REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — China langsung menutup akses 10 entitas Amerika Serikat terhadap barang-barang dwiguna asal negaranya. Salah satunya Aveox, Inc., perusahaan yang masuk dalam daftar kontrol ekspor terbaru Beijing.
Keputusan itu diumumkan Kementerian Perdagangan China pada Senin. Beijing menyebut langkah tersebut diambil untuk melindungi keamanan dan kepentingan nasional, sekaligus menjalankan kewajiban internasional terkait non-proliferasi.
Namun, daftar yang dirilis China menunjukkan pesan yang lebih keras. Sejak pengumuman itu berlaku, operator ekspor dilarang mengirim barang-barang dwiguna kepada 10 entitas AS tersebut. Barang dwiguna adalah produk yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan militer atau teknologi strategis.
Daftarnya bukan perusahaan sembarangan. Selain Aveox, Inc., China juga memasukkan Red Cat Holdings, Inc., Teal Drones, Inc., IMSAR, Jaia Robotics, Inc., Ball Aerospace & Technologies Corp., Oshkosh Defense, L3Harris Maritime Services, Inc., MP Materials Corp., dan USA Rare Earth, Inc.
Sebagian nama itu berkaitan dengan drone, pertahanan, teknologi maritim, aerospace, hingga mineral strategis. Artinya, larangan ini tidak hanya menyasar perdagangan biasa, tetapi juga rantai pasok teknologi yang makin sensitif di tengah rivalitas Beijing dan Washington.
China tidak berhenti pada larangan ekspor langsung. Kementerian Perdagangan China juga menegaskan organisasi dan individu dari negara atau wilayah mana pun dilarang mentransfer atau menyediakan barang-barang dwiguna asal China kepada entitas-entitas AS yang telah masuk daftar tersebut.
Dengan kata lain, celah melalui pihak ketiga juga ditutup. Pernyataan kementerian menyebut seluruh kegiatan ekspor yang sedang berjalan dan berkaitan dengan 10 entitas itu harus segera dihentikan. Tidak ada masa transisi panjang. Tidak ada ruang abu-abu.
Keputusan ini memperlihatkan bagaimana perang teknologi antara dua kekuatan terbesar dunia semakin masuk ke wilayah yang sangat konkret: drone, radar, pertahanan, mineral langka, dan suplai industri strategis.
Bagi AS, daftar itu bisa menjadi pukulan pada perusahaan yang bergantung pada komponen atau material asal China. Bagi Beijing, ini adalah sinyal bahwa kontrol ekspor kini menjadi senjata balasan dalam pertarungan geopolitik.
Pesannya jelas. China tidak lagi hanya memprotes tekanan Amerika Serikat. Beijing mulai memotong jalur pasok yang dianggap menyentuh jantung keamanan nasionalnya.
sumber : Xinhua

2 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·