Benarkah Gunung Bergerak? Tafsir Surat An-Naml Ayat 88 tentang Kiamat dan Rotasi Bumi

38 menit yang lalu 1

Persepsi visual manusia sering kali terbatas dan menipu. Sepanjang sejarah peradaban, gunung yang menjulang tinggi ke angkasa selalu dijadikan simbol keabadian dan ketidakgoyahan di muka bumi. Ia berdiri megah layaknya pasak yang seolah tidak akan pernah bergeming oleh sapuan angin maupun pergeseran zaman.


Namun, jauh sebelum lahirnya teori pergerakan bumi, Al-Qur'an telah membongkar ilusi visual yang dibuat manusia tersebut. Melalui Surat An-Naml ayat 88, Allah swt menegaskan bahwa gunung-gunung yang disangka membeku sejatinya sedang berjalan laksana pergerakan awan. Fenomena ini merupakan wujud nyata dari kekuasaan Allah, yang melampaui batas nalar dan jangkauan penglihatan manusia.


Mari sejenak kita tadabburi firman Allah ta'ala dalam Surat An-Naml ayat 88 berikut:


وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ


Artinya: "Dan engkau melihat gunung-gunung itu, engkau sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS An-Naml: 88).


Secara susunan lafaz, ayat ke-88 ini terletak tepat setelah ayat yang menjelaskan tentang dahsyatnya tiupan sangkakala pada hari kiamat. Keterkaitan letak ayat inilah yang kemudian melahirkan dinamika penafsiran yang sangat kaya di antara para ulama mufasir, baik dari kalangan klasik maupun kontemporer.


Pandangan Mufasir Klasik: Peristiwa Hari Kiamat

Mayoritas ulama menafsirkan pergerakan gunung dalam ayat ini sebagai rentetan peristiwa eskatologis, yakni kehancuran alam semesta di Hari Kiamat. Imam Ibnu Katsir mengaitkan ayat ini dengan ketiadaan kestabilan alam saat kiamat tiba. Gunung-gunung yang tadinya menjadi pasak bumi akan dicabut dan diterbangkan di udara bagaikan awan yang ditiup angin. Simak penjelasan Ibnu Katsir berikut:


أَيْ تَرَاهَا كَأَنَّهَا ثَابِتَةٌ بَاقِيَةٌ عَلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ، وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ أَيْ تَزُولُ عَنْ أَمَاكِنِهَا


Artinya: "Maksudnya engkau melihatnya seakan-akan ia tetap dan bertahan pada kondisinya semula, padahal ia berjalan bagaikan berjalannya awan, yakni bergeser lenyap dari tempat-tempatnya." (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, [Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, 1998 M], juz VI, hlm. 195-196).


Untuk memperkuat pandangan bahwa peristiwa ini terjadi pada hari kiamat, Ibnu Katsir menyandingkan ayat ini dengan ayat-ayat eskatologis lainnya, seperti firman Allah dalam QS At-Thur: 9-10, QS Thaha: 105-107, serta QS Al-Kahf: 47.


Demikian pula Imam Al-Qurthubi, dalam mendukung penafsiran di atas mengenai lafaz tahsabuha jamidatan. Ia mengutip Ibnu Abbas dan Al-Qutaibi, bahwa peristiwa ini merupakan fenomena ilusi optik akibat wujud gunung yang begitu raksasa. Manusia dari kejauhan melihatnya seperti benda utuh yang diam tegak, padahal sejatinya gunung tersebut sedang bergerak dengan sangat cepat.


قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: أَيْ قَائِمَةً وَهِيَ تَسِيرُ سَيْراً حَثِيثاً. وَقَالَ الْقُتَبِيُّ: وَذَلِكَ أَنَّ الْجِبَالَ تُجْمَعُ وَتُسَيَّرُ، فَهِيَ فِي رُؤْيَةِ الْعَيْنِ كَالْقَائِمَةِ وَهِيَ تَسِيرُ، وَكَذَلِكَ كُلُّ شَيْءٍ عَظِيمٍ وَجَمْعٌ كَثِيرٌ يَقْصُرُ عَنْهُ النَّظَرُ، لِكَثْرَتِهِ وَبُعْدِ مَا بَيْنَ أَطْرَافِهِ، وَهُوَ فِي حُسْبَانِ النَّاظِرِ كَالْوَاقِفِ وَهُوَ يَسِيرُ


Artinya: "Ibnu Abbas berkata: 'Maksudnya, ia seakan berdiri tegak, padahal ia berjalan dengan sangat cepat.' Al-Qutaibi berkata: 'Hal itu karena gunung-gunung dikumpulkan dan dijalankan. Maka dalam pandangan mata, ia terlihat seperti berdiri tegak, padahal sejatinya ia berjalan. Demikianlah sifat dari setiap sesuatu yang berukuran raksasa dan kumpulan yang teramat banyak, yang mana pandangan mata tidak mampu menjangkaunya secara utuh karena saking banyaknya dan begitu jauh jarak antar ujung-ujungnya. Maka dalam perkiraan orang yang melihat, ia disangka berhenti padahal ia sedang berjalan.'" (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, [Kairo: Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah, 1964 M], juz XIII, hlm. 242).


Sementara itu, Imam Fakhruddin Ar-Razi memberikan penjelasan lain, bahwa objek yang sangat besar, jika bergerak secara seragam pada satu lintasan, akan menipu mata seolah-olah ia tidak bergerak sama sekali. Di sisi lain, Ia menekankan lafaz Shun'allah, membuktikan ketepatan dan hikmah mendalam di balik kehancuran alam semesta kelak. Ia menuturkan:


اِعْلَمْ أَنَّ هَذَا هُوَ الْعَلَامَةُ الثَّالِثَةُ لِقِيَامِ الْقِيَامَةِ وَهِيَ تَسْيِيرُ الْجِبَالِ، وَالْوَجْهُ فِي حُسْبَانِهِمْ أَنَّهَا جَامِدَةٌ فَلِأَنَّ الْأَجْسَامَ الْكِبَارَ إِذَا تَحَرَّكَتْ حَرَكَةً سَرِيعَةً عَلَى نَهْجٍ وَاحِدٍ فِي السَّمْتِ وَالْكَيْفِيَّةِ ظَنَّ النَّاظِرُ إِلَيْهَا أَنَّهَا وَاقِفَةٌ مَعَ أَنَّهَا تَمُرُّ مَرًّا حَثِيثًا. وَالْمَعْنَى أَنَّهُ لَمَّا قَدَّمَ ذِكْرَ هَذِهِ الْأُمُورِ الَّتِي لَا يَقْدِرُ عَلَيْهَا سِوَاهُ جَعَلَ هَذَا الصُّنْعَ مِنْ جُمْلَةِ الْأَشْيَاءِ الَّتِي أَتْقَنَهَا وَأَتَى بِهَا عَلَى الْحِكْمَةِ وَالصَّوَابِ


Artinya: "Ketahuilah bahwa ini adalah tanda ketiga dari terjadinya kiamat, yaitu pergerakan gunung-gunung. Adapun alasan mengapa mereka menyangkanya diam membeku, karena sesungguhnya benda-benda fisik berukuran raksasa, apabila bergerak dengan gerakan yang cepat pada satu arah dan karakteristik yang sama, maka orang yang melihatnya akan mengira bahwa benda itu berdiri diam, padahal sejatinya ia berjalan dengan sangat cepat.

Maknanya, setelah Allah mendahulukan penyebutan perkara-perkara ini, yang mana tidak ada satupun yang mampu melakukannya selain Dia, maka Dia menjadikan perbuatan ini sebagai bagian dari hal-hal yang Dia ciptakan dengan sempurna dan Dia datangkan dengan penuh hikmah serta ketepatan." (Mafatih al-Ghaib, [Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H], juz XXIV, hlm. 574).


Tafsir Kontemporer: Keajaiban Rotasi Bumi

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, para ulama kontemporer memberikan pisau analisis baru tanpa menafikan penafsiran pendahulunya. Kritik halus yang diajukan bersumber dari penghujung ayat itu sendiri, yaitu: Shun'allahilladzi atqana kulla syai, yang berarti ciptaan Allah yang membuat dengan kukuh tiap-tiap sesuatu.


Lafaz atqana mengindikasikan ketelitian, kesempurnaan rancangan, dan keteraturan. Jika ayat ini murni menceritakan kehancuran kiamat, mengapa Allah menggunakan kata sifat yang merujuk pada kesempurnaan ciptaan? Karakteristik itqan ini dinilai lebih tepat untuk menggambarkan keharmonisan alam semesta yang sedang berjalan saat ini.


Tanthawi Jauhari, salah satu perintis tafsir ilmi (penafsiran berbasis sains), menjelaskan bagaimana susunan ayat ini merupakan bukti keajaiban Al-Qur'an yang mampu melintasi zaman. Lafaz tahsabuha menegaskan rotasi bumi yang mengelilingi matahari, dan menyoroti kontras antara kesempurnaan ciptaan dengan kehancuran kiamat. Ia mengatakan:

أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ بَدِيعَةُ الْوَضْعِ مُحْكَمَةُ الصُّنْعِ، فَإِنَّ التَّفْسِيرَ يُنَاسِبُ الْمُتَقَدِّمِينَ مِنَ الْأُمَّةِ الْإِسْلَامِيَّةِ، وَإِذَا فُسِّرَتْ بِأَنَّ الْأَرْضَ دَائِرَةٌ حَوْلَ الشَّمْسِ وَالْجِبَالَ بِالطَّبْعِ سَائِرَةٌ مَعَهَا وَنَرَاهَا الْآنَ جَامِدَةً وَهِيَ فِي الْحَقِيقَةِ جَارِيَةٌ جَرْيًا سَرِيعًا جِدًّا، فَإِنَّ ذَلِكَ يُنَاسِبُ قَوْلَهُ (صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ). فَهَذَا هُوَ الْإِتْقَانُ، وَإِلَّا فَالْقِيَامَةُ تَخْرِيبٌ لِلْعَالَمِ، وَالْإِتْقَانُ يُنَاسِبُ هَذَا التَّفْسِيرَ


Artinya: "Bahwa ayat ini sangat indah penempatannya dan sangat kokoh susunannya. Sungguh, tafsir klasik tentang hari kiamat sangat sesuai bagi generasi terdahulu dari umat Islam. Namun, jika ia ditafsirkan bahwa bumi itu berputar mengelilingi matahari dan gunung-gunung secara otomatis berjalan bersamanya, sementara kita melihatnya saat ini diam, padahal kenyataannya ia berjalan dengan sangat cepat, maka tafsir itu sangat sesuai dengan firman-Nya:

Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Inilah yang disebut kokoh atau sempurna. Sebab jika tidak, hari kiamat adalah momen kehancuran bagi alam semesta, sedangkan sifat kesempurnaan ciptaan lebih sesuai dengan tafsir (sains) ini." (Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an Al-Karim, [Mesir: Mustafa al-Babil Halabi, 1350 H], juz XIII, hlm. 253).


Gagasan ini diperkuat oleh Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah. Ia merujuk pada pemikiran Ibnu 'Asyur, dalam menganalisis kata shun'a dalam ayat tersebut. Dalam bahasa Arab, kata shun'a digunakan secara khusus untuk menggambarkan sebuah karya atau perbuatan yang dilakukan secara amat baik dan sempurna oleh sosok yang memiliki kemahiran tinggi.


Penghancuran gunung di hari kiamat tidak memerlukan keahlian atau kesempurnaan susunan semacam ini. Sebaliknya, jika dikaitkan dengan kiamat, Al-Qur'an biasanya menggunakan tamsil kehancuran yang kacau balau, seperti dalam firman-Nya:


وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ


Artinya: "Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan." (QS Al-Qari'ah: 5).


Quraish Shihab juga menggarisbawahi kehalusan gaya bahasa Al-Qur'an pada lafaz pembuka: wa tara, yang berarti dan engkau melihat. Ayat ini menggunakan kata ganti tunggal yang ditujukan secara spesifik kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Berbeda dengan ayat lain yang sering kali berbunyi: Apakah mereka tidak memperhatikan, ayat ini seolah menjadi wahyu saintifik yang dirahasiakan maknanya untuk Nabi saat itu. (Al-Misbah, [Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2002], juz VII, hlm. 287)


Pemahaman hakikatnya bagi umat manusia sengaja ditangguhkan oleh Allah hingga kemajuan sains dan teknologi mampu menyingkap kebenarannya. Lahirnya Teori Lempeng Tektonik membuktikan bahwa lapisan terluar bumi atau litosfer terpecah menjadi banyak segmen lempeng yang terus-menerus bergerak dan berubah bentuk. Sebagaimana diuraikan oleh pakar geologi Kent C. Condie, benua dan daratan di atas lempeng tersebut benar-benar bergeser dengan kecepatan rata-rata beberapa sentimeter setiap tahunnya. (lihat: Plate Tectonics and Crustal Evolution, [Oxford: Butterworth-Heinemann, 1997 M], hlm. 1 dan 15)


Di sisi lain, pergerakan dinamis ini diimbangi oleh struktur geologis yang diungkapkan oleh Maurice Bucaille dalam The Bible, the Qur'an and Science, di mana fenomena lipatan kerak bumi menghasilkan akar pegunungan di kedalaman tanah yang berfungsi sebagai pasak untuk memberikan stabilitas mekanis pada kerak bumi tersebut. Pergerakan daratan ini sangat halus dan konstan, persis seperti pergerakan awan di langit yang tidak terasa oleh pengamat di bawahnya. (lihat: The Bible, the Qur'an and Science, [New York: Tarike Tarsile Qur’an, 1982], hlm. 190)


Dari penjelasan di atas, baik di alam dunia saat ini melalui mekanisme pergerakan lempeng bumi, maupun kelak di Hari Kiamat melalui peristiwa kehancuran yang mencabut pasak-pasak bumi, entitas raksasa bernama gunung senantiasa tunduk dan patuh pada perintah pencipta-Nya.


Jika gunung yang strukturnya terdiri dari bebatuan raksasa dan sangat berat saja terus bergerak merendahkan diri tunduk pada kehendak Allah, maka sangatlah tidak pantas bagi manusia, makhluk rapuh yang diciptakan dari tanah, untuk bersikap angkuh dan enggan tunduk pada syariat-Nya.


Fenomena ini menuntut kita untuk terus bertafakur, bahwa di balik segala sesuatu yang tampak diam dan mapan di mata manusia, terdapat kekuasaan Allah yang senantiasa bekerja tanpa batas. Wallahu a'lam bish-shawab.


Ustadz Agung Nugroho Reformis Santono, Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta dan Dosen FKIP Universitas Terbuka Jakarta.

Baca Artikel Selengkapnya