Denpasar (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali mengantisipasi risiko inflasi akibat dinamika ekonomi, geopolitik, hari besar keagamaan dan pengaruh cuaca.
“Kami siapkan sinergi dan inovasi,” kata Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani di Denpasar, Rabu.
Ia menjelaskan bersama pemerintah provinsi dan sembilan/kabupaten kota di Bali, bank sentral itu fokus melakukan pasar murah, pemantauan harga secara berkala, termasuk pengawasan dan sidak pasokan elpiji bersubsidi.
Kemudian memfasilitasi distribusi pangan serta memaksimalkan kerja sama antar-daerah oleh perumda pangan, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi operasi pasar dan pasar murah kepada masyarakat.
Baca juga: TPID Bali gelar 66 pasar murah jelang Nyepi dan Idul Fitri 2026
Baca juga: BI-TIPD Bali awasi kecukupan stok pangan jelang Galungan
Menurut dia, beberapa risiko perlu diperhatikan yaitu tingginya
barang dan jasa pada periode hari besar keagamaan Galungan-Kuningan yang jatuh pada pertengahan Juni 2026, serta musim puncak kunjungan wisatawan nusantara (libur sekolah).
Selain itu, ketidakpastian cuaca yaitu peralihan musim hujan ke kemarau disertai potensi El Nino berupa gangguan cuaca dan risiko kekeringan pada beberapa sentra produksi pangan dapat mempengaruhi produksi pertanian.
Kemudian, berlanjutnya ketidakpastian global berpotensi mendorong kenaikan lanjutan harga bensin dan bahan bakar rumah tangga yang per 1 Juni 2026, terdapat kenaikan harga BBM nonsubsidi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat pada Mei 2026, Bali secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,42 persen yang lebih tinggi dari April mencapai 0,01 persen.
Berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Mei 2026 bersumber dari kenaikan harga beras, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, dan angkutan udara.
Sementara itu, inflasi di Bali secara tahunan meningkat dari 2,08 persen, pada April 2026 menjadi 2,99 persen.
“Meskipun inflasi meningkat, level inflasi masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 1,5-3,5 persen,” ucapnya.
Baca juga: Bapanas: Pemerintah konsisten sediakan akses pangan terjangkau
Baca juga: BI: Inflasi Mei 2026 terjaga berkat kebijakan dan sinergi
Baca juga: Konsumen perkirakan inflasi tetap tinggi usai lonjakan harga minyak
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·