BRI jaga likuiditas secara disiplin memasuki semester II 2026

50 menit yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyatakan bahwa perseroan akan terus menjaga likuiditas secara disiplin memasuki semester II 2026, terutama dengan menyelaraskan antara pertumbuhan kredit dan kapasitas penghimpunan dana.

"Strategi tersebut akan terus kita jalankan untuk memperkuat dana murah. Kita juga memiliki beberapa anchor client supaya struktur pendanaan kita tetap sehat dan efisien," kata Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu RK, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Viviana mengatakan perseroan juga tetap mewaspadai dinamika atau risiko likuiditas hingga akhir tahun 2026, meski likuiditas perbankan nasional saat ini masih berada pada level yang memadai.

Loan to deposit ratio (LDR) industri perbankan per Juni 2026 tercatat sebesar 88,3 persen. Sementara, LDR BRI sendiri berada pada level 90,8 persen pada periode yang sama.

Viviana menjelaskan indikator LDR ini menjadi penting untuk dilihat karena menggambarkan bagaimana posisi likuiditas di samping rasio lainnya seperti liquidity coverage ratio (LCR).

"Kalau kita lihat angka 88,3 persen (industri), kemudian BRI-nya 90,8 persen, sebenarnya likuiditas perbankan nasional ini masih bisa kita katakan pada level yang memadai. Namun, demikian, kita tentunya masih harus terus mewaspadai terkait dengan dinamika likuiditas sampai dengan akhir tahun," kata Viviana.

Hingga akhir triwulan II 2026, total penyaluran kredit BRI tumbuh sebesar 16,2 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1.645,5 triliun.

Sementara, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.580,7 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 6,7 persen (yoy).

Adapun rasio dana murah (CASA) BRI tercatat sebesar 67,6 persen atau meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 65,5 persen.

Lebih rinci, tabungan tercatat tumbuh sebesar 11,3 persen (yoy) mencapai Rp619,1 triliun serta giro tumbuh 8,5 persen (yoy) mencapai Rp449,6 triliun.

Peningkatan komposisi dana murah ini berdampak positif terhadap biaya dana (cost of fund) dengan mencatat penurunan sebesar 0,7 persen dari 3,0 persen per akhir triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen per akhir triwulan II 2026 secara bank only.

Sementara itu, Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengatakan, perseroan menilai LDR yang sebesar 90,8 persen merupakan level ideal untuk menjalankan fungsi intermediasi perbankan.

Di sisi lain dari permodalan, capital adequacy ratio (CAR) BRI pada triwulan II 2026 tercatat 21,5 persen atau jauh di atas ketentuan.

"Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, permodalan, dan tentunya profitabilitas," kata Achmad.

Baca juga: BRI: Penyaluran KUR Rp103,8 triliun untuk dua juta debitur per Juni

Baca juga: BRI: Kredit UMKM Rp1.235,4 T per Juni, tetap dominan dalam portofolio

Baca juga: Laba bersih BRI naik 17,5 persen capai Rp31,2 T hingga TW-II 2026

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya