BI antisipasi "higher for longer" dengan kenaikan bunga pada Mei-Juni

52 menit yang lalu 3
Apa yang kami lakukan sejak Mei dan Juni, kita mengantisipasi dengan kondisi ketidakpastian akan makin tinggi, bahwa akhirnya menaikkan suku bunga BI-Rate hingga 100 basis poin

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan bank sentral Indonesia telah mengantisipasi era suku bunga global yang tinggi atau higher for longer dengan menaikkan BI-Rate pada Mei-Juni 2026 sebesar 100 basis poin (bps) secara kumulatif.

Ia menekankan bahwa BI senantiasa menerapkan langkah pre-emptive dan forward looking dalam merumuskan kebijakan moneter.

“Apa yang kami lakukan sejak Mei dan Juni, kita mengantisipasi dengan kondisi ketidakpastian akan makin tinggi, bahwa akhirnya menaikkan suku bunga BI-Rate hingga 100 basis poin. Pertama, 50 bps. Kemudian 25 bps, dan akhirnya 25 bps juga di bulan Juni,” kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu.

Destry mengatakan langkah tersebut mencerminkan prioritas bank sentral Indonesia yang tetap mengedepankan stabilitas karena ketidakpastian global yang sangat tinggi.

Ia menambahkan bahwa ketidakpastian global tidak selamanya direspons dengan kenaikan suku bunga, sehingga BI memilih mengeluarkan kebijakan insentif biaya hedging bagi investor asing untuk menarik arus masuk modal asing dan mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Dengan kondisi higher for longer di Amerika, DXY naik, US yield naik, itu menyebabkan juga aset di Amerika lebih menarik dibandingkan dengan yang lain. Ini yang tentunya harus bisa kita counter. Caranya bagaimana? Kita mengenalkan yang namanya kebijakan insentif untuk biaya hedging,” jelas Destry.

Dalam RDG September 2026 ini, BI mengumumkan peningkatan insentif instrumen swap beli lindung nilai konvensional kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment (FDI) melalui pengurangan premi dari semula 12,5 persen untuk semua tenor menjadi sebesar 15 persen untuk tenor 3 bulan, 20 persen untuk tenor 6 bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan.

Baca juga: BI: Kredit bank pada Agustus 2026 tumbuh 13,65 persen

Baca juga: Gubernur BI: BI-Rate 5,75 persen saat ini cukup untuk jaga stabilitas

BI juga meningkatkan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan FDI melalui pengurangan premi dari semula 15 persen menjadi sebesar 25 persen untuk tenor 6 bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan.

Selain itu, BI melanjutkan pemberian insentif bagi transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra untuk diversifikasi transaksi valas berupa penambahan premi swap beli lindung nilai (swap jual lindung nilai kepada BI) sebesar 10 persen, serta pengurangan premi DNDF jual lindung nilai sebesar 10 persen.

Pada RDG September, BI memutuskan untuk kembali mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Suku bunga deposit facility dan lending facility juga tetap masing-masing 4,75 persen dan 6,5 persen.

Level ini dipertahankan BI sejak Juli 2026 setelah kenaikan tiga kali berturut-turut masing-masing sebesar 50 bps pada 20 Mei 2026, 25 bps pada 9 Juni 2026, dan 25 bps pada 18 Juni 2026.

Aliran investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 (hingga 21 September 2026) mengalami net inflows sebesar 0,4 miliar dolar AS, ditopang penerbitan global bond Pemerintah serta inflows pada Surat Berharga Negara (SBN).

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tetap terjaga sebesar 146,5 miliar dolar AS, setara pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menjadi Rp17.803 per dolar AS pada Rabu (23/9) sore, menguat sekitar 0,45 persen dibandingkan Selasa (22/9) yang berada pada level Rp17.883 per dolar AS.

Baca juga: Gubernur BI: Kami akan "all out" jaga stabilitas nilai tukar rupiah

Baca juga: Gubernur BI: Volume transaksi pembayaran digital tumbuh 40,36 persen

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya