BSSN sebut tren AI ubah lanskap serangan siber AI di sektor keuangan

3 jam yang lalu 1
Intinya kita berharap mendorong, bahkan sudah diatur dalam peraturan, bahwa setiap organisasi wajib punya, membentuk, mengoperasikan tim tanggap insiden siber

Jakarta (ANTARA) - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyampaikan bahwa perkembangan kecerdasan artifisial (AI) telah mengubah lanskap serangan siber pada sektor keuangan.

Direktur Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan dan Pariwisata BSSN Edit Prima mengatakan AI mengubah seluruh siklus serangan siber menjadi lebih otomatis, adaptif dan efektif.

"Jadi dengan bantuan AI, penipuan sangat mudah, sangat personal, sangat meyakinkan, hampir bebas dari kesalahan tata bahasa dan sulit dibedakan dari versi asli,” kata Edit dalam acara Indonesian Cyber Security Summit 2026 di Jakarta, Kamis.

Menurut Edit, penggunaan AI dalam serangan siber menjadi berbahaya bagi sektor keuangan karena sejumlah alasan.

Pertama, AI memungkinkan penyerang menyasar ribuan target secara bersamaan. AI mampu menganalisis data untuk membuat serangan yang lebih terarah dan relevan.

Kedua, AI mempercepat setiap tahapan serangan, mulai dari pengakuan hingga eksploitasi. AI bisa beradaptasi dan menghindari sistem keamanan tradisional.

Ketiga, ketersediaan berbagai perangkat AI membuat serangan siber canggih dapat dilakukan oleh siapa saja.

“AI ini telah menciptakan kalau istilah kita itu democratization of tech. Jadi siapapun bisa melakukan serangan, tidak harus orang yang punya kemampuan skill teknis yang memadai. Cukup dengan bantuan tools, layanan-layanannya sudah bisa didapatkan dengan harga yang cukup murah,” jelasnya.

Baca juga: OJK sebut Indonesia masuk sepuluh besar negara target anomaly traffic

Baca juga: OJK bersama PPATK-BSSN kerja sama untuk keamanan sektor jasa keuangan

Edit menerangkan apabila serangan siber berbasis AI semakin gencar terjadi, sektor keuangan akan menghadapi berbagai dampak, mulai dari meningkatnya kerugian finansial, hilangnya kepercayaan nasabah, gangguan operasional, hingga penurunan reputasi perbankan.

Oleh karena itu, BSSN berupaya memperkuat ketahanan siber di sektor keuangan melalui sejumlah strategi, salah satunya dengan meningkatkan kolaborasi bersama lembaga-lembaga di sektor keuangan, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI).

BSSN juga membentuk Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) serta mendorong setiap organisasi untuk memiliki tim khusus serupa.

TTIS merupakan tim yang bertugas melakukan deteksi dini, respons cepat, dan mitigasi terhadap insiden siber. Tim itu menjadi perpanjangan tangan BSSN di lapangan dan berperan sebagai first responder sebelum insiden berkembang lebih jauh.

“Untuk kolaborasi yang lebih teknis, kita mendorong di setiap organisasi pelaku industri keuangan ini bisa punya tata kelola penanganan insiden yang rapi dan terstruktur,” kata Edit.

BSSN juga mengimbau setiap organisasi di industri keuangan wajib memiliki, membentuk dan mengoperasikan TTIS, sekaligus melakukan registrasi tim tersebut kepada BSSN.

“Intinya kita berharap mendorong, bahkan sudah diatur dalam peraturan, bahwa setiap organisasi wajib punya, membentuk, mengoperasikan tim tanggap insiden siber. Tidak hanya itu, juga mendaftarkan atau registrasi ke BSSN,” ujarnya.

Baca juga: BPK: BSSN jadi contoh lembaga yang responsif

Baca juga: OJK susun pedoman keamanan siber untuk industri pindar

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya