zongzi atau makanan khas Festival Perahu Naga, mencoba kaligrafi China, mengikuti kuis interaktif, hingga menikmati pertunjukan seni dan budaya.
Ketua Asosiasi Persahabatan Myanmar-China, U Tin Oo, mengatakan acara tersebut menunjukkan banyaknya kesamaan budaya antara kedua negara. Menurut dia, Myanmar juga memiliki tradisi festival perahu yang mencerminkan kedekatan nilai budaya masyarakat kedua bangsa.
"Saya sangat senang dapat bergabung dalam acara ini. Kita dapat melihat bagaimana budaya kita terhubung melalui pertunjukan dan kegiatan. Myanmar juga memiliki festival perahu tradisional, yang menunjukkan kesamaan antara budaya kita," katanya.
Antusiasme juga terlihat dari kalangan generasi muda Myanmar yang memanfaatkan kegiatan tersebut untuk mengenal lebih dekat budaya Tiongkok.
Wai Sai Thi (18 tahun), salah seorang peserta, mengatakan dirinya mulai belajar bahasa Mandarin sejak usia 13 tahun. Menurut dia, kegiatan budaya seperti Festival Perahu Naga memberikan kesempatan untuk memahami tradisi China secara langsung sekaligus memperluas pergaulan.
"Melalui acara seperti ini, saya bisa berteman baru dan lebih memahami budaya Tiongkok. Jika ada kesempatan, saya ingin mengunjungi Tiongkok di masa depan dan mempelajari lebih lanjut tentang teknologi canggihnya," ujarnya.
Peserta lain, Khine Thazin Tun (24 tahun), yang menampilkan tarian tradisional Myanmar dalam acara tersebut, mengaku terkesan dengan pengalaman mencoba kaligrafi China untuk pertama kalinya.
"Ini adalah pertama kalinya saya menulis aksara Tiongkok dengan kuas, dan saya merasa gembira dan bahagia," katanya.
Ia juga menilai terdapat banyak kesamaan budaya kuliner antara Myanmar dan China, terutama penggunaan beras ketan dalam berbagai hidangan tradisional.
Sementara itu, Thanzin Lin (24 tahun) menilai kegiatan pertukaran budaya menjadi sarana penting untuk memahami tradisi masyarakat negara lain secara lebih mendalam. Menurut dia, pembelajaran bahasa akan lebih bermakna apabila diikuti pemahaman terhadap sejarah dan budaya yang melatarbelakanginya.
sumber : Xinhua

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·