Celios: Independensi BI gerbang terakhir jaga stabilitas ekonomi

2 jam yang lalu 2
Ketika fiskal kita ini buruk pengelolaannya … seharusnya ada pengawal terakhir yang itu dipegang oleh otoritas moneter yang tidak boleh diintervensi siapapun dan apapun

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai independensi Bank Indonesia (BI) menjadi gerbang terakhir untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.

“Ketika fiskal kita ini buruk pengelolaannya … seharusnya ada pengawal terakhir yang itu dipegang oleh otoritas moneter yang tidak boleh diintervensi siapapun dan apapun,” kata Nailul dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis.

Menurut Nailul, independensi BI penting agar bank sentral dapat menjalankan fungsi menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar tanpa tekanan dari kepentingan kebijakan fiskal pemerintah.

Ia mengatakan pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa ketergantungan bank sentral terhadap pemerintah dapat menimbulkan persoalan ketika kebijakan moneter digunakan untuk mendukung kebutuhan fiskal.

Nailul menjelaskan penguatan independensi bank sentral merupakan salah satu pembelajaran dari berbagai krisis ekonomi yang terjadi sejak periode pasca-Perang Dunia.

Menurut dia, pada periode tersebut sejumlah bank sentral masih berada di bawah pengaruh pemerintah karena dibutuhkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan pemulihan ekonomi pascaperang.

Namun, pengalaman inflasi tinggi kemudian mendorong perubahan paradigma menuju bank sentral yang lebih independen.

Indonesia, kata dia, juga mengalami perubahan tersebut setelah krisis ekonomi 1997-1998. Penguatan independensi BI kemudian dituangkan melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang selanjutnya mengalami perubahan pada 2004.

Nailul menilai independensi tersebut semakin penting seiring terbukanya arus modal.

Menurut dia, ketika arus modal dapat bergerak keluar-masuk dengan cepat, bank sentral membutuhkan kredibilitas untuk menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar.

Ia juga mengingatkan risiko apabila kebijakan moneter terlalu diarahkan untuk mendukung kebutuhan fiskal pemerintah. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat memicu kekhawatiran pasar terhadap kredibilitas kebijakan dan pada akhirnya mendorong arus modal keluar.

Lebih lanjut, Nailul mengingatkan bahwa tekanan fiskal yang tidak dikelola dengan baik juga dapat mempengaruhi kepercayaan terhadap rupiah.

Ketika kepercayaan terhadap mata uang domestik menurun, masyarakat maupun investor dapat mengalihkan asetnya ke valuta asing sehingga meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar.

Ia berharap pemimpin BI ke depan tetap mampu menjaga independensi bank sentral dari tekanan pemerintah maupun kepentingan kebijakan jangka pendek.

Baca juga: Bakom tegaskan tak ada wacana BI jadi bagian pemerintah

Baca juga: DPR RI: Gubernur BI baru harus jaga independensi bank sentral

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya