BI: Pengembangan talenta masa depan jadi agenda daya saing ekonomi

1 jam yang lalu 1
Pengembangan talenta yang siap menghadapi masa depan bukan hanya agenda pendidikan. Ini adalah agenda daya saing

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, pengembangan talenta yang siap menghadapi masa depan bukan sekadar agenda pendidikan, melainkan agenda daya saing ekonomi.

“Pengembangan talenta yang siap menghadapi masa depan bukan hanya agenda pendidikan. Ini adalah agenda daya saing,” kata Destry dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, transisi energi, transformasi digital, dan keuangan berkelanjutan memunculkan kebutuhan terhadap berbagai kemampuan baru, mulai dari insinyur dan spesialis data hingga tenaga yang memiliki keahlian di bidang kecerdasan artifisial (AI) serta risiko terkait iklim.

Kondisi tersebut membuat investasi pada keterampilan sumber daya manusia dan kapasitas kelembagaan semakin penting untuk menghadapi perubahan kebutuhan ekonomi.

Destry mengatakan, talenta menjadi unsur yang mengubah modal dan inovasi menjadi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Pada akhirnya, transisi yang berhasil dan berkeadilan tidak hanya bergantung pada modal dan teknologi, tetapi juga sangat bergantung pada talenta dan manusia,” ujar dia.

Kebutuhan penguatan sumber daya manusia tersebut menjadi relevan di tengah masih besarnya kesenjangan talenta digital Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada Februari 2026 memproyeksikan Indonesia membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital pada 2030, sedangkan kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaannya masih sekitar 3 juta orang.

Sebelumnya, Destry pada September 2026 juga menyebut sekitar 69 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif.

Menurut dia, bonus demografi tersebut perlu ditransformasikan menjadi “bonus kompetensi” melalui peningkatan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan perekonomian.

Dalam paparan di ISF, Destry mengatakan, pemerintah, otoritas, regulator, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan dunia usaha perlu bekerja sama untuk menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan industri masa depan.

BI, lanjut dia, turut berkontribusi melalui berbagai program pengembangan kapasitas, termasuk Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) yang menjadi wadah pengembangan inovasi, talenta, serta kolaborasi antara regulator, industri, akademisi, dan perusahaan rintisan.

Pada September 2026, BI juga menyelenggarakan Digital Talent Expo sebagai bagian dari rangkaian PIDI dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) 2026.

Program tersebut mempertemukan talenta digital dengan pelaku industri serta menjadi ruang untuk menampilkan inovasi yang diarahkan pada peningkatan produktivitas dan kebutuhan nyata perekonomian.

Destry menilai pembangunan ekonomi berkelanjutan membutuhkan tiga fondasi yang saling berkaitan, yakni modal, inovasi, dan manusia.

Menurut dia, penggabungan ketiga unsur tersebut dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, lebih hijau, inklusif, dan berdaya tahan.

Baca juga: Gubernur BI: Kredit Rp68,35 triliun mengalir guna biayai 115.000 rumah

Baca juga: Cadangan devisa RI per September 2026 sebesar 146,3 miliar dolar AS

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya