Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah tim peneliti di China telah mengusulkan empat alat utama sistem senjata (alutsista) yang dapat dengan cepat beralih di berbagai jenis medan perang, salah satunya kendaraan lapis baja yang bisa beroperasi di bawah air selama dua jam.
Para peneliti dari Inner Mongolia First Machinery Group ini telah menulis makalah yang diterbitkan oleh jurnal ilmiah China, Acta Armamentarii, pada 6 Agustus lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam makalah tersebut, tim peneliti menawarkan rancangan alutsista yang dapat melakukan misi di darat, air, udara, dan medan elektromagnetik sekaligus.
Para peneliti menyatakan desain mereka sudah maju ke aplikasi teknik dan "validasi berorientasi pertempuran" setelah prototipe dan uji lapangan membuktikan kelayakannya.
Menurut para ilmuwan, alutsista ini akan dibutuhkan dalam operasi militer di masa mendatang, yang bakal berkoordinasi erat dengan platform dan sistem di berbagai domain.
Rancangan alutsista ini ditempatkan dalam proyeksi pengembangan kendaraan lapis baja pada tahun 2030-2050.
Menurut tim, peperangan lapis baja di masa depan akan melibatkan kendaraan yang dapat beradaptasi lebih cepat terhadap ancaman yang berubah-ubah dan berkoordinasi dengan sistem seperti drone.
South China Morning Post (SCMP) melaporkan para penulis menyebut kendaraan lapis baja konvensional membutuhkan waktu lebih dari 45 detik untuk beralih dari pengintaian ke penyerangan target.
Mereka juga mengatakan efektivitas kendaraan konvensional dalam mencegat banyak target dapat turun dari 89 persen menjadi 38,9 persen dalam serangan drone selama 10 detik.
Sejalan dengan itu, para peneliti merancang kendaraan yang dapat mengambil keputusan serang hanya dalam 9 detik.
Kendaraan ini juga didesain untuk menyesuaikan misi yang berbeda lingkungan.
Berdasarkan makalah tim peneliti, alutsista ini salah satunya menawarkan kemampuan untuk bergerak di bawah air hingga kedalaman 50 meter selama dua jam. Kendaraan ini dibuat bisa bertransisi dari darat ke air hanya dalam waktu 12 menit.
Berdasarkan tes yang telah dilakukan, tim mengaku waktu koneksi modul rata-rata 8,7 detik dan tingkat keberhasilan 98,3 persen di 1.000 percobaan pada suhu 50 derajat Celcius hingga -20 derajat Celcius di bawah interfensi elektromagnetik kuat dan di medan berlumpur.
Meski begitu, SCMP mencermati bahwa tes ini tidak membuktikan kinerja modul di bawah air. Tidak ada pula tes yang merinci kecepatan atau jangkauan di bawah air.
Konsep ini sendiri dimaksudkan memberi fleksibilitas yang lebih besar kepada unit lapis baja dalam operasi amfibi. Rancangan ini memungkinkan kendaraan untuk mendekat melalui air sebelum beralih ke konfigurasi darat untuk operasi di daratan.
Para peneliti mengusulkan agar alutsista ini menggabungkan manuver bawah air dengan sistem pembersihan rintangan yang dibantu drone. Mereka memproyeksi bahwa desain ini bisa membersihkan 30 rintangan per menit dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk operasi pendaratan hingga 60 persen.
Modul ini diperkirakan memiliki kecepatan setidaknya 70 km/jam di jalanan dan 40 km/jam di luar jalan. Jangkauannya diprediksi sekitar 600 km menggunakan tenaga hibrida.
Para penulis mengatakan konsep ini bisa meningkatkan kinerja di lima area utama dibandingkan dengan kendaraan lapis baja modular yang ada, seperti Boxer buatan Jerman. Mereka memperkirakan desain ini dapat memangkas biaya keseluruhan sekitar 40 persen.
(blq/rds)

54 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·