Cina Belum Mendarat, Taiwan Bisa Lebih Dulu Lumpuh

1 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ancaman terbesar bagi Taiwan dalam skenario perang dengan Cina bukan semata-mata keberhasilan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) mendarat di pantai. Risiko yang lebih menentukan justru dapat muncul ketika sistem di dalam pulau itu berhenti bekerja: jaringan listrik padam, internet terganggu, kabel komunikasi terputus, distribusi bahan bakar tersendat, dan satuan-satuan militer kehilangan hubungan dengan pusat komando.

Taiwan sendiri mulai menguji kemungkinan tersebut secara lebih nyata. Dalam latihan perang Han Kuang pada Agustus 2026, pemerintah untuk pertama kalinya sengaja memperlambat akses internet seluler di sejumlah wilayah guna mensimulasikan kondisi ketika komunikasi masyarakat terganggu akibat perang. Latihan itu juga menguji kemampuan institusi sipil tetap bekerja di tengah krisis yang berlangsung bersamaan.

Simulasi tersebut memperlihatkan satu kekhawatiran yang semakin menonjol dalam strategi pertahanan Taiwan. Sebuah negara tidak harus kehilangan seluruh wilayahnya lebih dahulu untuk mengalami kelumpuhan. Jika listrik, komunikasi, logistik, dan struktur komando dapat diputus secara bersamaan, kemampuan bertahan dapat merosot bahkan ketika sebagian besar tentara dan persenjataan masih utuh.

Sebuah analisis mengenai pertahanan Taiwan yang ditulis dari perspektif komunitas operasi khusus Amerika Serikat menilai persenjataan canggih dan serangan presisi memang penting untuk memperlambat musuh. Namun, kemampuan tersebut tidak dapat menggantikan kebutuhan akan struktur masyarakat yang mampu bertahan ketika pulau itu mengalami isolasi fisik dan komunikasi secara total.

Persoalan itu menjadi semakin penting karena hubungan pertahanan dan ekonomi Taiwan dengan Amerika Serikat terus menguat. Diplomat tertinggi AS di Taipei, Raymond Greene, pada Senin (31/8/2026), mengatakan hubungan Washington dengan Taiwan “have never been stronger”, terutama ketika kerja sama kedua pihak semakin dalam di sektor teknologi tinggi dan manufaktur maju.

Namun, hubungan yang erat dengan Washington tidak menghapus persoalan geografis Taiwan apabila perang benar-benar pecah.

Taiwan selama ini banyak mengandalkan porcupine strategy atau strategi landak. Konsep tersebut bertujuan membuat pulau itu menjadi sasaran yang terlalu mahal untuk diserang melalui pembelian senjata asimetris, bergerak, dan relatif sulit dihancurkan.

Harpoon, HIMARS, peningkatan sistem Patriot, drone, serta berbagai platform tempur canggih menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Washington juga mendorong Taipei mengembangkan kemampuan yang dapat menghancurkan armada penyerang sebelum mencapai garis pantai.

Namun, kritik terhadap strategi tersebut mengingatkan bahwa Taiwan bukan sekadar sebuah platform artileri di tengah laut. Taiwan adalah masyarakat dengan sekitar jaringan listrik, rumah sakit, telekomunikasi, pelabuhan, transportasi, gudang pangan, distribusi bahan bakar, dan birokrasi yang semuanya harus tetap bekerja setelah rudal pertama ditembakkan.

Masalah Taiwan berbeda secara fundamental dengan Ukraina. Ukraina memiliki perbatasan darat dengan negara anggota NATO, termasuk Polandia, Slovakia, dan Rumania. Senjata, amunisi, radio, kebutuhan medis, dan berbagai perlengkapan masih dapat dikirim melalui jalur darat tanpa harus menembus wilayah udara ataupun perairan yang dikendalikan Rusia.

Taiwan tidak mempunyai satu pun perbatasan darat. Pulau tersebut dipisahkan dari daratan Cina oleh sekitar 100 mil perairan terbuka. Jika Beijing mampu memberlakukan blokade efektif melalui kapal perang, kekuatan udara, rudal antikapal, serta sistem pertahanan udara, seluruh ruang operasi Taiwan berpotensi tertutup.

Baca Artikel Selengkapnya