REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ribuan pecahan porselen yang terkubur selama berabad-abad di bawah bekas kompleks tungku kekaisaran China mulai menemukan pasangannya. Para peneliti di Jingdezhen, Provinsi Jiangxi, menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mempercepat pemulihan bejana naga, salah satu jenis porselen berukuran besar yang paling sulit dibuat dan direstorasi.
Teknologi tersebut membantu peneliti menyisir lebih dari 15 ribu pecahan yang ditemukan pada lapisan peninggalan Dinasti Ming di kawasan tungku kekaisaran Jingdezhen. Pekerjaan yang sebelumnya sangat bergantung pada pengamatan mata dan ingatan manusia kini diperkuat dengan pencocokan berbasis algoritma serta basis data karakteristik setiap pecahan.
Kantor berita Xinhua melaporkan, Rabu (29/7/2026), tim Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen menghabiskan hampir 40 tahun untuk mencocokkan dan memulihkan tiga bejana naga secara manual. Setelah menggunakan AI, tim tersebut diklaim mampu memulihkan setara satu setengah bejana dalam waktu kurang dari dua bulan.
Perbandingan itu menunjukkan percepatan sangat besar pada tahap pencocokan. Namun, laporan tersebut tidak memerinci apakah cakupan pekerjaan, tingkat penyelesaian, dan tahapan konservasi pada restorasi manual dan berbantuan AI sepenuhnya sama. AI terutama digunakan untuk menemukan kemungkinan hubungan antarkeping, bukan mengambil alih seluruh pekerjaan restorasi.
Terobosan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah Situs Industri Porselen Kerajinan Jingdezhen resmi dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada Sabtu (25/7/2026), dalam Sidang Komite Warisan Dunia ke-48 di Busan, Korea Selatan. UNESCO mencatat kawasan itu sebagai warisan berseri yang terdiri atas lima komponen dan menggambarkan perkembangan produksi porselen dari abad ke-10 hingga abad ke-19.
Hanya Lima dari 100 yang Lolos
Bejana naga merupakan wadah porselen berukuran besar yang dibuat khusus bagi lingkungan istana kekaisaran pada masa Dinasti Ming, yang berkuasa pada 1368–1644, dan Dinasti Qing pada 1644–1911. Nama bejana itu berasal dari motif naga yang digambarkan bergerak di antara awan pada bagian dindingnya.
Ukuran yang besar membuat proses pembentukannya rumit. Tanah porselen harus dibentuk secara presisi, dikeringkan tanpa retak, dilukis, dilapisi glasir, kemudian dibakar pada suhu tinggi dengan risiko perubahan bentuk yang besar.
Menurut laporan Xinhua yang mengutip peneliti Jingdezhen, hanya sekitar lima dari setiap 100 bejana yang selesai dibakar dapat lolos pemeriksaan mutu kekaisaran. Bejana yang retak, berubah bentuk, salah warna, atau dinilai tidak memenuhi standar harus dihancurkan dan dikubur di sekitar lokasi produksi. Barang yang ditolak itu dilarang beredar di tengah masyarakat.
sumber : Xinhua

2 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·