Citra Publik Turun Terus, Toko Suvenir Donald Trump Sepi Pembeli

47 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Toko suvenir Donald Trump, Trump Town, di Boones Mill, Virginia, Amerika Serikat (AS), kini sepi pembeli. Omzet di toko milik Whitey Taylor ini sudah terjun bebas dibanding masa kejayaannya.

Taylor mengaku pada masa puncak tokonya kerap meraup US$12 ribu atau Rp214,7 juta (kurs Rp17.891) per hari, sesekali hingga US$15 ribu (Rp268,4 juta). Kini, omzetnya hanya US$1.500 sampai US$2.000 (Rp26,8 juta sampai Rp35,8 juta), kadang mencapai US$3.000 (Rp53,7 juta), dikutip CNN, Sabtu (10/10).

Saat dikunjungi pada Desember 2023, ketika Trump berkampanye untuk kembali ke Gedung Putih, bola Trump berlapis krom untuk gantungan truk menjadi primadona. Pada kunjungan September lalu, bola itu sudah hadir dalam ukuran XL, tetapi pengunjungnya berkurang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasokan China surut

Taylor menyebut pasokan barang dari China berkurang. Pemasok luar negeri tak lagi banyak memproduksi barang baru bertema ucapan terbaru Trump.

Ia juga menilai sebagian penurunan itu justru akibat larisnya toko yang terletak di persimpangan jalan raya ramai tersebut.

"Kebanyakan orang yang datang sudah punya 10 topi Trump, lima bendera, dan entah apa lagi," ujarnya.

Toko itu menjual beragam barang Trump, dari gelas sloki, boneka kepala goyang, hingga cetakan es. Sejumlah barang memakai foto mugshot Trump atau foto Trump mengepalkan tangan usai percobaan pembunuhan.

Ada pula kaleng berlabel kentut sapi yang menyindir komentar anggota DPR AS Alexandria Ocasio-Cortez soal pemanasan global. Menurut Taylor, bendera bergambar Trump bertuliskan "DADDY'S HOME" paling banyak dibeli mahasiswi.

Citra publik di rekor terendah

CNN menyebut di tengah tingkat penerimaan Trump yang berada di rekor terendah, pelanggan setianya pun menyimpan kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan.

Stevie Lovell, teman Taylor, kecewa dengan harga BBM dan tidak mendukung perang Iran. Ia juga mengaku sedikit terganggu oleh berita yang ia dengar bahwa Trump menghasilkan lebih banyak uang selama menjabat dibanding presiden mana pun sebelumnya.

"Saya masih penggemar Trump. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan dia, tapi saya juga tidak sepenuhnya setuju dengan pendeta saya," kata Lovell.

Jamie Varela mengaku belanja dapurnya mencapai US$800 sampai US$1.000 (Rp14,3 juta sampai Rp17,9 juta) per bulan. Ia menilai Trump ikut bertanggung jawab atas mahalnya harga karena perang, tetapi tetap menganggap perang Iran perlu.

Survei CNN pada September menunjukkan dua pertiga warga AS menilai Trump memperburuk ekonomi. Mayoritas juga menyebut perang Iran dan tarif merugikan keuangan mereka.

Barbara Keith, pelanggan asal South Carolina, mempertanyakan mengapa harga bensin tetap tinggi meski AS membuat kesepakatan dengan Venezuela. Namun, ia tak menyalahkan Trump.

Keith juga tidak percaya janji Trump memberi US$5.000 (Rp89,5 juta) kepada setiap warga AS jika Partai Republik tetap menguasai Kongres dalam pemilu sela.

"Mereka semua jadi tukang jualan, dan mereka akan berbohong demi mendapatkan suara Anda. Tidak peduli dari pihak mana," ujar Keith.

Varela dan kasir toko Maria Martin belum menentukan pilihan untuk pemilu sela, sementara Keith enggan mengungkap pilihannya.

Meski begitu, Keith tetap berbelanja. Ia keluar dari toko membawa cetakan es baru berbentuk wajah Trump bertuliskan "end the wokeness".

(fea)

Baca Artikel Selengkapnya