Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai, dampak pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih terbatas.
Menurut dia, pergerakan nilai tukar rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan pergantian kepemimpinan di bank sentral.
“Kalaupun terjadi pergerakan nilai tukar, baik berupa apresiasi maupun depresiasi, faktor yang lebih dominan tetap berasal dari sentimen global, seperti arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, kondisi geopolitik, hingga pergerakan arus modal,” kata Yusuf di Jakarta, Senin.
Dari sisi domestik, perhatian pelaku pasar lebih tertuju pada fundamental ekonomi serta arah kebijakan pemerintah dibandingkan semata-mata pergantian pucuk pimpinan BI.
Baca juga: Ekonom: Kesinambungan moneter tetap terjaga usai Perry Warjiyo mundur
Yusuf juga menilai penunjukan Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas Gubernur BI dapat memberikan kepastian bagi pasar.
“Sosok beliau bukanlah figur baru di Bank Indonesia. Sebagai Deputi Gubernur Senior, Destry memiliki pengalaman panjang dalam perumusan kebijakan moneter, menjaga stabilitas sistem keuangan, serta memahami dinamika pasar keuangan,” ujarnya.
Menurut Yusuf, Destry juga memiliki rekam jejak yang kuat sebagai ekonom. Dengan latar belakang tersebut, pasar cenderung memandang proses transisi kepemimpinan sebagai kelanjutan kebijakan, bukan perubahan yang drastis.
Bagi investor asing, perhatian utama bukan terletak pada sosok yang memimpin BI, melainkan pada konsistensi bank sentral dalam menjalankan mandatnya.
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·