Dari Sanders ke Mamdani: Peta Baru Kekuasaan yang Mengubah Partai Demokrat AS

1 jam yang lalu 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pertarungan terbesar Partai Demokrat Amerika Serikat belakangan ini tidak selalu berlangsung melawan Partai Republik. Di dalam tubuh Demokrat sendiri, perebutan arah politik antara kelompok moderat, liberal arus utama, progresif, hingga demokrat sosialis semakin terbuka. Kemenangan sejumlah kandidat baru menunjukkan bahwa peta kekuatan di dalam partai tersebut sedang berubah.

Evan Barker, mantan penggalang dana dan aktivis politik Demokrat yang pernah bergerak dalam lingkungan politik Bernie Sanders, melihat perubahan tersebut dari sudut yang sangat kritis. Barker, yang kemudian meninggalkan Demokrat dan memilih Donald Trump pada Pilpres 2024, menilai kelompok progresif kini memperoleh pengaruh jauh lebih besar terhadap donor, aktivis, staf kampanye, dan proses pencalonan Demokrat. Pengaruh itu, menurut Barker, bahkan telah berkembang melampaui kemampuan pimpinan utama partai untuk mengendalikannya.

Namun, Barker bukan pengamat yang datang dari luar gelanggang. Ia berasal dari keluarga serikat pekerja di Kansas City, mulai terlibat politik sejak gelombang kampanye Barack Obama, pernah menjadi organizer Hillary Clinton, kemudian bekerja di perusahaan penggalangan dana progresif Left Rising. Sepanjang karier politiknya, Barker mengaku membantu menggalang sekitar 50 juta dolar AS bagi kandidat Demokrat sebelum akhirnya berbalik menjadi salah satu pengkritik keras arah politik partai tersebut.

Karena latar belakang itulah pernyataan Barker menarik untuk dicermati. Bukan berarti pandangannya otomatis menjadi gambaran objektif mengenai seluruh Partai Demokrat, melainkan karena kritik tersebut datang dari seseorang yang pernah berada di dalam jaringan politik progresif. Salah satu ucapannya bahkan merangkum hampir satu dekade pertarungan internal Demokrat hanya dalam beberapa kalimat, sebagaimana diberitakan Foxnews pada Senin (17/8/2026).

“Sebagian alasan mengapa posisi itu tergeser adalah karena pihak penguasa berusaha keras pada tahun 2020 untuk menghalangi kami, dan pada tahun 2019, setelah AOC menang, mereka membuat daftar hitam, dan itu justru menjadi bumerang bagi mereka. Dan itu membuat sayap kiri ekstrem semakin kuat,” kata Barker dalam Jesse Watters Primetime. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud Barker?

AOC Menang, Elite Demokrat Terguncang

Kisahnya harus ditarik ke Juni 2018, bukan 2019. Alexandria Ocasio-Cortez, ketika itu seorang aktivis berusia 28 tahun yang pernah bekerja sebagai bartender dan menjadi organizer kampanye Bernie Sanders, secara mengejutkan mengalahkan Joe Crowley dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di New York. Crowley bukan politikus biasa, melainkan anggota Kongres senior dan ketika itu termasuk figur paling berpengaruh dalam kepemimpinan Demokrat di DPR AS.

Kemenangan AOC menjadi kejutan besar. Seorang kandidat muda dengan dukungan relawan, donasi akar rumput, dan agenda progresif mampu menjatuhkan politikus senior yang memiliki hubungan kuat dengan struktur utama partai. AOC kemudian berkembang menjadi salah satu wajah paling dikenal dari generasi baru progresif Amerika.

Reputasinya dibangun melalui berbagai isu, mulai dari Green New Deal, perluasan perlindungan sosial, hak pekerja, pengurangan ketimpangan ekonomi, hingga kritik terhadap besarnya pengaruh uang korporasi dalam politik. Kemampuannya menggunakan media sosial juga menjadikannya figur penting dalam menghubungkan politik progresif dengan pemilih muda. Kemenangan AOC pada akhirnya menunjukkan bahwa kandidat yang tidak menjadi pilihan utama elite partai tetap dapat menang melalui mobilisasi akar rumput.

Di mata kelompok progresif, kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa pemilihan pendahuluan dapat digunakan untuk mengganti petahana Demokrat yang dianggap terlalu moderat atau terlalu dekat dengan struktur politik lama. Namun, bagi pimpinan arus utama Demokrat, gelombang penantang terhadap sesama anggota partai menghadirkan persoalan lain. Pertarungan internal dinilai berpotensi menghabiskan uang, tenaga, dan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk menghadapi Partai Republik. Dari sinilah muncul apa yang disebut Barker sebagai “daftar hitam”.

Apa Sebenarnya “Daftar Hitam” 2019?

Pada 2019, Democratic Congressional Campaign Committee atau DCCC, lembaga resmi Partai Demokrat yang membantu kandidat memenangkan kursi DPR AS, menerapkan aturan baru terhadap konsultan dan perusahaan jasa politik. Intinya, DCCC tidak akan memberikan kontrak atau merekomendasikan vendor yang membantu kandidat penantang melawan anggota DPR Demokrat yang sedang menjabat. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk melindungi petahana Demokrat dari serangan sesama kader partai.

Bagi pembaca Indonesia, mekanismenya dapat dibayangkan seperti ini. Seorang kandidat anggota Kongres di Amerika membutuhkan lembaga survei, konsultan komunikasi, ahli media digital, penggalang dana, pembuat iklan, hingga penyusun strategi kampanye. Perusahaan-perusahaan tersebut juga mengincar kontrak dari DCCC karena nilainya besar dan membuka akses kepada banyak kampanye Demokrat.

Maka, aturan baru itu menciptakan pilihan yang tidak sederhana. Jika sebuah perusahaan membantu kandidat progresif menantang anggota Kongres Demokrat yang sedang menjabat, perusahaan tersebut berisiko kehilangan bisnis dari struktur resmi partai. Secara praktis, kebijakan itu memberikan tekanan ekonomi kepada konsultan agar tidak membantu kandidat pemberontak.

Baca Artikel Selengkapnya