Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) meningkatkan insentif untuk instrumen swap beli lindung nilai konvensional kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment (FDI).
Insentif diberikan melalui pengurangan premi dari semula 12,5 persen untuk semua tenor menjadi sebesar 15 persen untuk tenor 3 bulan, 20 persen untuk tenor 6 bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan.
Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu, mengatakan kebijakan ini ditempuh untuk memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus mendukung upaya menjaga kecukupan likuiditas rupiah.
Selain swap, BI juga meningkatkan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan FDI.
Baca juga: BI-Rate kembali bertahan di level 5,75 persen pada RDG September
Insentif ini diberikan melalui pengurangan premi dari semula 15 persen menjadi sebesar 25 persen untuk tenor 6 bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan.
Destry menjelaskan, kebijakan insentif tersebut bertujuan membuat biaya hedging lebih menarik bagi investor asing ketika melakukan konversi ke rupiah, baik melalui swap maupun DNDF.
Ketika investor asing masuk ke Indonesia, mereka perlu melakukan konversi ke rupiah. Konversi tersebut dapat dilakukan melalui swap, yakni investor menjual dolar AS saat ini dan kemudian membelinya kembali berdasarkan suatu perjanjian. Sementara melalui DNDF, investor dapat melakukan penjualan dolar AS secara outright.
“Kita melihat pola-pola yang dilakukan oleh investor asing, mereka biasanya begitu. Dia masuk ke swap, kemudian dia dapat rupiah, kemudian belilah surat berharga kita, baik itu SBN, SRBI, dan bahkan kita perluas untuk inflow yang sifatnya pinjaman luar negeri,” kata Destry.
Baca juga: BI optimalkan seluruh instrumen moneter untuk perkuat rupiah
Ia mengatakan kebijakan tersebut dibutuhkan untuk menambah supply dolar AS yang pada akhirnya dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurutnya, semakin lama investor menempatkan dananya melalui swap maupun DNDF, maka semakin besar insentif yang diberikan. Untuk tenor hingga satu tahun, misalnya, BI memberikan insentif yang lebih besar sebagai bentuk pengurangan biaya hedging.
Destry menambahkan bahwa BI secara khusus ingin mendorong penggunaan DNDF karena transaksi tersebut memungkinkan investor menjual dolar AS sehingga menambah supply dolar AS di pasar. Oleh karena itu, insentif DNDF diberikan lebih besar dibandingkan swap.
“Jadi ini prinsip higher for longer. Makin dia longer taruh di kita, kita akan memberikan insentif yang juga lebih tinggi,” kata Destry.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·