Jakarta, NU Online
Gempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB masih diikuti ribuan gempa susulan. Hingga Ahad (23/8/2026) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 5.688 gempa susulan dengan magnitudo M1,1 hingga M6,2. Dari jumlah tersebut, sebanyak 32 gempa susulan memiliki magnitudo di atas lima. Sementara itu, 130 kejadian dirasakan oleh masyarakat.
Di tengah aktivitas seismik yang masih berlangsung, jumlah korban dan warga yang mengungsi juga terus bertambah. Hingga Sabtu (22/8/2026) pukul 17.00 WIB, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan menyampaikan bahwa korban meninggal dunia mencapai 87 jiwa.
“Pada hari ini secara kumulatif jumlah yang meninggal ada 87 jiwa dengan rincian Manggarai 31 jiwa, Manggarai Timur 30 jiwa, Sikka sembilan jiwa, Ende dua jiwa, Manggarai Barat satu jiwa, Nagekeo 13 jiwa, Ngada empat jiwa,” ujarnya dalam konferensi pers, Sabtu (22/8/2026).
Berton menjabarkan bahwa korban yang mengalami luka-luka mencapai 1.298 jiwa. “Di mana yang luka berat di Kabupaten Manggarai Timur dengan total 643 jiwa, ini merupakan luka yang terbanyak. Kemudian diikuti Kabupaten Manggarai sebanyak 285 jiwa,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa jumlah warga yang mengungsi juga meningkat dari sebelumnya sekitar 130 ribu jiwa menjadi 150.576 jiwa.
“Dengan rincian kami akan sampaikan tiga yang paling besar, Kabupaten Manggarai 41.427 jiwa Kabupaten Nagekeo 34256 jiwa, Kabupaten Manggarai Timur 31.372 jiwa,” tuturnya.
Berton menyampaikan dampak gempa juga terlihat dari kerusakan bangunan. Sebanyak 53.971 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 19.006 unit rusak berat, 11.777 unit rusak sedang, dan 23.188 unit rusak ringan.
Selain rumah warga, kerusakan terjadi pada 1.378 fasilitas pendidikan, 345 tempat ibadah, 356 fasilitas kesehatan, dan 403 kantor. Jaringan jalan dan irigasi yang rusak total tercatat sebanyak 182.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan bagi rumah yang mengalami kerusakan. Untuk rumah rusak ringan dan rusak sedang, bantuan diberikan melalui skema stimulan. Rumah rusak sedang memperoleh dana stimulan Rp30 juta, sedangkan rumah rusak ringan Rp15 juta. Adapun rumah rusak berat akan dibangun kembali sesuai dengan anggaran yang tersedia.
“Sejauh ini kita masih dalam tahap penanganan darurat. Memang tahap darurat ini minggu pertama ini maupun minggu kedua itu lebih mengutamakan kepada pemenuhan kebutuhan dasar,” ucap Berton.
Berton menyampaikan bahwa kondisi rumah terdampak nantinya akan diverifikasi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
“Pada dasarnya nanti rumah-rumah yang disampaikan tadi itu akan melakukan verifikasi. Verifikasi setelah nanti dua atau tiga minggu lagi verifikasi akan dilakukan dan akan segera dilakukan langkah-langkah lanjutnya,” pungkasnya.

5 jam yang lalu
1




English (US) ·
Indonesian (ID) ·