BI tambah obligasi-sukuk PT SMI sebagai "underlying" operasi moneter

25 menit yang lalu 3
Efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada transmisi melalui pasar keuangan yang dalam, likuid, dan efisien

Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) memperluas jenis surat berharga yang dapat menjadi underlying dalam operasi moneter dengan menambahkan obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI.

Sebelumnya obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau PT SMF juga telah diterima sebagai underlying dalam transaksi repo. Dengan demikian, obligasi dan sukuk dari dua Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kini dapat menjadi underlying transaksi repo operasi moneter BI.

“Efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada transmisi melalui pasar keuangan yang dalam, likuid, dan efisien,” kata Gubernur BI Destry Damayanti sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

Hal tersebut merupakan salah satu upaya penguatan pelaksanaan kebijakan moneter melalui operasi moneter pro-market yaitu operasi moneter yang terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).

Baca juga: BI perluas underlying repo pekan depan, tahap awal pakai obligasi SMF

Destry menjelaskan sinyal kebijakan moneter perlu mengalir melalui PUVA agar dapat memengaruhi transaksi dan pembiayaan dunia usaha dan rumah tangga.

Melalui operasi moneter pro-market, BI tidak hanya mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan, yang kemudian mendukung kegiatan ekonomi di sektor riil.

Sejalan dengan pengembangan ekosistem pasar keuangan yang semakin terintegrasi, perluasan underlying ini diharapkan dapat terus berkembang, mendorong transaksi pasar sekunder, memperkuat pembentukan harga, dan pada akhirnya mendukung pembiayaan bagi sektor riil, termasuk perumahan dan infrastruktur.

Sementara itu Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga perekonomian Indonesia dan memperkuat kredibilitas kebijakan di mata investor.

“Kami di Kementerian Keuangan, bersama LPS dan Danantara selaku sovereign wealth fund, akan terus menjaga perekonomian Indonesia dan membangun kredibilitas kebijakan bagi seluruh investor, di manapun mereka berada,” kata Suahasil.

Baca juga: BI : Dua perusahaan akan terbitkan Surat Berharga Komersial tahun ini

Menurut catatan BI, lelang repo perdana dengan underlying obligasi dan sukuk korporasi PT SMI pada 28 September 2026 mencapai Rp60 miliar.

Sementara itu sejak diluncurkan pada 10 November 2025 hingga 30 September 2026, total transaksi repo operasi moneter dengan underlying obligasi dan sukuk korporasi PT SMF telah mencapai Rp1,25 triliun.

BI mencatat kebijakan ini juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas di pasar keuangan, tercermin dari peningkatan volume transaksi surat berharga PT SMF di pasar sekunder dari rata-rata Rp31,9 miliar per hari pada Oktober 2025 menjadi Rp179,9 miliar per hari pada akhir Agustus 2026.

Pada periode yang sama kepemilikan bank atas obligasi PT SMF meningkat 18 persen dari Rp8,69 triliun menjadi Rp10,22 triliun.

Menurut BI, perkembangan tersebut menunjukkan respons positif pasar yang perlu terus didorong untuk mendukung pendalaman pasar keuangan di Indonesia.

Baca juga: BI: Keuangan syariah lebih resilien terhadap gejolak ekonomi

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya