China Sulap Gurun Taklimakan Jadi Ladang Gandum yang Subur

1 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hamparan gandum yang menguning kini membentang di Kota Kunyu, wilayah yang berada di tepi selatan Gurun Taklimakan, China. Kawasan yang sebelumnya identik dengan lanskap tandus dan terpaan badai pasir itu perlahan berubah menjadi lahan pertanian produktif berkat kombinasi teknologi irigasi, pengelolaan tanah, dan pemanfaatan sumber daya air dari pegunungan.

Saat ini, ladang-ladang gandum musim dingin di wilayah tersebut tengah memasuki masa panen. Namun keberhasilan mengembangkan pertanian di dekat salah satu gurun terbesar di Asia itu tidak diperoleh dengan mudah. Salah satu tantangan utama yang dihadapi petani adalah pasir yang terbawa angin dan berpotensi merusak tanaman muda.

Untuk mengatasi masalah tersebut, para petani memanfaatkan sistem irigasi poros tengah berukuran besar yang tidak hanya menyuplai air ke lahan pertanian, tetapi juga membantu mengurangi debu dan pasir yang beterbangan.

"Sistem irigasi membantu mengurangi pasir yang beterbangan dan melindungi tanaman. Sistem ini juga meningkatkan kelembapan yang bermanfaat bagi pertumbuhan gandum," kata Cui Gangchuang, penanggung jawab perkebunan gandum setempat.

Air yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian tersebut berasal dari lelehan salju Pegunungan Kunlun. Setelah melalui proses penyaringan, air dialirkan ke area pertanian yang berada di pinggiran gurun.

Selain gandum, petani setempat juga mulai berhasil mengembangkan berbagai komoditas lain, termasuk padi. Keberhasilan tersebut didukung oleh perbaikan kualitas tanah dan penerapan teknologi penghematan air yang memungkinkan budidaya tanaman dilakukan di lingkungan yang sebelumnya dinilai tidak ideal untuk pertanian.

"Tanah yang dulunya tandus ini kini bertransformasi menjadi lahan pertanian yang produktif. Kami bangga dengan apa yang telah kami capai," kata petani padi setempat, Zhang Zhengqian.

Upaya diversifikasi tanaman juga terus dilakukan. Di sejumlah lahan yang baru direklamasi, petani mulai membudidayakan tanaman jarak yang dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi lingkungan ekstrem.

"Di lahan yang baru direklamasi ini, kami menanam tanaman jarak. Tanaman jarak tahan terhadap kekeringan, tahan alkali, dan tangguh, sehingga sangat cocok untuk area ini," ujar Xiao Han, penanggung jawab perkebunan tanaman jarak.

Transformasi yang terjadi di Kunyu menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi pertanian modern dimanfaatkan untuk mengatasi keterbatasan lingkungan. Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan yang terus bertambah, pengembangan pertanian di kawasan kering dan semi-gurun semakin dipandang sebagai salah satu strategi penting untuk memperkuat ketahanan pangan pada masa depan.

sumber : Xinhua

Baca Artikel Selengkapnya