BMKG Pantau Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Warga Diimbau Waspada

4 jam yang lalu 2

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang teridentifikasi di sejumlah wilayah Indonesia. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan karena abu vulkanik dapat terbawa angin hingga jauh dari sumber erupsi.


Berdasarkan analisis BMKG melalui pencitraan satelit RGB Himawari-9, data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin pada Senin (7/9/2026) pukul 07.00 WIB, teridentifikasi dua klaster utama sebaran abu vulkanik di wilayah Indonesia.


Klaster pertama terpantau pada ketinggian dari permukaan hingga 15.000 kaki. Abu bergerak dari arah tenggara ke barat laut, dengan sebaran mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu, hingga Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu dan Banten.


Sementara itu, klaster kedua teridentifikasi pada ketinggian hingga 50.000 kaki. Sebarannya bergerak ke arah barat daya hingga barat, mencakup wilayah Samudra Hindia di sebelah barat-barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten, serta bergerak menjauhi daratan Indonesia.


Berpotensi Ganggu Kesehatan dan Transportasi

BMKG menegaskan abu vulkanik bukan sekadar asap biasa. Material tersebut terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus, yakni kurang dari dua milimeter, yang dihasilkan dari letusan eksplosif gunung api.


Karena berukuran sangat kecil, partikel abu vulkanik dapat terbawa angin hingga puluhan bahkan ratusan kilometer dari sumber erupsi.


Paparan abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan, antara lain menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, serta memicu batuk hingga sesak napas. Akumulasi abu juga dapat mengotori permukiman, kendaraan, dan fasilitas publik.


Di sektor transportasi, abu vulkanik berpotensi mengganggu perjalanan darat, laut, dan udara, terutama karena dapat mengurangi jarak pandang. Risiko paling serius juga dapat terjadi pada penerbangan.


Partikel kaca dan batuan tajam dalam abu vulkanik dapat meleleh ketika masuk ke mesin pesawat yang bersuhu tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kinerja mesin. Abu juga dapat mengikis permukaan kaca kokpit hingga mengurangi kejernihan pandangan serta mengganggu sistem penerbangan.


Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker dan kacamata pelindung ketika beraktivitas di luar rumah. Warga juga diminta mengurangi kegiatan di luar ruangan, terutama ketika terjadi hujan abu, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah.


Perlindungan ekstra perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan.


Masyarakat juga diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi spekulatif yang belum terverifikasi.


“Prakiraan cuaca 7-9 September 2026 didominasi cerah, dengan angin dari timur berkisar 29–33 km/jam,” demikian keterangan BMKG.

Baca Artikel Selengkapnya