Bank Permata prediksi ekonomi RI sepanjang 2026 tumbuh 5,26 persen

8 jam yang lalu 5

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Bank Permata memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 akan berada pada level 5,26 persen (year-on-year/yoy).

"Kami memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia tetap tangguh di kisaran 5,26 persen pada 2026, dibandingkan 5,11 persen pada 2025," kata Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Permintaan domestik yang kuat dan kebijakan fiskal ekspansif diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan.

Kebijakan pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi di tengah tingginya harga energi global dinilai membantu menjaga inflasi serta daya beli masyarakat. Namun, strategi tersebut diperkirakan hanya dapat dipertahankan dalam jangka pendek karena berpotensi mempersempit ruang fiskal.

Menurutnya, pemerintah perlu menyeimbangkan agenda propertumbuhan dengan kebutuhan menjaga bantalan fiskal untuk menghadapi guncangan eksternal.

Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat secara bertahap pada kuartal III dan IV 2026, tetapi tetap berada di atas 5 persen secara tahunan (yoy).

Dari sisi eksternal, ketidakpastian global masih menjadi risiko utama. Perang dagang, ketegangan geopolitik, dan lemahnya pemulihan ekonomi China berpotensi menekan perdagangan serta permintaan terhadap ekspor Indonesia.

Pada saat yang sama, impor diperkirakan terus meningkat sejalan dengan kuatnya permintaan domestik. Kondisi tersebut dapat memperkecil kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi.

Tekanan eksternal juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal. Dampaknya dapat berupa meningkatnya arus keluar modal, memburuknya sentimen investor, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Pertumbuhan ekonomi berpeluang melampaui proyeksi apabila tekanan eksternal mereda dan reformasi struktural mampu menarik lebih banyak investasi swasta. Sebaliknya, pertumbuhan dapat lebih rendah apabila keseimbangan antara stimulus ekonomi dan stabilitas makroekonomi tidak terjaga.

Dalam kondisi tersebut, ekonom Bank Permata melihat peluang Bank Indonesia mengambil kebijakan lebih ketat, termasuk menaikkan BI-Rate untuk menjaga stabilitas.

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya