Benarkah Tuhan Jahat karena Menciptakan Manusia dan Memberinya Ujian?

1 jam yang lalu 3

Media sosial kerap menjadi ruang terbuka bagi siapa pun untuk mengungkapkan keresahan. Termasuk belakangan ini, sebuah terdapat narasi serupa muncul di Threads dan menarik perhatian sebagian warganet.


Narasi itu berbunyi, “Kalo dipikir, konsep sifat dari Tuhan itu jahat ya. Memaksa melahirkan manusia yang ia ga pernah minta untuk dilahirkan, bahkan dipaksa ga bisa memilih kondisi seperti apa dilahirkan. Hidupnya dibuat menderita minta ampun di luar batas kemampuannya, tapi masih dipaksa disuruh nyembah-nyembah dia.”


Pertanyaan dan kegelisahan semacam ini sebenarnya bukanlah hal baru. Keraguan atau protes terhadap takdir Ilahi kerap kali menyeruak di benak seseorang, terutama ketika mereka berhadapan dengan realitas hidup yang teramat berat, tidak sesuai harapan, atau dipenuhi oleh penderitaan yang tampak di luar batas kemampuan menanggung.


Allah Menciptakan Sesuatu atas Kehendaknya Sendiri

Narasi seperti di atas sering kali muncul karena berangkat dari asumsi bahwa keberadaan manusia di dunia harus didasarkan pada persetujuan atau permintaan manusia itu sendiri. Padahal, dalam teologi Islam, Allah adalah Sang Pencipta Mutlak (Al-Khaliq) yang memiliki kekuasaan penuh atas seluruh ciptaan-Nya. 


Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik-Nya, dan Pencipta tidak memerlukan izin dari ciptaan untuk mewujudkannya. Allah berkehendak dan bertindak berdasarkan kebijaksanaan-Nya sendiri tanpa ada tekanan atau batasan dari luar.


Dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman:


وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ


Artinya, "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha-Suci Allah dan Maha-Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)." (QS. Al-Qashash: 68)


Dalam teologi Islam, Allah memiliki sifat jaiz yakni bahwa Allah berkuasa melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Artinya Allah tidak wajib melakukan sesuatu yang dianggap ideal menurut ukuran manusia. 


Jika Allah diwajibkan untuk menuruti standar manusia, seperti harus meminta izin sebelum menciptakan atau tidak boleh memberi beban penderitaan, maka secara teologis, Allah tidak lagi memiliki kehendak mutlak. Dzat yang wajib tunduk pada aturan atau standar di luar diri-Nya berarti diatur oleh hal lain, dan hal itu mustahil bagi Tuhan.


Mengenai prinsip ini, Syekh Ibrahim Al-Baijuri memberi penjelasan yang sangat jernih dalam kitabnya:


ليس عليه تعالى واجب من فعل أو ترك, لأأنه تعالى فاعل بالإختيار, ولو وجب عليه فعل أو ترك لما كان مختارا, لأن المختار هو الذي إن شاء فعل وإن شاء ترك


Artinya, “Tidak ada kewajiban bagi Allah Ta’ala untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu karena Ia adalah Dzat yang bertindak dengan pilihan bebas. Apabila Ia wajib melakukan atau meninggalkan sesuatu, maka kita tidaklah pelaku yang bebas memilih, karena pelaku yang bebas memilih adalah ia yang melakukan sesuatu jika ia mau dan meninggalkannya jika ia mau.” (Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid Syarah Jauharatut Tauhid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1424 H/2004 M], halaman 123).


Untuk memahaminya secara sederhana, bayangkan seorang pelukis yang menuangkan ide pada kanvasnya. Apakah pelukis wajib meminta izin kepada kuas, cat, atau kanvas sebelum ia mulai melukis? Apakah kanvas berhak memprotes warna apa yang dioleskan di atasnya? Tentu tidak. Sebab kanvas dan cat berada penuh di bawah kendali sang pelukis. 


Memahami Setiap Ujian di Dunia

Selanjutnya, keberadaan penderitaan, kesusahan, atau takdir yang tidak sesuai harapan di dunia sering dialamatkan sebagai bukti bahwa Tuhan jahat. Anggapan ini sering kali lahir dari pemahaman yang keliru tentang penderitaan dah fungsi dunia itu sendiri. 


Dunia tidak diciptakan sebagai tempat pembalasan atau surga yang sempurna tanpa cela, melainkan sebagai tempat ujian. Kesusahan bukanlah tanda kejahatan atau kebencian Tuhan, melainkan sarana untuk menguji kualitas iman, kesabaran, dan kedewasaan spiritual hamba-Nya.


Dalam Al-Qur'an disebutkan:


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ


Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)


Di balik setiap ujian dan penderitaan yang dirasakan, selalu ada hikmah mendalam yang terkadang tidak mampu dicerna oleh akal manusia yang terbatas dan fana. Kita kerap melihat ujian hanya pada saat rasa sakit itu hadir tanpa melihat gambaran besar yang dirancang oleh Sang Maha Bijaksana.


Lagipula, jika kita mau menghitung, penderitaan yang kita alami sebenarnya hanyalah porsi kecil jika dibandingkan dengan nikmat dan anugerah yang terus-menerus Allah limpahkan setiap detik. Sering kali manusia terjebak pada satu atau dua penderitaan, lalu melupakan ribuan nikmat lain yang berjalan tanpa henti. 


Misalnya nikmat bernapas secara gratis, detak jantung yang berfungsi otomatis, hingga pancaindra yang bekerja sempurna, semuanya adalah nikmat mendasar yang darinya melahirkan nikmat-nikmat lainnya.


Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:


وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ


Artinya, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS An-Nahl:18)


Ayat tersebut mengingatkan manusia tentang banyaknya nikmat Allah yang tidak mungkin dihitung seluruhnya. Akan tetapi, mengakui nikmat tidak berarti meniadakan penderitaan. Seseorang tetap bersyukur atas nikmat yang dimilikinya sekaligus bersabar atas kesusahan yang diberikan kepadanya. Allah menjanjikan limpahan nikmat bagi hambanya yang bersyukur dan menjanjikan balasan bagi hambanya yang bersabar.


Oleh karena itu, anggapan bahwa Tuhan jahat karena menciptakan manusia tanpa meminta persetujuannya atau karena membiarkan manusia mengalami penderitaan tidak sejalan dengan kerangka teologi Islam. Allah memiliki kehendak mutlak, sedangkan kehidupan dunia mengandung ujian yang hikmahnya tidak selalu dapat dijangkau oleh akal manusia.


Keyakinan tersebut bukan berarti sebagai manusia kota harus menutup mata terhadap penderitaan. Sebaliknya, kota tetap berkewajiban untuk berikhtiar, saling menolong, dan mengurangi kesusahan sesama. Waallahu a’lam.


Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.
 

Baca Artikel Selengkapnya